Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

IHSG Tumbang, Pasar Was-was Menanti Kebijakan Free Float MSCI

2026-01-23 | 19:08 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-23T12:08:53Z
Ruang Iklan

IHSG Tumbang, Pasar Was-was Menanti Kebijakan Free Float MSCI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia ditutup melemah ke level 8.951 pada perdagangan baru-baru ini, di tengah pengawasan ketat pasar terhadap rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk merevisi metodologi penghitungan free float saham. Perubahan potensial ini memicu kekhawatiran akan pergeseran signifikan dalam alokasi investasi asing yang terikat pada indeks global. Pasar saham Indonesia, yang mencatat penurunan 1,24% pada 21 Januari 2026, merefleksikan kehati-hatian investor terhadap risiko rebalancing bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI.

MSCI, sebagai penyedia indeks global terkemuka, sedang mempertimbangkan perubahan substansial pada metodologi indeksnya, termasuk definisi free float yang lebih ketat, yang secara khusus dapat memengaruhi ekuitas Indonesia. Indonesia saat ini memiliki rasio free float terendah di Asia, dengan lebih dari 200 perusahaan tercatat yang memiliki free float di bawah 15%, jauh di bawah standar pasar regional. Proposal MSCI mengindikasikan bahwa pendekatan revisi ini akan meningkatkan porsi saham yang diklasifikasikan sebagai non-free float, sehingga menurunkan rasio free float saham Indonesia dan berpotensi mengurangi bobotnya dalam Indeks MSCI. Perubahan tersebut diperkirakan dapat memicu penjualan paksa (forced trades) yang substansial oleh dana pasif yang melacak tolok ukur MSCI.

Konsultasi publik MSCI mengenai penyesuaian perhitungan free float untuk saham-saham Indonesia telah berlangsung dari Oktober hingga Desember 2025. Hasil keputusan final dari MSCI dijadwalkan akan diumumkan pada akhir Januari 2026 dan jika disetujui, metodologi baru ini akan mulai berlaku efektif pada rebalancing indeks Mei 2026. Salah satu poin kunci dalam proposal ini adalah penggunaan data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai referensi tambahan dalam menghitung free float, terutama untuk kepemilikan di bawah 5%, yang menawarkan gambaran kepemilikan yang lebih rinci dan transparan. MSCI berencana untuk menerapkan hasil perhitungan yang paling konservatif dari beberapa metode yang dipertimbangkan.

Para pejabat pasar modal Indonesia, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), telah secara aktif menyuarakan keprihatinan mereka. OJK, BEI, dan KSEI telah mendesak MSCI untuk menerapkan metodologi baru secara universal dan tidak diskriminatif terhadap pasar tertentu, termasuk Indonesia. Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa diskusi dengan MSCI berjalan konstruktif, namun menegaskan bahwa MSCI tetap merupakan penyedia indeks yang independen. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyoroti bahwa MSCI bahkan merasa perlu untuk mengeluarkan proposal metode perhitungan free float khusus untuk Indonesia, menggarisbawahi keraguan investor global terkait transparansi penerima manfaat akhir (Ultimate Beneficial Owner/UBO). Iman Rachman, Direktur Utama BEI, menambahkan bahwa MSCI akan memberikan tanggapan atas surat yang disampaikan bursa pada Februari 2026, setelah mengumpulkan masukan dari para konstituennya.

Implikasi dari perubahan ini diperkirakan signifikan. Berdasarkan estimasi Bloomberg, penyesuaian bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI dapat memicu arus keluar modal asing sekitar 2 miliar dolar AS dari pasar saham Indonesia. Analis meyakini bahwa perubahan ini dapat memicu aksi jual pre-emptive oleh dana aktif sebelum rebalancing resmi. Gary Tan, Manajer Portofolio di Allspring Global Investments, melihat upaya ini sebagai ujian penting bagi agenda reformasi pasar modal Indonesia dan menekankan perlunya peningkatan tata kelola perusahaan untuk menarik partisipasi internasional dan aliran investasi jangka panjang yang lebih besar. Secara historis, perubahan kriteria indeks MSCI telah mengakibatkan penyeimbangan ulang portofolio dan volatilitas aliran modal jangka pendek. Analis Nirgunan Tiruchelvam dari Aletheia Capital menggambarkan saham dengan free float rendah sebagai "museum pieces: Anda dapat melihat tetapi tidak dapat membeli cukup banyak."

Prospek jangka panjang menunjukkan bahwa negara-negara dengan struktur free float yang lebih baik, seperti Thailand, dapat menarik bagian dari potensi arus keluar modal dari Indonesia. Fath Aliansyah, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, memperingatkan bahwa pembelian saham berdasarkan sentimen MSCI semata memiliki risiko tinggi terhadap volatilitas jika ekspektasi tidak terwujud. Perkembangan ini menggarisbawahi pentingnya transparansi, tata kelola perusahaan, dan likuiditas pasar yang kuat untuk mempertahankan daya tarik investasi asing di tengah dinamika indeks global.