:strip_icc()/kly-media-production/medias/5445177/original/040415400_1765814900-investasi.jpg)
Prospek reksa dana pada tahun 2026 diperkirakan tetap menjanjikan di tengah potensi penurunan suku bunga acuan global dan domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil, serta minat investor ritel yang terus meningkat, meskipun diwarnai oleh volatilitas pasar global dan tantangan geopolitik. PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat nilai aset kelolaan (AUM) reksa dana mencapai Rp 996 triliun per 24 Desember 2025, meningkat 23% dari tahun sebelumnya, seiring dengan kenaikan jumlah investor reksa dana di Indonesia menjadi 19,17 juta SID atau tumbuh 37% dari posisi 2024.
Kondisi makroekonomi global yang memasuki fase transisi dari pengetatan moneter menuju arah yang lebih akomodatif menjadi katalis utama. Federal Reserve AS (The Fed) diproyeksikan melanjutkan tren penurunan suku bunga hingga mendekati 3% pada 2026, yang kemungkinan besar akan diikuti oleh Bank Indonesia (BI). Penurunan suku bunga ini secara historis menguntungkan reksa dana pendapatan tetap karena harga obligasi cenderung naik saat yield obligasi turun. Selain itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat menembus level 10.000 pada akhir 2026, didorong oleh perbaikan fundamental ekonomi nasional dan kebijakan pemerintah yang semakin sinkron. BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan IHSG mencapai 9.440 pada akhir 2026, dengan pertumbuhan laba per saham (EPS) sekitar 8% secara tahunan. Optimisme ini juga didukung oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di kisaran 5% dan inflasi tahunan yang terkendali di bawah 3% sesuai perkiraan BI.
Sejarah pasar modal menunjukkan bahwa reksa dana, terutama reksa dana saham, mampu mencatatkan kinerja menonjol di tengah dinamika pasar. Pada tahun 2025, reksa dana saham membukukan return 20,62% secara year-to-date (ytd), sedikit di bawah kenaikan IHSG yang menguat 22,17% ytd. Reksa dana campuran mencatatkan return 14,60% ytd, sementara reksa dana pendapatan tetap menghasilkan 6,87% ytd, dan reksa dana pasar uang 4,43% ytd. Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan, menilai reksa dana saham akan tetap menarik bagi investor agresif dengan horizon investasi jangka panjang, memproyeksikan return sebesar 7%-12% per tahun pada 2026 jika pertumbuhan ekonomi nasional solid dan kinerja emiten membaik.
Kemudahan akses melalui platform digital dan meningkatnya literasi finansial juga menjadi pendorong utama minat investasi reksa dana, khususnya di kalangan generasi Milenial dan Gen Z. Lebih dari 70% investor reksa dana di Indonesia berusia di bawah 35 tahun, dengan sebagian besar memilih reksa dana saham. Selain itu, produk reksa dana syariah dan berbasis ESG (Environmental, Social, Governance) semakin diminati, mencerminkan pergeseran preferensi investor muda yang mempertimbangkan nilai dan dampak sosial investasi.
Meskipun demikian, investor perlu mewaspadai sejumlah risiko seperti volatilitas pasar global, ketidakpastian geopolitik, dan potensi perubahan kebijakan suku bunga. Menurut Prof. Dr. Nano Prawoto, Guru Besar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), ruang pelonggaran kebijakan moneter nasional terbatas karena ketidakpastian ekonomi global. Michael Krautzberger, CIO Public Markets Allianz Global Investors, menyoroti valuasi saham teknologi AS yang sudah sangat tinggi dengan tingkat konsentrasi ekstrem, menyarankan investor untuk memilih dengan cermat. Diversifikasi aset dan konsistensi investasi berkala tetap menjadi strategi krusial untuk mengoptimalkan investasi reksa dana pada 2026. Investor disarankan untuk membandingkan kinerja reksa dana dengan benchmark yang tepat dan memperhatikan tujuan serta horizon investasi.
Secara keseluruhan, optimisme prospek reksa dana pada 2026 didasarkan pada ekspektasi penurunan suku bunga, stabilitas ekonomi domestik, dan peningkatan partisipasi investor. Namun, kewaspadaan terhadap risiko makroekonomi global dan selektivitas dalam memilih produk investasi tetap fundamental.