
Genangan air kembali melumpuhkan sebagian ruas Tol Sedyatmo, akses vital menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, pada Minggu, 18 Januari 2026, menyusul curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Jabodetabek sejak Sabtu malam. Peristiwa ini memaksa PT Jasa Marga mengimbau pengguna jalan untuk mencari jalur alternatif guna menghindari kepadatan dan potensi hambatan perjalanan. Genangan utama terdeteksi di Off Ramp Gerbang Tol Pluit 3 pada pukul 04.12 WIB dan di KM 31+000 A Off Ramp Rawa Bokor.
Senior Manager Representative Office 2 Jasamarga Metropolitan Tollroad, Ginanjar Bekti R., menjelaskan bahwa peningkatan curah hujan yang berlangsung cukup lama memicu limpasan air yang deras dari kawasan sekitar ke saluran air jalan tol. Bersamaan dengan itu, genangan di akses keluar Rawa Bokor disebabkan oleh meluapnya Kali Perancis, yang menghambat aliran air keluar dari saluran di jalan tol. Ginanjar Bekti sebelumnya juga menyatakan bahwa "satu-satunya aliran pembuangan genangan yang terjadi saat ini adalah menuju Kali Perancis, namun karena kondisi Kali Perancis juga masih meluap, maka genangan agak sulit dialirkan." Pihak Jasa Marga telah mengerahkan total tujuh unit pompa, termasuk satu pompa mobile tambahan di akses Rawa Bokor, untuk mempercepat penanganan genangan.
Insiden serupa juga terjadi beberapa hari sebelumnya, pada 12-13 Januari 2026, di mana genangan air setinggi 10-15 sentimeter dilaporkan di Gerbang Tol Cengkareng dan ramp Rawa Bokor, menyebabkan arus lalu lintas dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta tersendat. Kasat Patroli Jalan Raya Ditlantas Polda Metro Jaya, Kompol Dhanar Dhono Vernandhie, mengonfirmasi bahwa genangan air setinggi 10-15 cm masih dapat dilintasi kendaraan, termasuk sedan, namun dengan kecepatan melambat. Bahkan, pada 12 Januari 2026, genangan air sempat mencapai 60 sentimeter di beberapa titik, menyebabkan kelumpuhan di sebagian ruas Tol Sedyatmo. Akibatnya, Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 12 Januari 2026 melaporkan 109 penerbangan mengalami penundaan, 7 penerbangan melakukan go-around, dan 31 penerbangan dialihkan ke bandara lain, meskipun General Manager Bandara Soekarno-Hatta Heru Karyadi memastikan fasilitas sisi udara bandara tetap beroperasi normal.
Permasalahan banjir berulang di Tol Sedyatmo mengindikasikan adanya kompleksitas struktural dan lingkungan. Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti pada Januari 2025 pernah mengungkapkan bahwa curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama, ditambah kondisi air laut pasang, menyebabkan drainase jalan tol tidak optimal dan memicu genangan. Faktor lain yang berkontribusi adalah sistem drainase yang tidak memadai, limpasan air dari kawasan sekitar yang padat, alih fungsi lahan yang masif, serta kurangnya perawatan infrastruktur. Selain itu, wilayah Jakarta dan Tangerang juga menghadapi isu penurunan permukaan tanah (land subsidence) yang signifikan, yang diperparah oleh pengambilan air tanah secara berlebihan. Peneliti Ahli Madya pada Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Yus Budiyono, menjelaskan bahwa penurunan tanah di Jakarta Utara, misalnya, mencapai hingga tiga meter di bawah permukaan laut dan dipercepat oleh pengambilan air tanah masif.
Jasa Marga terus berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane untuk penanganan meluapnya Kali Perancis dan mencari solusi integratif terkait manajemen debit air. Namun, pengamat tata kota M. Azis Muslim mendorong pemerintah untuk meningkatkan drainase dan pengerukan kali sebagai solusi jangka panjang, bukan hanya mengandalkan Teknologi Modifikasi Cuaca yang bersifat semu. Vitalnya Tol Sedyatmo sebagai gerbang utama mobilitas udara Indonesia menjadikan masalah genangan ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan ancaman terhadap kelancaran logistik, perekonomian, dan reputasi infrastruktur nasional. Upaya mitigasi jangka panjang yang komprehensif, melibatkan penataan ruang, pengelolaan air terintegrasi, dan revitalisasi drainase secara menyeluruh, menjadi krusial untuk memastikan keberlanjutan fungsi infrastruktur vital ini.