
Menindaklanjuti penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika Serikat pada Sabtu, 3 Januari 2026, mantan Presiden Donald Trump telah mendorong perusahaan-perusahaan minyak besar AS untuk segera membahas potensi investasi miliaran dolar guna merevitalisasi ladang minyak Venezuela yang luas. Pertemuan antara eksekutif dari Chevron, ConocoPhillips, dan ExxonMobil dengan administrasi Trump dijadwalkan berlangsung pekan ini di Washington D.C., meskipun eksekutif industri menyatakan tidak ada konsultasi awal sebelum penangkapan Maduro, bertentangan dengan klaim Trump.
Langkah mendesak ini menandai potensi pergeseran signifikan dalam kebijakan energi AS terhadap Venezuela, yang memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, diperkirakan mencapai 303 miliar barel pada tahun 2023, atau sekitar 17 persen dari total cadangan global. Meskipun demikian, industri minyak Venezuela telah hancur akibat salah urus selama bertahun-tahun, kurangnya investasi, dan sanksi ketat AS yang diberlakukan selama masa kepresidenan Trump sebelumnya. Produksi minyak negara itu merosot tajam dari puncaknya lebih dari 3 juta barel per hari (bph) pada akhir 1990-an dan awal 2000-an menjadi sekitar 893.000 bph pada tahun 2024.
Trump secara eksplisit menyatakan niatnya agar perusahaan-perusahaan minyak AS yang "sangat besar" masuk dan "menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah, dan mulai menghasilkan uang untuk negara itu". Gedung Putih, melalui juru bicara Taylor Rogers, menegaskan bahwa "semua perusahaan minyak kami siap dan bersedia melakukan investasi besar di Venezuela yang akan membangun kembali infrastruktur minyak mereka, yang dihancurkan oleh rezim Maduro yang tidak sah".
Namun, prospek pemulihan industri minyak Venezuela menghadapi tantangan besar dan keraguan dari para ahli dan eksekutif industri. Membangun kembali sektor energi yang rusak parah diperkirakan membutuhkan investasi puluhan hingga seratus miliar dolar selama satu dekade. Infrastruktur Venezuela, termasuk jaringan pipa yang berusia sekitar 50 tahun, sangat membutuhkan modernisasi dan perbaikan. Para ahli mencatat bahwa mengembalikan produksi ke tingkat historis 2,5 juta bph memerlukan investasi sekitar $80-90 miliar selama enam hingga tujuh tahun.
Para eksekutif perusahaan minyak juga mewaspadai iklim politik dan hukum yang tidak pasti di Venezuela. Meskipun Chevron adalah satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi di Venezuela di bawah lisensi khusus AS, ExxonMobil dan ConocoPhillips keluar pada tahun 2007 setelah pemerintah Hugo Chavez menasionalisasi aset mereka. Perusahaan-perusahaan akan membutuhkan jaminan stabilitas politik, kerangka hukum yang jelas, dan persyaratan investasi yang menguntungkan, serta penyelesaian utang Venezuela kepada perusahaan-perusahaan yang asetnya disita di masa lalu.
Analis energi dari S&P Global mencatat bahwa "syarat investasi — termasuk keyakinan bahwa investasi itu akan bertahan — dan lingkungan harga minyak perlu kondusif untuk investasi semacam itu". David Goldwyn, presiden Goldwyn Global Strategies, menyoroti bahwa perusahaan akan membutuhkan "lingkungan fisik yang stabil, yang sangat tidak pasti pada saat ini".
Implikasi jangka panjang dari dorongan Trump ini bisa mencakup peningkatan signifikan pasokan minyak mentah berat ke kilang-kilang Pantai Teluk AS, yang secara historis bergantung pada minyak Venezuela. Hal ini juga dapat memperkuat posisi AS di Belahan Barat, sejalan dengan doktrin "Donroe" yang diusulkan Trump untuk membebaskan wilayah tersebut dari pengaruh eksternal yang tidak bersahabat. Namun, kesuksesan inisiatif ini sangat bergantung pada kemampuan Venezuela untuk mengatasi ketidakstabilan politik yang sudah berlangsung lama dan menawarkan kondisi yang menarik bagi investasi asing yang masif. Tanpa jaminan tersebut, para ahli memperingatkan bahwa perusahaan AS akan enggan untuk mengucurkan modal yang diperlukan untuk merevitalisasi industri yang begitu rapuh.