:strip_icc()/kly-media-production/medias/5466008/original/069480300_1767787753-Baja.jpg)
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, melalui konsorsiumnya yang melibatkan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan PT Nindya Karya, serta KSO Rabana-Abipraya-SBS-Singgar, resmi menandatangani kontrak pengadaan pipa baja untuk proyek pipanisasi transmisi gas Dumai – Sei Mangkei (Dusem) Segmen 1 dan 2. Penandatanganan kontrak tersebut berlangsung pada Selasa, 6 Januari 2026, di Jakarta. Proyek strategis nasional ini menandai peran krusial industri baja domestik dalam mendukung ketahanan energi Indonesia, dengan Krakatau Steel Group menyuplai lebih dari 80.000 ton pipa baja melalui anak usahanya, PT Krakatau Pipe Industries (KPI).
Proyek Dusem dirancang untuk menjadi tulang punggung distribusi gas bumi, menghubungkan pasokan gas dari SKG Belawan hingga fasilitas di Duri, Sumatera, dengan total panjang mencapai 541 kilometer. Pipa baja yang digunakan memiliki spesifikasi ERW/HSAW API 5L X52 PSL 2 berdiameter 20 inci, termasuk pelapisan 3LPE anti-korosi, yang memenuhi standar mutu dan keselamatan tinggi untuk proyek infrastruktur energi. Proyek ini sendiri ditargetkan beroperasi penuh pada akhir tahun 2027.
Direktur Komersial, Pengembangan Usaha & Portofolio PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Hernowo, menegaskan bahwa kontribusi Krakatau Steel sangat signifikan dalam pemenuhan material utama proyek ini. Plt Direktur Produksi & Teknologi PT Krakatau Pipe Industries, Erwin Saputra, juga hadir dalam acara penandatanganan tersebut, yang disaksikan oleh Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Agung Kuswardono.
Proyek pipanisasi Dumai – Sei Mangkei merupakan bagian integral dari upaya pemerintah untuk memperluas akses gas bagi sektor industri, komersial, dan masyarakat, serta memitigasi potensi kelebihan pasokan gas di wilayah kerja Agung dan Andaman di Aceh. Dengan anggaran total sekitar Rp6,6 triliun, proyek ini akan menyambungkan jaringan pipa gas bumi dari Aceh hingga Jawa Timur setelah ruas Cirebon-Semarang (Cisem) Tahap II rampung pada 2025. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif sebelumnya menyatakan proyek ini sangat penting untuk monetisasi cadangan gas baru dan untuk membangun industri di sepanjang jalur pipa, termasuk pabrik pupuk dan petrokimia di Lhokseumawe.
Keterlibatan Krakatau Steel dalam proyek strategis ini menunjukkan kemampuan industri baja nasional dalam mendukung pembangunan infrastruktur berskala besar. Perusahaan baja pelat merah tersebut mencatatkan pendapatan sebesar US$954,59 juta atau sekitar Rp15,42 triliun sepanjang tahun 2024, naik Rp650 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun mencatatkan rugi bersih pada kuartal I-2025 sebesar US$46,91 juta akibat tekanan biaya produksi dan ketidakpastian pasar global, manajemen Krakatau Steel tetap optimistis terhadap perbaikan kinerja di masa depan, terutama dengan beroperasinya fasilitas Hot Strip Mill 1 (HSM#1) yang diharapkan berkontribusi signifikan pada laporan keuangan berikutnya.
Krakatau Steel telah secara konsisten menunjukkan komitmennya terhadap penggunaan produk dalam negeri, seperti dalam proyek pipanisasi BBM Cikampek-Plumpang dan suplai pipa untuk Blok Rokan. Dengan kapasitas produksi pipa baja spiral sebesar 150.000 ton per tahun dan pipa baja HFRW sebesar 200.000 ton per tahun, serta fasilitas pelapisan anti-korosi berkapasitas 800.000 meter persegi per tahun, Krakatau Steel Group berada pada posisi strategis untuk memenuhi kebutuhan baja nasional. Dukungan terhadap proyek-proyek PSN seperti Dusem merupakan upaya perusahaan untuk memperkuat kemandirian industri baja dan menekan impor, sejalan dengan visi pemerintah untuk mencapai Indonesia Emas 2045.
Proyek pipanisasi Dumai – Sei Mangkei diperkirakan akan memberikan dampak ekonomi berganda, termasuk mendukung harga gas yang lebih terjangkau, mengurangi subsidi LPG 3 kg hingga Rp420 miliar per tahun, penghematan devisa Rp720 miliar per tahun, serta potensi penerimaan negara dari hulu migas sebesar Rp1,89 triliun per tahun. Ini juga akan mendorong pertumbuhan kawasan industri di sepanjang jalur pipa, dari Belawan hingga Duri, serta menciptakan lapangan kerja. Penandatanganan kontrak ini mengukuhkan peran Krakatau Steel sebagai penyedia material baja utama dalam pembangunan infrastruktur energi nasional yang berkelanjutan.