
PT Unilever Indonesia Tbk tengah merombak strategis portofolionya secara agresif, ditandai dengan penjualan bisnis es krim senilai Rp 7 triliun pada November 2024 dan pelepasan merek teh legendaris Sariwangi senilai Rp 1,5 triliun pada awal Januari 2026, sebagai upaya memfokuskan kembali bisnis pada kategori berkinerja tinggi dan meningkatkan efisiensi operasional di tengah dinamika pasar yang kompetitif. Pergeseran fundamental ini merupakan respons terhadap lanskap konsumen yang berkembang pesat dan tekanan ekonomi.
Keputusan divestasi bisnis es krim, yang ditandatangani pada 22 November 2024 dan diharapkan rampung pada akhir tahun 2025, kepada PT The Magnum Ice Cream Indonesia merupakan bagian dari strategi global Unilever Plc untuk menyederhanakan operasi dan berfokus pada segmen yang lebih menguntungkan. Selanjutnya, pada 6 Januari 2026, perseroan menandatangani Perjanjian Pengalihan Bisnis untuk menjual merek teh Sariwangi kepada PT Savoria Kreasi Rasa dengan nilai transaksi Rp 1,5 triliun, yang dijadwalkan selesai pada 2 Maret 2026. Bisnis teh ini menyumbang 2,5% dari total aset, 3,1% dari laba bersih, dan 2,7% dari pendapatan usaha perseroan per 30 September 2025, menunjukkan divestasi ini bertujuan untuk realisasi nilai investasi dan fokus pada kategori inti dengan pertumbuhan tinggi.
Langkah-langkah restrukturisasi ini mengikuti periode yang menantang, di mana penjualan bersih Unilever Indonesia pada tahun 2024 tercatat Rp 35,1 triliun, dengan laba bersih Rp 3,4 triliun, mengalami penurunan hampir 30% dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan domestik juga turun 8,7% secara tahunan pada 2024. Namun, perseroan menunjukkan tanda-tanda pemulihan, membukukan laba bersih Rp 3,33 triliun hingga kuartal III-2025, naik 10,8% secara tahunan, meskipun pendapatan bersih hanya naik tipis 0,7% menjadi Rp 27,61 triliun. Kinerja semester I 2025 menunjukkan penjualan bersih Rp 18,2 triliun (turun 4,4% YoY) dan laba bersih Rp 2,2 triliun (turun 12,6% YoY), namun menunjukkan perbaikan bertahap dibandingkan semester II 2024, dengan pertumbuhan penjualan 13,1% dan laba bersih 139,0% dibandingkan periode tersebut.
Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie Yap, menekankan tiga pilar strategis utama yang menjadi senjata perusahaan untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan: "Get More from the Core", "Market Makers", dan "Step-Up Impact". Pilar "Get More from the Core" berfokus pada penguatan merek-merek utama seperti Pepsodent, Royco, Bango, Lifebuoy, dan Rinso melalui inovasi dan peluncuran ulang produk. Contohnya, peluncuran Pepsodent Gum Expert, Dove Deodorant Serum, Dove Hair Tonic, Royco Saus Tiram Sachet, TRESemmé Hair Serum, dan POND's Sun Serum, yang semuanya dilaporkan melampaui target awal perusahaan. Perusahaan juga meningkatkan belanja iklan dan promosi menjadi 8,9% dari total penjualan bersih sebagai investasi berkelanjutan dalam ekuitas merek dan keterlibatan konsumen.
Strategi "Market Makers" melibatkan pengembangan harga berlapis untuk menargetkan segmen premium dan nilai. Untuk segmen premium, Unilever meluncurkan produk kecantikan dengan formulasi mutakhir seperti Vaseline Gluta-Hya dan Close-Up White Now. Sementara itu, untuk segmen nilai, perusahaan memperkenalkan kemasan kecil dan harga terjangkau, seperti Glow & Lovely Derma Glow Multivitamin Cream ukuran kecil, serta Bango dan Rinso dalam kemasan mini seharga Rp 1.000 dan Rp 500, memastikan aksesibilitas bagi konsumen massal.
Pilar "Step-Up Impact" mencakup peningkatan dampak melalui efisiensi operasional dan komitmen terhadap keberlanjutan. Ini melibatkan transformasi digital, optimalisasi efektivitas promosi, perbaikan biaya rantai pasokan, serta penguatan manajemen distribusi dan stok. Unilever juga secara aktif memperkuat kehadiran dan kinerja di media sosial, mengingat platform tersebut semakin menjadi tempat belanja yang disukai konsumen. Selain itu, perseroan menegaskan pentingnya mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam seluruh rantai pasokannya, dengan fokus pada inovasi produk, edukasi masyarakat, dan pemberdayaan ekonomi, seperti program Lifebuoy dan "Unstereotype Initiative".
Keputusan strategis ini diambil di tengah pasar Fast Moving Consumer Goods (FMCG) Indonesia yang semakin kompetitif, dengan pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan mencapai 5,2% pada 2024 dan stabil di kisaran 5% pada 2025, serta inflasi yang terkendali di 2,72% pada November 2025. Meskipun daya beli masyarakat meningkat, perubahan preferensi konsumen ke arah produk lokal, kemasan ramah lingkungan, dan penekanan pada nilai dan keterjangkauan menjadi tantangan. Isu boikot produk yang terafiliasi Israel juga memberikan dampak pada citra merek dan penjualan di beberapa pasar. Dengan portofolio yang diperkuat dan strategi yang lebih tajam, Unilever Indonesia berupaya untuk tidak hanya membalikkan penurunan kinerja sebelumnya tetapi juga membangun fondasi yang lebih kokoh untuk pertumbuhan jangka panjang di pasar konsumen terbesar di Asia Tenggara. Manajemen optimis terhadap kemampuan perusahaan untuk kembali tumbuh mulai kuartal III 2025 dan seterusnya.