:strip_icc()/kly-media-production/medias/4740421/original/097240200_1707701801-fotor-ai-202402128340.jpg)
Pasar aset kripto global diproyeksikan memasuki fase pertumbuhan signifikan pada tahun 2026, dengan potensi Federal Reserve Amerika Serikat (The Fed) memangkas suku bunga acuannya menjadi katalis utama yang mendorong aliran modal baru dan minat investor ke aset berisiko. Analis dari J.P. Morgan memperkirakan Bitcoin dapat mencapai $170.000, sementara peneliti pasar Fundstrat lebih optimistis dengan proyeksi antara $200.000 hingga $250.000 pada akhir 2026. Optimisme ini didukung oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter yang dapat mengakhiri periode likuiditas ketat yang menekan pasar dalam beberapa tahun terakhir.
Dinamika suku bunga the Fed menjadi penentu arah pasar kripto, mengingat korelasi historis antara kebijakan moneter dan aset spekulatif. Ketika suku bunga tinggi, aset dengan imbal hasil stabil seperti obligasi pemerintah menjadi lebih menarik, mengalihkan dana dari aset volatil seperti Bitcoin dan altcoin. Sebaliknya, penurunan suku bunga cenderung membuat investasi tradisional kurang menarik, mendorong investor untuk mencari imbal hasil lebih tinggi di aset berisiko. Managing Director Clear Street, Owen Lau, menegaskan bahwa laju pemangkasan suku bunga the Fed akan menjadi faktor kunci yang dapat mendorong investor ritel dan institusi kembali ke pasar kripto jika suku bunga terus turun.
Meskipun the Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 4,25% hingga 4,5% pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru di Januari 2025, dengan sinyal penundaan pemangkasan lebih lanjut di awal 2026, prospek jangka panjang menunjukkan potensi pelonggaran. Risalah FOMC Desember 2025 bahkan mengindikasikan bahwa the Fed tidak akan terburu-buru menurunkan suku bunga hingga Maret atau April 2026, bergantung sepenuhnya pada data inflasi dan tenaga kerja. Namun, iShares by Blackrock memprediksi bahwa the Fed berpeluang melakukan penurunan suku bunga secara terbatas menuju level mendekati 3% pada 2026, dengan satu hingga dua kali pemangkasan, menyeimbangkan stabilitas harga dan kondisi tenaga kerja. Inflasi global diperkirakan akan menurun menjadi 4,1% pada 2026, meski inflasi di AS diproyeksikan tetap "sticky" di atas 3%.
Secara historis, Bitcoin sering menunjukkan kenaikan signifikan ketika the Fed mulai menurunkan suku bunga. Contoh paling nyata adalah periode awal 2020 hingga akhir 2021, di mana Bitcoin mengalami bull run terbesar setelah the Fed memangkas suku bunga mendekati nol sebagai respons terhadap pandemi COVID-19. Pelonggaran kebijakan moneter kala itu menciptakan akses modal yang lebih mudah, meningkatkan selera risiko investor, dan melemahkan dolar AS, menjadikan Bitcoin menarik. Namun, kondisi makroekonomi saat ini, dengan inflasi yang masih tinggi dan ketegangan geopolitik berkelanjutan, sedikit berbeda dari periode euforia sebelumnya, menunjukkan bahwa lonjakan pasar mungkin tidak terjadi dalam skala yang sama persis.
Selain kebijakan suku bunga, sejumlah faktor lain juga diperkirakan mendorong pertumbuhan pasar kripto pada 2026. Arus masuk dana dari produk Exchange-Traded Fund (ETF) kripto, khususnya Bitcoin spot ETF, telah menjadi pendorong utama. Lebih dari 100 ETF kripto baru, termasuk berbasis altcoin, diproyeksikan meluncur pada 2026, dengan potensi arus dana di atas $50 miliar, yang akan mengubah struktur pasar dan mengunci suplai. Adopsi institusional terus meningkat, dengan investor institusional kini memegang sekitar 8% dari total pasokan Bitcoin. Grayscale bahkan menyebut fase ini sebagai "fajar era institusional" yang akan melihat aliran dana institusional tambahan.
Pergeseran kebijakan the Fed untuk menghentikan Quantitative Tightening (QT) pada 2025, yang menstabilkan neraca bank sentral di sekitar $6,5 triliun, dianggap meredakan tekanan likuiditas dan berpotensi membuka ruang bagi Quantitative Easing (QE) di masa depan, yang secara historis mendukung aset berisiko. Peningkatan kejelasan dalam kerangka regulasi juga akan mempercepat partisipasi institusional, membuka peluang baru dalam perdagangan ekuitas global. Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menyatakan bahwa dinamika suku bunga global, arus institusional, dan perilaku investor jangka panjang akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah pasar kripto sepanjang 2026.
Meski demikian, risiko tetap membayangi. Inflasi yang "lengket" di atas target bank sentral dapat membatasi agresivitas pemangkasan suku bunga. Ketegangan geopolitik, seperti konflik Rusia-Ukraina, dinamika Timur Tengah, serta hubungan dagang AS dan China, masih berpotensi menekan sentimen pasar global. Para analis sepakat bahwa tahun 2026 bukan tentang kepastian harga, melainkan tentang perubahan peran kripto dalam sistem keuangan global, yang menunjukkan pasar yang semakin dewasa namun tetap digerakkan oleh psikologi investor.