Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Penyesuaian Rute KA Jatinegara di Momen Tahun Baru: Simak Daftar Lengkap Kereta Terdampak

2026-01-05 | 02:16 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-04T19:16:58Z
Ruang Iklan

Penyesuaian Rute KA Jatinegara di Momen Tahun Baru: Simak Daftar Lengkap Kereta Terdampak

Puluhan perjalanan kereta api jarak jauh dan menengah diberlakukan kebijakan Berhenti Luar Biasa (BLB) di Stasiun Jatinegara pada malam pergantian tahun 2025 menuju 2026, terhitung sejak 31 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026. Langkah ini diambil oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebagai strategi antisipasi terhadap potensi kepadatan lalu lintas dan rekayasa jalan di pusat kota Jakarta yang dapat menghambat akses penumpang menuju Stasiun Gambir. Sebanyak 26 kereta api yang biasanya hanya melayani naik atau turun penumpang di Stasiun Gambir kini menyediakan alternatif pemberhentian di Jatinegara, termasuk 19 kereta keberangkatan dan 7 kereta kedatangan.

Kebijakan ini, yang diumumkan oleh Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dan Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta Franoto Wibowo, bertujuan untuk menjaga kelancaran perjalanan kereta api serta memberikan fleksibilitas akses bagi pelanggan pada periode puncak liburan. Kereta-kereta yang menerapkan BLB tersebut mencakup sejumlah layanan utama seperti KA Taksaka, Bima, Gajayana, Argo Bromo Anggrek, Argo Lawu, Manahan, Sembrani, Purwojaya, Cakrabuana, Pandalungan, Parahyangan, dan Gunungjati. Meskipun terdapat penambahan pemberhentian, KAI menegaskan bahwa seluruh kereta tetap melayani Stasiun Gambir sesuai jadwal yang telah ditetapkan, dan kebijakan BLB ini tidak mengubah waktu keberangkatan maupun kedatangan.

Stasiun Jatinegara memegang peran sentral dalam jaringan perkeretaapian Jakarta sebagai stasiun kelas besar tipe A yang merupakan titik temu tiga jalur kereta api penting: menuju Pasar Senen, Manggarai, dan Cikarang. Setiap harinya, stasiun ini dilewati ratusan perjalanan kereta api. Peningkatan volume penumpang selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) memang menjadi tantangan tersendiri bagi operasional kereta api. KAI Commuter mencatat puncak volume pengguna KRL Jabodetabek mencapai 1,15 juta orang pada 31 Desember 2025. Secara keseluruhan, selama periode Nataru 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, KAI Commuter melayani 16,95 juta pengguna KRL, meningkat 6 persen dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, total penjualan tiket kereta api jarak jauh dan lokal secara nasional mencapai lebih dari 4 juta tiket, menunjukkan tingginya mobilitas masyarakat.

Dari perspektif infrastruktur, Stasiun Jatinegara telah mengalami berbagai modernisasi. Proyek pembangunan jalur dwiganda (Double-Double Track/DDT) Manggarai–Cikarang yang dimulai sejak 2016 telah membawa perubahan signifikan, termasuk pembangunan gedung stasiun baru yang lebih luas dan dilengkapi fasilitas modern seperti eskalator dan lift yang mulai diuji coba pada akhir 2020. Selain itu, sistem persinyalan di lintas Manggarai-Jatinegara juga telah diperbarui pada sekitar tahun 2017 dengan menggunakan sistem Kyosan K-5B dari Jepang, yang diklaim lebih modern dan handal untuk meningkatkan keselamatan dan kelancaran perjalanan kereta api. KAI Properti juga menyelesaikan revitalisasi eks Dipo Lokomotif Jatinegara menjadi Dipo Mekanik Berat pada Juli 2025, yang dilengkapi spoor kolong dan jalur baru untuk meningkatkan efisiensi perawatan mesin kereta dan menekan potensi keterlambatan operasional.

Langkah proaktif KAI dengan kebijakan BLB di Jatinegara mencerminkan upaya manajemen dalam mengelola lonjakan permintaan dan potensi hambatan eksternal selama periode krusial. Namun, peristiwa ini juga menggarisbawahi tekanan operasional yang terus-menerus terhadap infrastruktur kereta api di Jakarta, terutama di simpul-simpul vital seperti Jatinegara. Integrasi sistem transportasi dan perencanaan kota yang matang akan terus menjadi kunci untuk memastikan kelancaran pergerakan jutaan warga di masa depan, seiring dengan pertumbuhan populasi dan mobilitas yang tidak terhindarkan di ibu kota. Optimalisasi penggunaan fasilitas yang telah dimodernisasi dan koordinasi lintas sektor menjadi esensial untuk menjaga standar layanan transportasi publik yang aman, nyaman, dan tepat waktu.