:strip_icc()/kly-media-production/medias/2970772/original/032944800_1574070739-20191118-Perdagangan-Awal-Pekan-IHSG-Ditutup-di-Zona-Merah-2.jpg)
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), emiten petrokimia terbesar di Indonesia, akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 26 Januari 2026 menyusul pengunduran diri Direktur Suwit Wiwattanawanich dan Komisaris Santi Wasanasiri yang efektif sejak 31 Desember 2025. Perusahaan mengumumkan penerimaan surat pengunduran diri kedua petinggi tersebut pada 2 Januari 2026, yang mana keputusannya akan diambil dalam RUPS terdekat. Sebelum persetujuan RUPS dan berlaku efektif, Suwit Wiwattanawanich dan Santi Wasanasiri tetap wajib melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai Anggaran Dasar Perseroan, peraturan Pasar Modal, dan perundang-undangan lainnya.
Pengunduran diri ini menambah dinamika perubahan di jajaran direksi dan komisaris TPIA yang telah terjadi berulang kali dalam dua tahun terakhir, mencerminkan fase transisi strategis perusahaan. Sebelumnya, pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 23 Oktober 2024, pemegang saham menyetujui pengangkatan Suracha Udomsak sebagai Komisaris baru menggantikan Mongkol Hengrojanasophon, dan Jirathpol Sunsap sebagai Direktur baru menggantikan Prapote Stianpapong. Perubahan kepengurusan tersebut diusulkan oleh SCG Chemicals Public Company Limited, yang memegang 30,57% saham di Chandra Asri, dan disebut sebagai bagian dari langkah strategis untuk menyelaraskan kepemimpinan dengan visi jangka panjang dan memperkuat manajemen dalam menghadapi tantangan industri petrokimia yang kompetitif.
Pola perombakan manajemen berlanjut pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 11 Juni 2025, ketika TPIA menunjuk direksi baru yang terdiri dari Nongnapat Saisuthi, Wittaya Guntawang, Ronald Sihombing, dan Hamim Thohari. Mereka menggantikan enam direksi lama, yaitu Sarayuth Vorapruekjaru, Petch Niyomsen, Jirathpol Sunsap, Anawat Chansaksoong, Phuping Taweesarp, dan Boedijono Hadipoespito. Dua komisaris, Chantanida Sarigaphuti dan Suracha Udomsak, juga mengundurkan diri pada waktu yang sama.
Perubahan-perubahan ini terjadi di tengah upaya signifikan TPIA untuk bertransformasi dari sekadar perusahaan petrokimia menjadi penyedia solusi kimia, energi, dan infrastruktur terintegrasi di Asia Tenggara. Pada Januari 2024, perusahaan mengubah nama resminya menjadi PT Chandra Asri Pacific Tbk dari PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, sebuah langkah yang disetujui dalam RUPSLB pada 29 Desember 2023. Perubahan nama ini sejalan dengan diversifikasi portofolio bisnis yang dilakukan perusahaan, termasuk akuisisi Krakatau Chandra Energi dan PT Krakatau Tirta Industri, serta pengembangan pabrik Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CAA-EDC).
Langkah strategis terbarunya adalah akuisisi Aster Chemicals and Energy Pte. Ltd. (sebelumnya Shell Energy and Chemicals Park) dari Shell pada 1 April 2025, yang telah memberikan dampak substansial pada kinerja keuangan TPIA. Akuisisi tersebut membantu TPIA membalikkan kerugian bersih sebesar Rp 1,12 triliun pada tahun 2024 menjadi laba bersih US$ 1,27 miliar pada semester I 2025. Pendapatan dari segmen bisnis kilang pasca-akuisi ini mencapai US$ 1,07 miliar, mendorong total pendapatan TPIA melonjak 237,70% secara tahunan menjadi US$ 2,92 miliar.
Meskipun TPIA mencatat kerugian pada tahun buku 2024, RUPST 11 Juni 2025 juga memutuskan untuk membagikan dividen tunai tambahan sebesar US$ 30 juta dari sisa laba bersih tahun buku 2018. Analis memandang bahwa meskipun tantangan di industri petrokimia masih ada, dengan Indonesia yang menargetkan menjadi pemain nomor satu di pasar ASEAN, langkah diversifikasi TPIA ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan perusahaan. Pengunduran diri para direksi dan komisaris secara berkesinambungan menggarisbawahi upaya perusahaan dalam menyelaraskan struktur kepemimpinan dengan arah strategis yang baru dan kompleks, meskipun memerlukan adaptasi dan potensi penyesuaian stabilitas internal dalam jangka pendek. Investor akan memantau bagaimana TPIA mengisi posisi-posisi kunci ini dan bagaimana perubahan tersebut akan memengaruhi implementasi strategi jangka panjang perusahaan ke depan.