
India secara fundamental mengubah pendekatan perdagangannya untuk menghadapi kebijakan tarif impor yang diberlakukan oleh mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, memprioritaskan diversifikasi pasar ekspor dan memperkuat perjanjian perdagangan bilateral di luar Washington. Pergeseran strategis ini muncul setelah Washington mengenakan tarif hingga 50% pada barang-barang India pada tahun 2025, yang dianggap sebagai salah satu tarif tertinggi yang dikenakan pada mitra dagang utama AS.
Kebijakan proteksionis pemerintahan Trump, yang dimulai dengan bea masuk baja dan aluminium pada tahun 2018, telah memicu respons yang berhati-hati namun tegas dari New Delhi. Pada masa jabatan pertama Trump, India membalas dengan mengenakan tarif pada 29 produk AS, termasuk almond dan apel. Namun, penarikan India dari Generalized System of Preferences (GSP) AS pada tahun 2019, yang sebelumnya memungkinkan ribuan produk India masuk bebas bea ke AS, menjadi titik balik signifikan yang mendorong India untuk mencari jalur perdagangan yang lebih mandiri.
Data ekspor terbaru menunjukkan dampak langsung dari tarif AS yang lebih tinggi. Ekspor India ke AS mengalami penurunan pada September dan Oktober 2025 di sektor-sektor tradisional seperti tekstil, permata dan perhiasan, serta barang-barang kulit. Namun, ekspor barang elektronik justru tumbuh signifikan sebesar 50,5%, terutama ekspor ponsel pintar. Bank of Baroda melaporkan bahwa eksportir India dengan cepat mengalihkan fokus mereka, dengan ekspor ke negara-negara lain di luar AS meningkat. Misalnya, pangsa pasar AS untuk produk laut India turun 13,6% pada September-Oktober 2025, sementara pangsa ekspor ke Tiongkok dan Thailand masing-masing naik menjadi 20,6% dan 7,3%.
Menteri Perdagangan India, Rajesh Agrawal, menyatakan bahwa ekspor gabungan barang dan jasa India mencapai rekor 825,25 miliar dolar AS pada tahun fiskal 2024-2025, menunjukkan pertumbuhan lebih dari 6% secara tahunan. Tren peningkatan ini berlanjut hingga tahun fiskal saat ini, dengan ekspor mencapai 562 miliar dolar AS selama periode April-November 2025. "Berdasarkan tren saat ini, ekspor India siap untuk memberikan pertumbuhan yang solid pada tahun 2026 juga," kata Agrawal, menyoroti perjanjian perdagangan bebas (FTA) baru dengan Inggris, Oman, dan Selandia Baru yang akan mulai berlaku tahun depan, meningkatkan akses pasar untuk ekspor barang dan jasa.
Kebijakan tarif Trump pada tahun 2025 juga dipicu oleh pembelian minyak Rusia yang terus-menerus oleh India di tengah konflik Rusia-Ukraina, yang dianggap Washington membantu mendanai mesin perang Rusia. India dengan tegas membela keputusannya, menyatakan bahwa impor minyak Rusia sangat penting untuk menjaga harga energi yang terjangkau bagi 1,4 miliar warganya dan merupakan "keharusan nasional yang vital". Kementerian Luar Negeri India menyebut penargetan India "tidak adil, tidak dapat dibenarkan, dan tidak masuk akal," mengingat negara-negara Barat sendiri masih melakukan perdagangan signifikan dengan Rusia.
Para ahli ekonomi menilai bahwa meskipun tarif AS menimbulkan tantangan, dampaknya terhadap pertumbuhan PDB India secara keseluruhan diperkirakan minimal, dengan beberapa perkiraan menyebutkan penurunan tidak lebih dari 0,1%. Laporan EY Economy Watch bahkan memproyeksikan India akan menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia dalam hal paritas daya beli (PPP) pada tahun 2038, melampaui Amerika Serikat, didukung oleh investasi yang kuat dan konsumsi yang tinggi. Dipanwita Mazumdar, seorang ekonom dari Bank of Baroda, menggarisbawahi bahwa meskipun AS tetap menjadi pasar ekspor yang dominan, India secara bertahap membangun saluran substitusi melalui jangkauan geografis yang lebih luas untuk mengurangi dampak tarif.
Strategi India saat ini juga mencakup upaya untuk merestrukturisasi produksi domestik dan meningkatkan daya saing ekspor melalui inisiatif seperti "Make in India" dan Skema Insentif Terkait Produksi (PLI). Pendekatan ini menunjukkan India tidak hanya bereaksi terhadap tekanan eksternal tetapi juga secara proaktif membentuk kembali lanskap perdagangannya untuk masa depan, menyeimbangkan proteksionisme selektif dengan ambisi integrasi global yang lebih dalam.