
Ketertarikan investor terhadap sektor properti kembali mencuat dengan lonjakan signifikan dalam penawaran umum perdana (IPO) PT Capri Nusa Satu Property Tbk (CPRI). Perusahaan pengembang properti tersebut mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 83 kali dari porsi pooling saham yang ditawarkan dalam masa penawaran umum perdananya. Fenomena ini menunjukkan tingginya kepercayaan pasar terhadap prospek bisnis properti, khususnya yang berfokus pada pengembangan destinasi wisata dan komersial.
Dalam IPO yang berlangsung dari 29 Maret hingga 4 April 2019, CPRI menawarkan 683,37 juta lembar saham kepada publik, yang setara dengan 28,08% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan. Dengan harga penawaran Rp125 per saham, perusahaan berhasil meraup dana segar sebesar Rp85,42 miliar. UOB Kay Hian Sekuritas bertindak sebagai penjamin emisi pelaksana efek dalam aksi korporasi ini.
Direktur Utama PT Capri Nusa Satu Property, Jansen Surbakti, mengungkapkan bahwa dana yang diperoleh dari IPO akan dimanfaatkan untuk mendanai penyelesaian proyek pusat konvensi dan perkantoran di Jatiwaringin, Jakarta Timur, serta pembangunan resor dan spa berstandar internasional di Nusa Penida, Bali. Nusa Penida, yang dikenal sebagai alternatif destinasi wisata di Bali, menjadi fokus utama pengembangan resor dan beach club perusahaan.
Meskipun realisasi dana IPO tercatat di bawah target awal perseroan yang membidik Rp100 miliar hingga Rp150 miliar, antusiasme investor yang luar biasa mencerminkan optimisme terhadap model bisnis CPRI. Perusahaan ini dikenal sebagai pionir beach club dan resor di Nusa Penida. CPRI menargetkan pendapatan sebesar Rp25 miliar pada tahun 2019, yang akan didukung oleh bisnis resor, beach club, serta sewa perkantoran. Pencatatan saham CPRI di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan pada 11 April 2019, menjadikannya emiten kesembilan yang melantai di BEI pada tahun tersebut.