Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Terkuak: Ekonomi Negara Tetangga RI di Ambang Krisis

2026-01-08 | 03:24 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-07T20:24:07Z
Ruang Iklan

Terkuak: Ekonomi Negara Tetangga RI di Ambang Krisis

Perekonomian sejumlah negara tetangga Indonesia menunjukkan tanda-tanda perlambatan signifikan dan menghadapi prospek yang penuh tantangan memasuki tahun 2024, didorong oleh melemahnya permintaan global dan tekanan inflasi yang berkelanjutan. Meskipun beberapa negara menunjukkan ketahanan, data terbaru mengungkapkan revisi proyeksi pertumbuhan ke bawah dan tantangan struktural yang dapat menghambat pemulihan jangka panjang di kawasan Asia Tenggara.

Malaysia, misalnya, mencatat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 3,7 persen pada tahun 2023, sebuah penurunan tajam dari 8,7 persen pada tahun 2022. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal keempat 2023 melambat menjadi 3,0 persen secara tahunan, di bawah ekspektasi pasar sebesar 3,4 persen, terutama disebabkan oleh penurunan ekspor sebesar 6,9 persen akibat melemahnya permintaan eksternal, menurut Gubernur Bank Negara Malaysia Abdul Rasheed Ghaffour. Meskipun Kementerian Keuangan memproyeksikan pertumbuhan 4-5 persen untuk tahun 2024 dan Bank Negara Malaysia mengumumkan pertumbuhan 5,1 persen untuk 2024 yang didukung oleh permintaan domestik dan pemulihan ekspor, risiko penurunan tetap ada di tengah tantangan eksternal yang berkelanjutan dan meningkatnya risiko pembatasan perdagangan dan investasi. Tekanan inflasi utama di Malaysia sendiri telah mereda menjadi 1,6 persen pada kuartal keempat 2023, dengan inflasi inti bertahan di 2,0 persen, diproyeksikan tetap rendah di 2024 pada 1,8 persen.

Di Thailand, prospek ekonomi juga telah direvisi ke bawah secara substansial. Kementerian Keuangan Thailand memproyeksikan pertumbuhan PDB hanya 2,8 persen untuk tahun 2024, turun dari perkiraan sebelumnya 3,2 persen. Revisi ini mengikuti pertumbuhan PDB yang melambat menjadi 1,9 persen pada tahun 2023. Laju pertumbuhan melambat menjadi 1,5 persen pada kuartal pertama 2024, meskipun didorong oleh pariwisata dan konsumsi swasta, karena diimbangi oleh penurunan investasi publik, belanja pemerintah, dan ekspor barang dagangan. Sektor pariwisata, pendorong utama ekonomi Thailand, menghadapi tantangan dengan perkiraan kunjungan wisatawan asing pada 2024 direvisi turun menjadi 33,5 juta dari 34,5 juta sebelumnya. Perdana Menteri Thailand Sretha Thavisin secara terbuka menyatakan kenaikan suku bunga bank sentral "sama sekali tidak berdampak baik bagi perekonomian", di tengah upaya pemerintah untuk memacu pertumbuhan melalui stimulus belanja. Sementara itu, Bank Sentral Thailand telah menaikkan suku bunga sebesar 200 basis poin sejak Agustus 2022 untuk mengendalikan inflasi, namun inflasi konsumen sempat anjlok ke wilayah negatif pada kuartal keempat 2023 sebelum akhirnya meningkat pada April 2024.

Filipina, di sisi lain, menunjukkan kinerja yang lebih kuat namun tidak kebal terhadap tekanan. Perekonomian Filipina tumbuh 5,6 persen pada tahun 2023, menjadi salah satu yang tercepat di Asia Tenggara, sedikit di bawah target pemerintah 6-7 persen. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Filipina akan mencapai 6 persen pada tahun 2024, lebih rendah dari perkiraan April sebesar 6,2 persen, dan berada pada batas terendah target pemerintah. Inflasi tahunan di Filipina telah menurun menjadi 3,9 persen pada Desember 2023, dengan rata-rata setahun penuh 6 persen. Pemerintah berkomitmen untuk mencapai target inflasi 2-4 persen pada tahun 2024.

Vietnam, meskipun mengalami pemulihan yang nyata, juga menghadapi tantangan inflasi. PDB Vietnam tumbuh 5,05 persen pada tahun 2023, lebih rendah dari 8,02 persen pada tahun 2022 dan target pemerintah 6,5 persen. Namun, ekonomi menunjukkan pemulihan di paruh kedua 2023, dengan proyeksi pertumbuhan untuk tahun 2024 antara 6,0-6,5 persen, meskipun Kantor Statistik Umum (GSO) mencatat bahwa mencapai target ini adalah "tantangan besar" di tengah risiko dan ketidakpastian eksternal. Tingkat inflasi tahunan Vietnam mendekati batas atas target pemerintah 4,5 persen, mencapai 4,44 persen pada Mei 2024. Ekspor Vietnam menunjukkan tanda-tanda pemulihan, dengan peningkatan 15,8 persen pada Mei 2024, didorong oleh pengiriman elektronik dan ponsel pintar, setelah mengalami kontraksi pada sebagian besar tahun 2023 akibat penurunan permintaan global.

Secara regional, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi ASEAN-5 akan meningkat menjadi 4,5 persen pada 2024 dari 4,2 persen pada 2023, namun Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva memperingatkan bahwa tingkat suku bunga global diperkirakan akan tetap tinggi hingga 2024, bahkan hingga 2025, yang akan berdampak pada kawasan ASEAN, termasuk pelemahan mata uang dan pembiayaan anggaran yang tinggi. Perlambatan ekonomi global, terutama di Amerika Serikat, Zona Euro, dan masalah di sektor properti China, juga disebut sebagai faktor eksternal yang dapat menekan prospek ekonomi Asia Tenggara. Kondisi ini menggarisbawahi perlunya kehati-hatian dalam manajemen makroekonomi dan reformasi struktural untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan di tengah gejolak ekonomi global.