Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Penjahit Keliling Berjuang: Seharian Bekerja, Pulang Tanpa Rupiah

2026-01-06 | 08:06 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-06T01:06:28Z
Ruang Iklan

Penjahit Keliling Berjuang: Seharian Bekerja, Pulang Tanpa Rupiah

Sugiarto, seorang penjahit keliling berusia 59 tahun dari Pekalongan, Jawa Tengah, telah menghabiskan hampir dua dekade mengais rezeki di jalanan Serang, Banten, seringkali menghadapi hari-hari di mana ia pulang tanpa membawa uang sepeser pun, mencerminkan realitas pahit mayoritas pekerja informal di Indonesia yang terhimpit ketidakpastian ekonomi. Kisah Sugiarto bukanlah anomali, melainkan gambaran umum dari 86,58 juta penduduk Indonesia yang bekerja di sektor informal pada Februari 2025, yang merupakan 59,40 persen dari total angkatan kerja, sebuah proporsi yang terus mendominasi namun rentan terhadap fluktuasi pasar dan minimnya perlindungan sosial.

Sejak memutuskan beralih profesi dari konveksi di Jakarta pada tahun 2005 karena biaya pendidikan anak-anak yang semakin tinggi, Sugiarto memilih menjadi penjahit keliling dengan modal terbatas, berkeliling dari satu kompleks ke kompleks lain. Penghasilannya bervariasi, terkadang mencapai satu juta rupiah dalam seminggu, namun seringkali ia tidak dapat memastikan berapa yang akan didapat setiap harinya. Kondisi ini menggarisbawahi tantangan utama pekerja informal: ketidakpastian penghasilan dan ketiadaan akses memadai terhadap jaminan sosial seperti asuransi kesehatan dan pensiun, yang dapat memberikan perlindungan finansial saat mereka menghadapi risiko.

Secara historis, penjahit keliling telah menjadi bagian integral dari lanskap perkotaan Indonesia, menawarkan jasa perbaikan pakaian yang cepat dan terjangkau kepada masyarakat. Profesi ini sering menjadi pilihan bagi mereka yang tidak memiliki modal cukup untuk menyewa tempat usaha atau terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari sektor formal. Namun, dalam dekade terakhir, sektor ini menghadapi tekanan signifikan. Mari Elka Pangestu, Direktur Pelaksana Pengembangan Kebijakan dan Kemitraan Bank Dunia, pernah memaparkan bahwa pekerja sektor jasa, termasuk tekstil dan informal, menjadi yang paling terdampak pandemi COVID-19. Asosiasi Pertekstilan Indonesia bahkan melaporkan 1,8 juta tenaga kerja dari sektor tekstil dirumahkan atau di-PHK akibat pandemi, memaksa banyak dari mereka beralih ke sektor informal.

Dampak ekonomi digital, yang seharusnya menawarkan peluang baru, juga menciptakan tantangan ganda. Meskipun teknologi digital dapat membantu pekerja informal memperluas jangkauan pasar melalui platform online, banyak penjahit keliling, seperti Sugiarto, masih beroperasi secara tradisional dan belum sepenuhnya mengadopsi inovasi tersebut. Riset menunjukkan bahwa penggunaan internet dapat secara signifikan memengaruhi pendapatan pekerja informal, namun ketimpangan akses dan pemahaman digital masih menjadi kendala. Dosen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, Dr. Hempri Suyatna, menjelaskan bahwa badai PHK menyebabkan banyak orang beralih ke usaha informal karena fleksibilitas dan modal kecil yang dibutuhkan, meski hal ini berpotensi mengurangi penerimaan pajak negara dan menimbulkan masalah tata kawasan.

Pemerintah berupaya menanggapi situasi ini dengan berbagai kebijakan, termasuk penyempurnaan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) dan pemberian stimulus ekonomi. Pada Januari 2026, pemerintah juga telah menetapkan diskon iuran BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja informal tertentu, termasuk ojek online, dan akan diperluas untuk pekerja informal non-transportasi mulai April 2026. Namun, para ahli seperti Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Sagara Institute, Piter Abdullah, mengingatkan bahwa pertumbuhan angkatan kerja baru setiap tahun jauh melampaui ketersediaan lapangan kerja formal, mendorong banyak orang memilih pekerjaan informal sebagai penopang hidup. Ekonom Makro Universitas Airlangga, Ahmad Syafii, menambahkan bahwa minimnya kesempatan kerja formal menjadi pemicu utama dominasi pekerja informal, dan mendorong sinergi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat, dan media untuk menciptakan lebih banyak pekerjaan formal.

Ke depan, keberlanjutan profesi penjahit keliling, dan sektor informal secara luas, akan sangat bergantung pada adaptasi terhadap perubahan ekonomi dan dukungan kebijakan yang tepat. Tanpa inovasi dalam model bisnis, peningkatan literasi digital, dan jaring pengaman sosial yang komprehensif, para penjahit keliling akan terus berjuang di tengah ketidakpastian, menghadapi risiko pulang dengan tangan hampa setelah seharian bekerja keras.