
Bunga deposito perbankan di Indonesia menunjukkan tren stagnan dengan imbal hasil riil yang semakin tipis, mendorong para investor mencari alternatif penempatan dana yang lebih menguntungkan. Per November 2025, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) bertahan di level 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75% dan Lending Facility sebesar 5,50%. Kebijakan ini, yang telah diturunkan beberapa kali sepanjang 2025, bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Bank-bank besar di Indonesia menawarkan bunga deposito yang bervariasi. Misalnya, Bank Rakyat Indonesia (BRI) memberikan bunga tertinggi 3% untuk tenor 1-3 bulan, berlaku untuk semua nominal saldo. Sementara itu, Bank Central Asia (BCA) menawarkan 2,75% untuk saldo di bawah Rp2 miliar dan 3,00% untuk saldo di atas Rp2 miliar pada tenor yang sama. Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Mandiri umumnya berkisar antara 2,25% untuk tenor pendek hingga 2,50% untuk tenor menengah-panjang (6-24 bulan). Dengan tingkat inflasi di sekitar 2,5% per tahun pada November 2025, imbal hasil riil dari deposito tertinggi hanya sekitar 0,5% per tahun.
Kondisi ini memicu nasabah untuk memindahkan dana mereka ke instrumen investasi lain yang menawarkan potensi keuntungan lebih tinggi. Para ahli keuangan menekankan pentingnya diversifikasi portofolio dan menyesuaikan pilihan investasi dengan tujuan finansial serta profil risiko individu.
Beberapa alternatif investasi yang dapat dipertimbangkan meliputi:
* Obligasi Ritel (ORI/SBR/Sukuk): Instrumen ini menawarkan bunga yang lebih tinggi, sekitar 6-7%, dan dijamin oleh pemerintah, menjadikannya pilihan dengan risiko rendah dan cocok untuk investor konservatif. Obligasi FR (Fixed Rate) juga diminati karena kupon bunga tetap dan likuiditasnya. Dalam lima tahun terakhir (per Januari 2025), obligasi mencatatkan rata-rata pertumbuhan 7,29% per tahun, dan 8,21% dalam sepuluh tahun.
* Reksa Dana Pasar Uang: Opsi ini menawarkan potensi imbal hasil sekitar 4-5% dan fleksibilitas pencairan dana kapan saja. Dikelola oleh manajer investasi profesional, reksa dana pasar uang cocok bagi pemula yang menginginkan pengelolaan portofolio secara profesional dan diversifikasi otomatis.
* Emas: Emas sering dijadikan lindung nilai terhadap inflasi jangka panjang karena harganya cenderung stabil. Sepanjang tahun 2025, harga emas telah mengalami kenaikan signifikan, mencapai 25% per April 2025. Dalam lima tahun terakhir (per Januari 2025), emas mencatatkan rata-rata 11,58% per tahun, meskipun dalam 15 tahun terakhir rata-ratanya 5,98%. Emas cocok untuk investor yang mengutamakan keamanan dan stabilitas nilai aset.
* Saham Blue Chip: Merujuk pada saham perusahaan besar dan stabil dengan fundamental kuat, saham blue chip memiliki potensi keuntungan yang lebih tinggi. Namun, instrumen ini juga memiliki risiko volatilitas yang lebih tinggi dan lebih cocok untuk investor dengan toleransi risiko tinggi.
* Reksa Dana Saham: Pilihan ini dikelola oleh manajer investasi yang mengalokasikan dana ke berbagai saham, sehingga investor mendapatkan diversifikasi portofolio. Reksa dana saham cocok untuk mereka yang siap mengambil risiko demi keuntungan yang lebih tinggi dalam jangka pendek hingga menengah.
Perencana keuangan Rista Zwestika menyarankan kombinasi berbagai instrumen seperti deposito, emas, reksa dana pasar uang, obligasi, dan saham untuk memaksimalkan keuntungan sekaligus meminimalkan risiko. Peningkatan investasi pada aset non-likuid seperti utang privat dan infrastruktur juga dapat menjadi strategi diversifikasi yang signifikan, terutama dengan dukungan regulasi baru untuk investor ritel.