Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

INET Tumbuh Gemilang, Rights Issue Rp 3,2 Triliun Siap Dorong Ambisi Besar

2025-11-30 | 02:36 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-29T19:36:00Z
Ruang Iklan

INET Tumbuh Gemilang, Rights Issue Rp 3,2 Triliun Siap Dorong Ambisi Besar

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) telah mencatatkan kinerja keuangan yang sangat impresif sepanjang periode Januari hingga September 2025, ditandai dengan lonjakan pendapatan dan laba bersih yang signifikan. Perusahaan penyedia infrastruktur telekomunikasi business to business (B2B) ini menunjukkan pertumbuhan pesat di sektornya. Untuk mendukung laju ekspansi yang berkelanjutan, INET juga tengah mempersiapkan aksi korporasi besar berupa Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I atau rights issue, dengan target perolehan dana segar mencapai Rp 3,2 triliun.

Dalam laporan keuangan periode Januari-September 2025, pendapatan INET melonjak drastis hingga 195% menjadi Rp 68,60 miliar, dibandingkan dengan Rp 23,88 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan dari layanan internet menjadi kontributor utama dengan nilai Rp 67,15 miliar. Kinerja operasional juga menunjukkan peningkatan tajam, di mana laba usaha perusahaan melesat 900% secara tahunan, dari Rp 2,49 miliar menjadi Rp 25,27 miliar. Laba bersih juga mengalami kenaikan luar biasa sebesar 819%, mencapai Rp 19,37 miliar dibandingkan Rp 2,10 miliar pada periode sebelumnya. Efisiensi operasional tercermin dari EBITDA yang tumbuh signifikan mencapai Rp 35,35 miliar, dari sebelumnya Rp 4,68 miliar. Total aset perusahaan hampir berlipat ganda, mencapai Rp 454,59 miliar per 30 September 2025, dari Rp 229,85 miliar per 31 Desember 2024. Meskipun liabilitas meningkat menjadi Rp 93,07 miliar, tingkat leverage INET masih tergolong rendah dengan Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 0,26 kali, menandakan kesehatan finansial yang kuat.

Rights issue yang akan dilakukan INET menargetkan dana maksimal Rp 3,2 triliun melalui penerbitan sebanyak-banyaknya 12,8 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 250 per saham. Rasio rights issue ditetapkan 3:4, yang berarti setiap pemegang tiga saham lama berhak atas empat saham baru. Periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD dijadwalkan pada 1-5 Desember 2025, dengan tanggal pencatatan dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) yang berhak atas HMETD pada 27 November 2025. Pemegang saham pengendali INET, PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara, telah menyatakan kesiapannya untuk melaksanakan seluruh HMETD senilai Rp 1,78 triliun dan juga bertindak sebagai pembeli siaga hingga maksimal 5,65 miliar saham atau senilai Rp 1,41 triliun jika ada sisa saham yang tidak terserap pasar.

Dana segar yang dihimpun dari rights issue ini akan dialokasikan secara strategis untuk mempercepat ekspansi jaringan. Sekitar Rp 2,8 triliun akan dikucurkan ke anak usaha, GPI, untuk pembangunan jaringan Fiber To The Home (FTTH) berkecepatan tinggi dengan teknologi Wi-Fi 7, menargetkan 2 juta pelanggan baru di Bali dan Lombok. Selain itu, Rp 213,44 miliar akan digunakan oleh PT PFI untuk melunasi biaya sewa jaringan kabel bawah laut (IRU) kepada PT JMP, dan Rp 135 miliar dialokasikan untuk PT IAB sebagai modal kerja pembangunan FTTH di Pulau Jawa. Sisa dana akan digunakan untuk pengembangan layanan, pembelian perangkat, pemasaran, pelatihan, dan biaya operasional lainnya.

Bersamaan dengan rights issue, INET juga akan menerbitkan hingga 3,07 miliar Waran Seri II dengan rasio 25:6, di mana setiap pemegang 25 saham lama berhak atas 6 Waran Seri II. Waran ini dapat dikonversi menjadi saham baru pada periode pelaksanaan 3 Juni 2026 hingga 1 Desember 2028 dengan harga tebus Rp 300 per saham, berpotensi menambah dana sebesar Rp 921,6 miliar. Aksi korporasi ini diharapkan dapat memperkuat posisi INET di pasar infrastruktur telekomunikasi nasional, meskipun dapat menyebabkan dilusi kepemilikan hingga 57,14% bagi pemegang saham yang tidak ikut serta, dan jika digabung dengan waran seri II, dilusi bisa mencapai 40%.

Sebagai perusahaan yang didirikan pada tahun 2016 dan berfokus pada penyediaan infrastruktur telekomunikasi model B2B, INET kini telah memiliki lebih dari 100 mitra ISP di seluruh Indonesia, serta 13 Point of Presence (POP) yang tersebar di 8 kota besar Indonesia dan 1 di Singapura. Dengan tingkat penetrasi fixed broadband rumah tangga di Indonesia yang baru mencapai 15%, jauh di bawah rata-rata Asia Tenggara sebesar 53%, peluang ekspansi INET di pasar yang belum tergarap masih sangat luas. Rights issue jumbo ini memungkinkan INET untuk memperkuat posisinya di dua sektor yang sedang berkembang pesat, yaitu kabel bawah laut dan FTTH, yang merupakan fondasi penting dalam transformasi digital nasional.