:strip_icc()/kly-media-production/medias/4112072/original/006568500_1659528503-IHSG_Ditutup_Menguat-Angga-2.jpg)
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung fluktuatif pada pembukaan perdagangan Kamis, 22 Januari 2026, setelah mencatat pelemahan 1,36% ke level 9.010,33 pada sesi sebelumnya dengan aksi jual bersih investor asing mencapai Rp1,88 triliun, kembali memicu investor untuk mencermati rekomendasi saham di tengah optimisme sektor-sektor strategis. Beberapa emiten, termasuk PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), menjadi sorotan dengan proyeksi dan analisis teknikal yang beragam.
Sektor energi, yang menjadi penopang utama ENRG, diproyeksikan menerima dorongan signifikan dari kebijakan pemerintah. Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 mengalokasikan Rp402,4 triliun untuk ketahanan energi, yang sebagian besar dialokasikan untuk subsidi dan kompensasi, serta investasi pada energi baru terbarukan dan infrastruktur. Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Dadan Kusdiana pada Juli 2025 menekankan potensi sektor ini menciptakan 6,2 juta lapangan kerja baru, didorong peningkatan kebutuhan listrik nasional. Di sisi lain, kinerja ENRG di tahun 2026 diperkirakan masih akan diwarnai oleh fluktuasi harga minyak global. Secara teknikal, analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana merekomendasikan "Spec Buy" untuk saham ENRG dengan target harga Rp1.580 hingga Rp1.655, dan stoploss di bawah Rp1.515. Sebelumnya, saham ENRG sempat menguat 29,65% dalam 12 hari terakhir, meskipun sempat terkoreksi saat IHSG melemah sebelum kembali naik 2,71% ke Rp1.615.
Sementara itu, sektor konsumer, yang diwakili oleh IMPC, menunjukkan prospek positif sepanjang 2026. Optimisme ini didukung oleh kenaikan upah minimum nasional rata-rata 5,7% dan kebijakan fiskal pemerintah yang ekspansif, termasuk peningkatan anggaran perlindungan sosial sebesar 8,6% menjadi Rp508,2 triliun. Faktor musiman seperti Ramadan dan Idul Fitri pada kuartal I 2026 juga diharapkan menjadi katalis kuat bagi sektor konsumer. BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan peringkat "overweight" untuk sektor ini, memproyeksikan pertumbuhan laba per saham (EPS) sebesar 8,6%. Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas merekomendasikan "Buy on Weakness" untuk IMPC.
Di sektor bahan baku baterai, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menarik perhatian investor asing dengan pembelian bersih mencapai Rp349,6 miliar dalam periode 12-15 Januari 2026. Saham MBMA direkomendasikan "Buy on Weakness" oleh MNC Sekuritas, dengan target harga Rp825 dan Rp880, serta stoploss di bawah Rp735. Sebelumnya, BRI Danareksa Sekuritas pada 6 Januari 2026 memproyeksikan MBMA dalam tren positif dengan potensi menyentuh Rp675-Rp695. Prospek MBMA didukung oleh perannya dalam hilirisasi nikel untuk baterai kendaraan listrik, termasuk proyek patungan dengan GEM Co. Ltd di Sulawesi Tengah. JPMorgan juga telah merevisi naik target harga saham-saham nikel, termasuk ANTM dan MDKA, menyusul reli harga nikel global.
Emiten pertambangan emas, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), terus menjadi fokus di tengah lonjakan harga emas dunia yang menembus level psikologis USD4.800 per troy ons pada 21 Januari 2026, didorong oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa terkait ancaman tarif bea masuk Presiden Donald Trump. Harga emas di pasar domestik juga mencatat rekor baru, dengan emas Antam mencapai Rp2.703.000 per gram pada 19 Januari 2026. Analis Phintraco Sekuritas melihat prospek jangka panjang emas tetap positif karena keterbatasan pasokan dan peningkatan permintaan industri. Michael Yeoh, pengamat pasar modal, pada 19 Januari 2026 menyoroti potensi kenaikan ANTM secara teknikal hingga Rp4.500. Ciptadana Sekuritas Asia pada 21 Januari 2026 merekomendasikan "Speculative Buy" untuk ANTM di harga Rp4.120.
Senada dengan ANTM, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) yang bergerak di industri emas perhiasan dan batangan, menargetkan pertumbuhan pendapatan dua digit pada 2026, ditopang oleh asumsi harga emas global yang stabil tinggi. Direktur Investor Relations Hartadinata Abadi Thendra Crisnanda pada 12 Januari 2026 menyampaikan bahwa perusahaan akan fokus pada pengendalian biaya dan penguatan porsi produk bernilai tambah seperti emas batangan dan produk investasi. Permintaan emas batangan dan produk investasi meningkat signifikan dari investor ritel dan institusional, seiring pergeseran preferensi konsumen dari perhiasan konsumtif ke produk emas dengan nilai investasi lebih tinggi. Meskipun demikian, HRTA mencatat aksi jual bersih investor asing sebesar Rp113,02 miliar pada 13 Januari 2026, menyebabkan harga sahamnya anjlok 6,86% ke Rp2.580. Tercatat, HRTA mencapai harga tertinggi sepanjang masanya pada 11 Januari 2026 di angka Rp2.800, dan sahamnya telah naik 604,42% dalam setahun terakhir. Pilarmas Investindo Sekuritas memasukkan HRTA dalam daftar rekomendasinya pada 22 Januari 2026. Kebijakan pajak ekspor emas yang akan berlaku mulai 2026 diharapkan mendorong peningkatan pasokan emas domestik dan memperkuat industri pemurnian serta manufaktur lokal.