
Indonesia tengah secara aktif menjajaki pengembangan pembangkit listrik berbasis kecerdasan buatan (AI) sebagai langkah strategis dalam mempercepat digitalisasi sektor ketenagalistrikan dan mendukung transisi energi nasional. Upaya konkret terbaru terlihat dari penandatanganan Joint Study Agreement (JSA) antara PLN Indonesia Power (PLN IP) dan Huawei.
Kolaborasi ini berfokus pada pemanfaatan AI untuk inspeksi cerdas, digitalisasi sistem Kesehatan, Keselamatan, Keamanan, dan Lingkungan (HSSE), serta penguatan keamanan siber di fasilitas pembangkit listrik. Studi bersama ini akan dilakukan di PLTU Banten 3 Lontar, yang ditunjuk sebagai lokasi uji kelayakan penerapan teknologi digital berbasis AI. Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, menyatakan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem pembangkit yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat daya saing industri ketenagalistrikan Indonesia di era digital.
Jejak penjajakan teknologi AI di sektor energi Indonesia sebenarnya telah dimulai beberapa tahun lalu. Pada November 2020, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif telah menekankan pentingnya pengembangan AI, khususnya dalam teknologi smart grid dan pemantauan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) secara otomatis. Menurut Arifin, penerapan AI dalam industri dan bangunan berpotensi menghemat energi rata-rata 15-20%, serta mendukung proses operasi dan pemeliharaan yang lebih baik.
Teknologi smart grid, yang mencakup informasi modern dan teknologi komunikasi mutakhir, menjadi salah satu aplikasi menonjol dari AI di sektor energi. Sistem ini mampu meningkatkan kualitas jaringan listrik agar lebih efisien, andal, dan mampu mengintegrasikan energi terbarukan dengan lebih baik. Penerapan smart grid telah terealisasi di Sumbawa Barat, Bali, dan Nusa Tenggara Timur, dan akan diaplikasikan di sistem ketenagalistrikan Jawa-Bali. Lebih lanjut, AI membantu mengoptimalkan kinerja pembangkit listrik terbarukan dengan menganalisis data secara cepat dan akurat, memungkinkan adaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan, serta memprediksi pasokan dan permintaan energi.
Manfaat implementasi AI dalam pembangkit listrik sangat beragam, mulai dari peningkatan efisiensi operasional, keandalan sistem, hingga peningkatan keselamatan kerja melalui pemantauan peralatan yang lebih presisi dan respons cepat terhadap potensi gangguan. AI juga berperan dalam manajemen energi berbasis perilaku pengguna, memberikan rekomendasi konsumsi listrik harian, dan memperingatkan saat penggunaan melonjak.
Namun, pengembangan ini tidak lepas dari tantangan. Kebutuhan akan infrastruktur teknologi yang memadai, termasuk sensor, jaringan data, dan fasilitas komputasi awan yang kuat, menjadi prasyarat. Selain itu, pengembangan algoritma AI yang mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan serta isu keamanan siber dalam sistem kelistrikan digital juga menjadi perhatian utama yang membutuhkan pendekatan holistik.
Seiring dengan minat investasi pembangunan pusat data berbasis AI di Indonesia, yang membutuhkan pasokan listrik besar, PLN juga tengah mengoptimalkan penyediaan energi. Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi bahkan mengungkapkan rencana Indonesia untuk membangun pusat AI, yang memerlukan daya listrik signifikan, sebagian besar diharapkan berasal dari energi baru terbarukan. Dengan dukungan teknologi AI, Indonesia bergerak menuju sistem energi yang lebih cerdas, tangguh, dan hijau, beralih dari pendekatan reaktif menjadi prediktif dalam manajemen energi.