Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

61.000 Bitcoin Disita Inggris: Skandal Pencucian Uang Terbesar Berujung Vonis Penjara

2025-11-30 | 02:29 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-29T19:29:34Z
Ruang Iklan

61.000 Bitcoin Disita Inggris: Skandal Pencucian Uang Terbesar Berujung Vonis Penjara

Inggris berhasil menyita 61.000 Bitcoin dalam salah satu kasus pencucian uang terbesar dalam sejarah negara tersebut, yang melibatkan skema penipuan investasi global bernilai miliaran dolar. Dua wanita, Qian Zhimin yang disebut sebagai dalang utama, dan Jian Wen sebagai kaki tangannya, telah divonis atas peran mereka dalam kejahatan finansial ini.

Qian Zhimin, yang juga dikenal sebagai Yadi Zhang, telah divonis 11 tahun 8 bulan penjara oleh Pengadilan Mahkota Southwark di London. Ia dinyatakan bersalah atas pencucian uang dan kepemilikan aset ilegal setelah sebelumnya menjadi arsitek utama di balik penipuan investasi skema Ponzi di Tiongkok. Antara tahun 2014 hingga 2017, Qian menipu sekitar 128.000 hingga 130.000 investor Tiongkok, mengumpulkan dana sekitar 40 miliar yuan atau setara US$5,62 miliar, yang kemudian ia ubah menjadi Bitcoin sebelum melarikan diri ke Inggris dengan dokumen palsu.

Sementara itu, Jian Wen, seorang mantan pekerja restoran yang hidup sederhana di Leeds, divonis 6 tahun 8 bulan penjara. Wen terbukti bersalah atas satu dakwaan pencucian uang, setelah membantu Qian Zhimin mengonversi Bitcoin curian menjadi uang tunai, perhiasan, dan properti mewah, termasuk dua properti di Dubai senilai lebih dari £500.000. Ia menarik perhatian polisi ketika mencoba membeli sejumlah properti mahal di London, namun gagal menjelaskan asal-usul kekayaannya selama pemeriksaan kepatuhan anti-pencucian uang oleh bank. Polisi menyita 61.000 Bitcoin dari dompet digital yang terkait dengan Wen pada tahun 2021, menyusul penggerebekan di sebuah rumah di London Barat pada tahun 2018.

Pada saat penyitaan pertama kali dapat diakses oleh polisi pada tahun 2021, Bitcoin tersebut bernilai sekitar £1,4 miliar (US$1,8 miliar). Nilai aset yang disita ini telah melonjak signifikan, diperkirakan mencapai hampir US$7 miliar atau US$7,24 miliar, menjadikannya penyitaan aset kripto terbesar yang pernah dilakukan oleh penegak hukum di seluruh dunia. Harga Bitcoin sendiri dilaporkan berada di level USD 90.904,55 pada 28 November 2025.

Selama persidangan, Jian Wen awalnya mengklaim tidak mengetahui asal-usul ilegal Bitcoin tersebut, menyatakan bahwa ia memperolehnya melalui penambangan Bitcoin yang sah atau sebagai hadiah dari Qian. Namun, jaksa penuntut berhasil membuktikan bahwa Wen mengetahui sifat kriminal dari dana yang ia tangani.

Kasus ini menyoroti tantangan besar bagi penegak hukum dalam melacak dan memulihkan aset digital serta memicu perdebatan di antara pejabat Inggris mengenai nasib Bitcoin yang disita tersebut, apakah akan sepenuhnya didistribusikan kembali kepada korban atau sebagian dipertahankan oleh negara. Pihak berwenang Tiongkok juga telah menyuarakan hak mereka untuk mendapatkan kembali dana yang dicuri tersebut.