Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pasar Obligasi 2025: Emisi Tembus Rp 195,85 Triliun

2025-11-29 | 12:32 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-29T05:32:29Z
Ruang Iklan

Pasar Obligasi 2025: Emisi Tembus Rp 195,85 Triliun

Total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang tahun 2025 telah menyentuh angka Rp 195,85 triliun hingga pekan terakhir November. Angka ini berasal dari 164 emisi yang diterbitkan oleh 76 emiten.

Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menyampaikan bahwa secara keseluruhan, total obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI kini berjumlah 652 emisi dengan nilai nominal outstanding mencapai Rp 534,02 triliun dan US$134,01 juta, yang diterbitkan oleh 136 emiten. Selain itu, Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat di BEI berjumlah 191 seri dengan nilai nominal Rp 6.423,84 triliun dan US$352,10 juta, serta terdapat 7 emisi Efek Beragun Aset (EBA) senilai Rp 2,13 triliun.

Pencatatan terbaru yang signifikan terjadi pada Jumat, 28 November 2025, dengan masuknya Obligasi Berkelanjutan IV Sarana Multi Infrastruktur Tahap IV Tahun 2025 dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan III Sarana Multi Infrastruktur Tahap II Tahun 2025 yang diterbitkan oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero). Kedua instrumen ini memiliki total nilai emisi sebesar Rp 6,5 triliun dan memperoleh peringkat idAAA dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) untuk obligasi dan idAAA(sy) untuk sukuk syariah, dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebagai Wali Amanat.

Tren peningkatan emisi obligasi korporasi ini didorong oleh beberapa faktor. Pefindo mencatat bahwa penerbitan obligasi korporasi hingga September 2025 mencapai Rp 160,1 triliun, melonjak 68,65% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kepala Ekonom BCA, David Sumual, mengindikasikan bahwa kondisi suku bunga acuan yang lebih menguntungkan di tahun ini menjadi pendorong utama, mengingat banyak korporasi menunda penerbitan obligasi tahun lalu akibat suku bunga pasar yang lebih tinggi. Di sisa tahun ini dan 2026, penerbitan obligasi korporasi diperkirakan akan terus terdorong oleh suku bunga pinjaman bank yang sulit turun sepanjang 2025, serta penurunan yield obligasi yang relatif terhadap suku bunga bank. Sektor-sektor yang bersinggungan dengan program pemerintah, seperti hilirisasi industri termasuk pulp dan kertas, diperkirakan akan terus mendominasi penerbitan obligasi korporasi.

Minat investor terhadap instrumen utang juga terlihat kuat. Contohnya, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mencatat kelebihan permintaan (oversubscribe) signifikan untuk Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Subordinasi dan Obligasi Berwawasan Sosial (Social Bond) yang penawaran awalnya ditutup pada 28 November 2025. Obligasi Subordinasi mencatat pesanan 1,47 kali dari target emisi Rp 2 triliun, sementara Social Bond mengalami kelebihan permintaan hingga 5,47 kali dari target Rp 300 miliar. Penerbitan obligasi ini bertujuan untuk memperkuat permodalan perseroan guna mendukung ekspansi kredit, khususnya di sektor perumahan.

Di sisi lain, meskipun penerbitan obligasi berkelanjutan global menunjukkan peningkatan, Indonesia justru menghadapi tren penurunan dalam penerbitan surat utang berkelanjutan atau sustainable debt. Laporan Bloomberg mencatat bahwa per Agustus 2025, penerbitan surat utang berkelanjutan Indonesia hanya mencapai US$3,36 miliar, turun drastis dibandingkan US$7,26 miliar pada tahun 2024. Namun, pemerintah terus menunjukkan komitmen terhadap investasi berkelanjutan melalui obligasi hijau, dengan dana yang dialokasikan untuk sektor energi terbarukan, transportasi berkelanjutan, pengelolaan air dan limbah, serta bangunan hijau.