Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kebangkitan Industri Keramik: Produksi Melonjak 15%

2026-01-04 | 11:22 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-04T04:22:33Z
Ruang Iklan

Kebangkitan Industri Keramik: Produksi Melonjak 15%

Industri keramik nasional Indonesia mencatatkan pemulihan signifikan sepanjang tahun 2025, dengan volume produksi yang melonjak sekitar 15% dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh serangkaian kebijakan pemerintah yang membatasi impor dan menstimulasi kapasitas domestik. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) melaporkan bahwa tingkat utilisasi produksi meningkat dari 66% pada tahun 2024 menjadi 73% pada tahun 2025, menjadikan Indonesia satu-satunya negara produsen keramik di Asia, Eropa, atau Amerika yang berhasil mencatatkan pertumbuhan utilisasi dan peningkatan kapasitas produksi di periode tersebut.

Sebelumnya, sektor keramik menghadapi tekanan berat akibat lonjakan impor dan penurunan daya saing, yang menghambat pemanfaatan kapasitas pabrik. Pada semester I-2024, tingkat utilisasi rata-rata industri keramik nasional hanya mencapai 60%, jauh di bawah potensi optimalnya. Kondisi ini diperparah oleh perlambatan daya beli masyarakat, sektor properti yang lesu, dan proyek-proyek pemerintah yang belum berjalan optimal, yang mengakibatkan stagnasi permintaan di pasar domestik.

Kebijakan strategis pemerintah, seperti implementasi Bea Masuk Anti Dumping (BMAD), kebijakan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib, serta perpanjangan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP), berperan krusial dalam meredam masuknya produk keramik impor, khususnya dari Tiongkok. Langkah ini memberikan ruang bagi industri dalam negeri untuk mengisi pasar yang sebelumnya didominasi produk asing. Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto, menegaskan bahwa kebijakan tersebut berhasil menjaga daya saing industri di tengah tekanan global. Selain itu, dukungan fiskal seperti Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ditanggung pemerintah, Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk kontraktor, dan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk 350.000 unit perumahan turut mendorong kinerja positif sektor ini.

Data ASAKI menunjukkan volume produksi keramik nasional pada periode Januari-Oktober 2025 mencapai sekitar 392,7 juta meter persegi, mencerminkan pertumbuhan sekitar 16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk keseluruhan tahun 2025, total volume produksi keramik nasional diperkirakan mencapai 474,5 juta meter persegi, naik 15,16% dari 412 juta meter persegi pada tahun 2024. Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier, menyatakan bahwa Indonesia, dengan kapasitas produksi 625 juta meter persegi per tahun, kini berada di posisi lima besar produsen keramik dunia dan optimistis dapat naik menjadi empat besar global dalam waktu dekat. Ia juga menyoroti investasi teknologi, seperti adopsi digital printing dan digital glazing, sebagai kunci untuk menghasilkan produk berukuran besar dengan presisi tinggi dan memenuhi standar mutu internasional.

Meskipun menunjukkan tren pemulihan, industri keramik nasional masih menghadapi beberapa tantangan. Edy Suyanto menyebutkan bahwa persaingan dengan produk impor masih menjadi perhatian, dengan adanya lonjakan volume impor dari negara-negara seperti Malaysia (sekitar 170%), Vietnam (130%), dan India (120%). ASAKI sedang mengumpulkan informasi mengenai indikasi praktik transshipment produk keramik dari Tiongkok melalui negara-negara tersebut untuk menghindari bea masuk anti-dumping. Selain itu, pasokan gas industri yang disertai biaya tambahan (surcharge) yang tinggi, serta alokasi gas industri tertentu (AGIT) yang belum optimal, masih menjadi kendala yang mengganggu daya saing dan menekan biaya produksi.

Memandang ke depan, ASAKI memproyeksikan tingkat utilisasi produksi industri keramik nasional akan terus meningkat hingga 78%-80% pada tahun 2026, dengan target volume produksi mencapai sekitar 537 juta meter persegi, tumbuh 13% dari realisasi 2025. Optimisme ini didukung oleh tren positif pada kuartal IV 2025, di mana utilisasi terus menanjak, mencapai 78% pada Desember 2025. Peningkatan pembangunan infrastruktur, properti, dan konstruksi di dalam negeri, serta tingkat konsumsi keramik per kapita Indonesia yang masih lebih rendah dibanding negara tetangga, mengindikasikan ruang pertumbuhan pasar domestik yang luas. Program pemerintah seperti pembangunan 3 juta rumah juga diharapkan dapat mendongkrak utilisasi hingga 10%-15%. Dukungan investasi dan kebijakan berkelanjutan dari pemerintah akan menjadi fundamental dalam mewujudkan ambisi Indonesia menjadi pemain utama di pasar keramik global.