:strip_icc()/kly-media-production/medias/24133/original/bluebird-taksi-130916b.jpg)
PT Blue Bird Tbk (BIRD) secara resmi memperluas jangkauan bisnisnya dengan meluncurkan layanan taksi di Kota Solo, Jawa Tengah, pada Jumat, 28 November 2025. Ekspansi ini menjadikan Solo sebagai kota ke-21 bagi operasional Blue Bird di Indonesia dan kota kedua di Jawa Tengah setelah Semarang. Langkah strategis ini diharapkan akan memberikan kontribusi positif terhadap kinerja perusahaan di masa mendatang.
Direktur Utama Blue Bird, Adrianto Djokosoetono, menyatakan bahwa ekspansi ke Solo merupakan langkah penting dalam strategi pertumbuhan regional perusahaan. Pemilihan Solo didasari oleh pertumbuhan ekonomi yang positif serta karakter mobilitas kota yang dinamis sebagai destinasi budaya, bisnis, dan wisata yang terus berkembang. Pemerintah Kota Surakarta menargetkan 3,675 juta kunjungan wisatawan pada tahun 2025, meningkat sekitar 5 persen dari estimasi tahun sebelumnya, yang menunjukkan tingginya kebutuhan akan moda transportasi jarak pendek-menengah yang andal.
Dalam ekspansinya ke Solo, Blue Bird mengadopsi model kemitraan "Kawan Bluebird" dengan menggandeng Koperasi Sopir Transportasi Indonesia (Kosti) Solo sebagai mitra lokal. Kolaborasi ini bertujuan untuk memadukan standardisasi operasional Blue Bird dengan kekuatan ekosistem transportasi lokal Kosti, memberdayakan pengemudi lokal melalui pelatihan layanan, pendampingan operasional, dan penerapan standar kualitas Blue Bird. Pada tahap awal, Blue Bird menargetkan pengoperasian 50 unit armada taksi hingga akhir tahun 2025, dengan rencana penambahan bertahap hingga 100 unit pada tahun 2026. Selain taksi reguler, Blue Bird Group juga telah menghadirkan layanan Goldenbird (rental mobil) dan Cititrans (shuttle antarkota) di Solo.
Dari perspektif saham, PT Blue Bird Tbk (BIRD) menunjukkan kinerja finansial yang solid. Perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp 4,12 triliun hingga kuartal III 2025, meningkat 12,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih juga tumbuh 10,5 persen menjadi Rp 488 miliar, sementara EBITDA naik 13,6 persen mencapai Rp 996,6 miliar. Peningkatan ini mencerminkan efektivitas strategi Blue Bird dalam memperluas kanal layanan, meremajakan armada, serta memperkuat efisiensi dan pengalaman pelanggan.
Samuel Sekuritas, dalam risetnya pada November 2025, mempertahankan rekomendasi "BUY" untuk saham BIRD dengan target harga Rp 2.900, mencerminkan potensi kenaikan hampir 65 persen dari level saat itu. Prospek positif ini didukung oleh upaya Blue Bird untuk mengejar pertumbuhan kinerja dua digit hingga akhir tahun 2025. Strategi perusahaan juga mencakup penguatan ekspansi di segmen non-taksi yang menawarkan margin lebih tinggi, dengan proyeksi pendapatan dari segmen ini melonjak 29,9 persen secara tahunan hingga mencapai Rp 1,99 triliun pada tahun 2025, atau sekitar 32 persen dari total pendapatan perseroan. Sebelumnya, di Semarang, Blue Bird telah sukses memperkuat layanannya dengan pertumbuhan pelanggan hingga 36 persen dan penambahan armada hampir 28 persen sepanjang tahun 2025. Adopsi aplikasi MyBluebird di Semarang juga meningkat lebih dari 45 persen, dengan pemesanan melalui aplikasi naik 38 persen dari tahun sebelumnya.