
Donald Trump secara terbuka menyatakan niat Amerika Serikat untuk mengambil alih cadangan minyak Venezuela yang terbesar di dunia, berjanji akan mengizinkan perusahaan-perusahaan energi AS menginvestasikan miliaran dolar untuk merevitalisasi infrastruktur yang rusak parah di negara tersebut. Pernyataan ini muncul menyusul agresi militer AS yang diklaim berhasil menangkap Presiden Nicolás Maduro pada Sabtu, 3 Januari 2026, memicu spekulasi pasar energi global mengenai potensi kembalinya pasokan minyak Venezuela yang signifikan.
Venezuela tercatat memiliki cadangan minyak terbukti sebesar 303 miliar barel, setara dengan 17 persen dari total cadangan global, melampaui Arab Saudi yang memiliki 267 miliar barel dan Iran 209 miliar barel. Sebagian besar cadangan ini, terkonsentrasi di Sabuk Orinoco, terdiri dari minyak mentah berat dan ekstra-berat yang membutuhkan proses pengolahan khusus dan mahal, berbeda dengan minyak ringan yang mudah diekstraksi di Timur Tengah. Kilang-kilang di Pantai Teluk AS secara spesifik dirancang untuk mengolah jenis minyak ini, menjadikan akses ke pasokan Venezuela sangat strategis bagi Amerika Serikat.
Meskipun memiliki cadangan yang melimpah, produksi minyak Venezuela anjlok drastis. Dari puncaknya mencapai 3,5 juta barel per hari pada akhir 1990-an atau 1970-an, produksi saat ini berkisar antara 800.000 hingga 1,1 juta barel per hari, hanya sebagian kecil dari kapasitasnya dan produksi global. Penurunan tajam ini disebabkan oleh kombinasi salah urus, korupsi endemik dalam perusahaan minyak milik negara Petróleos de Venezuela S.A. (PDVSA), kurangnya investasi, dan infrastruktur yang menua — beberapa pipa minyak bahkan belum diperbarui selama hampir 50 tahun.
Pemerintahan Trump, yang memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Venezuela sejak 2017 dan sanksi minyak pada 2019, secara konsisten menekan rezim Maduro dengan alasan memerangi "terorisme narkoba" dan menegaskan tidak akan membiarkan rezim tersebut mendapatkan keuntungan dari ekspor minyak ilegal. Sanksi ini secara signifikan membatasi kemampuan Venezuela untuk menjual minyaknya ke AS, mendorong China menjadi pembeli utama, seringkali melalui negara perantara seperti Malaysia.
Rencana Trump untuk "mengambil alih" cadangan minyak Venezuela dan melibatkan perusahaan AS merupakan langkah yang, jika terealisasi, akan membalikkan kebijakan nasionalisasi industri minyak yang dimulai pada 1970-an dan diperkuat di bawah pemerintahan Hugo Chavez. Perusahaan seperti Exxon dan ConocoPhillips pernah beroperasi di Venezuela namun hengkang setelah aset mereka dinasionalisasi pada pertengahan 2000-an. Saat ini, Chevron adalah satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi di Venezuela di bawah lisensi khusus dari Departemen Keuangan AS, mengekspor sekitar 140.000 barel per hari ke kilang-kilang AS. Direktur Program Energi Amerika Latin Baker Institute Rice University, Francisco Monaldi, berpandangan Chevron akan menjadi pihak yang paling diuntungkan dari situasi ini.
Namun, pemulihan industri minyak Venezuela tidak akan terjadi dalam semalam. Analis minyak Kpler, Matt Smith, menyatakan bahwa untuk mengembalikan produksi ke level 2 juta barel per hari atau lebih tinggi, dibutuhkan "reformasi besar-besaran" dan investasi signifikan dari perusahaan minyak internasional. Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group, menambahkan bahwa hanya untuk menstabilkan produksi yang ada saja akan memerlukan miliaran dolar untuk perbaikan sumur, listrik, penanganan air, dan infrastruktur ekspor. Jorge Leon, Kepala Analisis Geopolitik di Rystad Energy, juga memperingatkan bahwa sejarah menunjukkan perubahan rezim yang dipaksakan jarang mampu menstabilkan pasokan minyak dengan cepat, mengutip Libya dan Irak sebagai preseden yang jelas. Di sisi lain, analis MST Marquee, Saul Kavonic, menilai bahwa jika perubahan kepemimpinan berjalan sukses dan diikuti oleh pencabutan sanksi serta kembalinya investor asing, ekspor minyak Venezuela berpeluang bangkit kembali.