
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tengah gencar melakukan upaya pemulihan layanan transportasi yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Sumatera, khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana alam yang melanda sejak beberapa hari terakhir di akhir November 2025 ini telah mengganggu operasional sejumlah infrastruktur penting, termasuk pelabuhan dan terminal, yang berdampak pada mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.
Di Provinsi Aceh, beberapa fasilitas transportasi tercatat terdampak banjir. Pelabuhan Lhokseumawe, meskipun tetap dapat beroperasi, namun akses jalan menuju pelabuhan masih dalam perbaikan. Pelabuhan Penyeberangan Singkil juga dilaporkan terdampak oleh bencana banjir. Gangguan lebih signifikan terjadi pada sektor transportasi darat, di mana Terminal Tipe A Lhokseumawe dan Terminal Tipe A Langsa dinyatakan lumpuh total akibat terputusnya jaringan komunikasi. Selain itu, jaringan jalur kereta api lintas Stasiun Krueng Geukueh – Stasiun Bungkaih – Stasiun Krueng Mane juga terdampak banjir. Meskipun bandara-bandara di Aceh seperti Bandara Rembele Takengon dan Bandara Malikussaleh masih beroperasi normal, akses jalan menuju kedua bandara tersebut terhambat oleh banjir dan longsor di sejumlah titik.
Sementara itu, Sumatera Utara mengalami dampak yang cukup luas pada infrastruktur transportasinya. Pelabuhan Sibolga dilaporkan ditutup total, sehingga tidak ada kapal yang beroperasi. Beberapa terminal bus juga mengalami gangguan serius. Terminal Tipe A Amplas terendam banjir dan mengalami kerusakan, menyebabkan tidak dapat beroperasi. Terminal Tipe A Pinang Baris saat ini difungsikan sebagai tempat pengungsian dan juga tidak bisa beroperasi. Selanjutnya, Terminal Tipe A Sibolga mengalami gangguan komunikasi yang menyebabkannya tidak dapat beroperasi, sementara Terminal Tipe A Tarutung terisolasi karena akses jalan yang terputus. Meskipun bandara di wilayah Sumatera Utara umumnya beroperasi normal, akses jalan menuju Bandar Udara DR. F.L. Tobing di Sibolga terhambat oleh banjir atau longsor. PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo juga telah menyiapkan area kantor di Medan dan Belawan sebagai posko pengungsian bagi warga terdampak bencana di Sumatera Utara, sekaligus mendirikan dapur umum untuk menyediakan makanan bagi pengungsi.
Untuk wilayah Sumatera Barat, dampak bencana terhadap infrastruktur transportasi dilaporkan relatif minim. Kementerian Perhubungan memastikan operasional Pelabuhan Teluk Bayur, Bandara Minangkabau, dan sejumlah terminal di provinsi tersebut tetap berjalan kondusif. Namun demikian, bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera Barat, khususnya di Agam, telah menyebabkan korban jiwa dan banyak yang hilang.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan bahwa Kemenhub terus berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait untuk mempercepat pemulihan layanan transportasi dengan tetap mengutamakan keselamatan. Identifikasi kerusakan infrastruktur terus dilakukan untuk menyesuaikan langkah pemulihan dan memastikan pelayanan dapat berjalan dengan baik secepatnya.