
PT Pertamina (Persero) secara konsisten mempertahankan posisinya sebagai perusahaan minyak dan gas (migas) terintegrasi dengan peringkat Environmental, Social, and Governance (ESG) nomor satu di dunia. Per 31 Desember 2025, penilaian Sustainalytics menunjukkan skor ESG Pertamina membaik menjadi 23,1 dengan kategori Medium Risk, meningkat dari 26,9 pada tahun sebelumnya. Penurunan skor dalam metodologi Sustainalytics mengindikasikan tingkat risiko keberlanjutan yang lebih rendah. Pencapaian ini menempatkan Pertamina unggul di antara 56 perusahaan migas terintegrasi global lainnya yang dievaluasi oleh lembaga pemeringkat tersebut.
Keberhasilan ini tidak hanya berhenti pada Sustainalytics; Pertamina juga mencatat peningkatan rating MSCI ESG menjadi BBB per 31 Desember 2025, naik dari BB pada tahun 2024. Penguatan kinerja ESG ini merefleksikan keberhasilan komprehensif Pertamina dalam mengelola risiko keberlanjutan di seluruh lini bisnisnya, sebagaimana disampaikan oleh Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron. Baron menegaskan bahwa pengakuan dari lembaga ESG internasional ini menunjukkan kepercayaan global terhadap komitmen Pertamina dalam menjalankan bisnis yang berkelanjutan, bertanggung jawab, dan ramah lingkungan. Ia menambahkan bahwa ESG bukan sekadar kepatuhan, melainkan strategi inti perusahaan untuk memastikan keberlanjutan bisnis dan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan di masa depan.
Peningkatan skor ESG Pertamina adalah hasil dari strategi dekarbonisasi yang agresif dan investasi substansial dalam energi baru terbarukan (EBT). Pada tahun 2025, realisasi penurunan emisi karbon Pertamina mencapai sekitar 68% dari target tahunannya, dengan total penurunan emisi lebih dari satu juta ton CO₂e pada semester I. Program dekarbonisasi ini meliputi efisiensi energi di fasilitas operasi, pemanfaatan pembangkit energi rendah karbon, serta perbaikan sistem distribusi dan transportasi energi. Misalnya, Kilang Pertamina Internasional (KPI) berhasil mencatatkan pengurangan emisi sekitar 390 ribu metrik ton CO₂e hingga Oktober 2025, melampaui target tahunan sebesar 370 ribu metrik ton CO₂e melalui efisiensi operasional dan teknologi ramah lingkungan seperti Flare Gas Recovery System (FGRS).
Di sisi investasi EBT, Pertamina mengalokasikan dana sebesar US$5,7 miliar atau sekitar Rp89,9 triliun hingga tahun 2029 untuk mendukung pengembangan geothermal, bioetanol, hidrogen hijau, tenaga surya, tenaga angin, dan biomassa. Perusahaan menargetkan 56 persen investasinya dialokasikan untuk sektor EBT pada tahun 2030, sebagai bagian dari upaya mendukung target net zero emission (NZE) Indonesia pada 2060. Pertamina juga menargetkan penjualan bahan bakar nabati sebanyak 60 juta KL, produksi petrokimia 5,5 juta KL, dan kapasitas terpasang geothermal mencapai 1,4 GW hingga 2029. Upaya ini juga mencakup perluasan instalasi solar PV di lokasi operasi strategis dan optimalisasi penggunaan gas alam sebagai energi transisi.
Dalam aspek tata kelola dan sosial, Pertamina juga menunjukkan komitmen melalui "10 fokus keberlanjutan" yang mencakup pengelolaan perubahan iklim, pengurangan jejak lingkungan, perlindungan keanekaragaman hayati, pencegahan kecelakaan besar, peningkatan kesehatan dan keselamatan kerja, pengembangan karyawan, inovasi, keterlibatan masyarakat, keamanan siber, dan etika perusahaan. Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, sebelumnya telah menekankan pentingnya tuntutan ESG dan pembiayaan hijau dalam mempercepat transisi energi menuju EBT.
Meskipun Pertamina telah mencapai peringkat teratas dalam penilaian ESG, tantangan transisi energi global tetap besar. Ketergantungan dunia pada energi fosil masih tinggi, sementara pengembangan EBT memerlukan investasi besar dan dukungan regulasi yang kuat. Pertamina terus memutakhirkan peta jalan NZE sebagai bentuk penyesuaian terhadap kebijakan nasional dan komitmen dekarbonisasi global. Dialog keberlanjutan dengan investor global menjadi krusial untuk menarik pendanaan hijau dan memperkuat sinergi dalam proyek dekarbonisasi serta pengembangan bisnis rendah karbon. Komitmen berkelanjutan ini bukan hanya penting untuk reputasi perusahaan, tetapi juga fundamental bagi ketahanan bisnis jangka panjang di tengah lanskap energi yang terus berubah.