:strip_icc()/kly-media-production/medias/3020524/original/019309700_1578913886-20200113-Rupiah-Perkasa_-IHSG-Ditutup-Cerah--ANGGA-5.jpg)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup menguat 0,13 persen pada Rabu, 7 Januari 2026, mencapai level 8.944,80, didorong oleh ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter global dan sentimen positif domestik. Kenaikan ini menempatkan indeks selangkah lebih dekat untuk menembus level psikologis 9.000, sebuah target yang diyakini realistis oleh sejumlah analis pasar.
Penguatan signifikan IHSG pada penutupan perdagangan hari ini dipicu oleh proyeksi pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed) sepanjang tahun 2026. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyatakan bahwa pasar mengantisipasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed seiring dengan melemahnya data Purchasing Managers' Index (PMI) Jasa AS dari 52,9 menjadi 52,5. Sentimen positif tambahan datang dari bank sentral Tiongkok yang memberikan sinyal pemotongan suku bunga serta pengurangan persyaratan cadangan, bertujuan menstabilkan pertumbuhan ekonomi dan memastikan likuiditas.
Secara historis, awal tahun 2026 telah menunjukkan kinerja yang solid. IHSG membuka tahun dengan penguatan signifikan, melonjak 1,17 persen pada hari perdagangan pertama ke level 8.748,13. Lonjakan ini, menurut Chief Economist IQI Global Shan Saeed, menjadi sinyal kepercayaan investor yang semakin menguat terhadap pasar modal Indonesia. Sepanjang tahun 2025, IHSG telah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) sebanyak 24 kali, dengan kapitalisasi pasar menembus kisaran Rp16.000 triliun, menandakan kematangan struktur pasar modal nasional.
Meskipun rupiah melanjutkan depresiasinya di pasar spot pada level Rp16.780 per dolar AS hari ini, pelemahan ini belum mampu membendung laju IHSG yang diyakini masih memiliki fundamental kuat. Analis sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai bahwa proyeksi IHSG menembus level 10.000 pada akhir 2026, meski ambisius, tetap realistis berkat fondasi pasar modal Indonesia yang kokoh. Faktor pendorongnya meliputi pertumbuhan laba emiten berkapitalisasi besar, potensi kembalinya arus dana asing seiring ekspektasi penurunan suku bunga global, serta stabilitas makroekonomi domestik seperti inflasi yang terkendali.
Phintraco Sekuritas dalam analisanya menyebutkan bahwa secara teknikal, IHSG berpeluang menguji level psikologis 9.000. Namun, mereka juga mengingatkan potensi aksi ambil untung jangka pendek yang dapat menyebabkan minor pullback. Resistance terdekat berada di 8.970-9.000, sementara support di 8.850-8.900. Sektor industri memimpin penguatan hari ini dengan kenaikan 2,23 persen, diikuti oleh sektor barang konsumen non-primer dan barang baku. Sebaliknya, sektor transportasi dan logistik mencatat penurunan terdalam sebesar 1,03 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan optimisme bahwa IHSG dapat menembus level 10.000 pada akhir 2026, didukung oleh kebijakan pro-pasar dan reformasi struktural yang berkelanjutan. Analis dari BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan IHSG dapat mencapai 9.440 pada akhir 2026, didukung oleh pertumbuhan laba per saham (EPS) sekitar 8 persen. Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas Indonesia bahkan menargetkan IHSG bisa menembus 10.500 pada 2026.
Perjalanan menuju target 9.000 dan bahkan 10.000 tidak akan sepenuhnya mulus. Volatilitas nilai tukar rupiah, ketidakpastian geopolitik global, dan fluktuasi harga komoditas tetap menjadi risiko yang perlu dicermati investor. Namun, dengan dukungan kebijakan pemerintah yang mendorong pertumbuhan ekonomi, insentif fiskal seperti pembebasan PPh 21 dan perpanjangan PPN DTP, serta fundamental emiten yang kuat, pasar saham Indonesia berpotensi melanjutkan tren positifnya. Investor juga disarankan untuk selektif, fokus pada saham-saham berkapitalisasi besar dan menengah dengan fundamental kuat.