:strip_icc()/kly-media-production/medias/3020525/original/089022300_1578913886-20200113-Rupiah-Perkasa_-IHSG-Ditutup-Cerah--ANGGA-3.jpg)
PT Harum Energy Tbk (HRUM) mengumumkan rencana pembelian kembali saham perseroan senilai maksimal Rp335 miliar, langkah yang diambil untuk menjaga stabilitas pasar modal di tengah fluktuasi signifikan sekaligus meningkatkan nilai bagi pemegang saham. Pelaksanaan aksi korporasi ini dijadwalkan berlangsung selama sekitar tiga bulan, dimulai pada 5 Januari dan berakhir pada 17 Maret 2026.
Dana untuk buyback sepenuhnya bersumber dari kas internal perseroan, bukan dari hasil penawaran umum atau pinjaman. Manajemen HRUM meyakini bahwa perseroan memiliki modal kerja dan arus kas yang memadai sehingga pelaksanaan pembelian kembali saham tidak akan berdampak negatif material terhadap kegiatan operasional maupun kondisi keuangan perseroan. Buyback ini diharapkan dapat menyerap hingga 328,16 juta saham, setara dengan sekitar 2,43% dari total modal ditempatkan dan disetor perseroan, dengan nilai nominal Rp20 per saham. Saham hasil buyback akan dicatat sebagai saham treasuri, memberikan fleksibilitas bagi perseroan dalam mengelola modal jangka panjang dan berpotensi meningkatkan laba per saham (EPS) karena berkurangnya jumlah saham yang beredar di publik.
Langkah strategis HRUM ini juga dimungkinkan melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 13 Tahun 2023, yang mengizinkan perusahaan terbuka untuk melakukan pembelian kembali saham tanpa memerlukan persetujuan terlebih dahulu dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Regulasi ini bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi emiten dalam melakukan aksi korporasi dan menstabilkan harga saham di pasar.
Konteks rencana buyback ini muncul di tengah kinerja keuangan HRUM yang menunjukkan tekanan. Laba bersih Harum Energy turun signifikan 64,20% secara tahunan menjadi US$54,07 juta pada tahun 2024, dibandingkan US$151,04 juta pada tahun sebelumnya. Meskipun pendapatan perseroan tercatat naik 39,97% menjadi US$1,30 miliar pada tahun 2024, beban pokok pendapatan dan beban langsung juga melambung 86,34% menjadi US$1,01 miliar. Penurunan laba bersih juga terlihat pada Kuartal II 2024, yang tercatat Rp613,6 miliar, menurun dibandingkan Rp2,26 triliun pada periode yang sama di tahun 2023. Namun, laporan keuangan hingga Kuartal III 2025 menunjukkan pendapatan sebesar Rp6,20 triliun dan laba kotor Rp979 miliar, meskipun margin kotor masih terkompresi.
Keputusan buyback saham di tengah volatilitas pasar dan penurunan profitabilitas mengindikasikan upaya manajemen untuk memberikan sinyal positif kepada investor terkait valuasi perusahaan. Buyback kerap digunakan untuk menandakan bahwa saham perusahaan dinilai undervalued oleh manajemen internal. Upaya ini juga diharapkan dapat memperbaiki likuiditas perdagangan saham HRUM agar lebih mencerminkan fundamental perusahaan. PT Harum Energy Tbk sebelumnya juga pernah melakukan buyback saham, termasuk rencana alokasi Rp1 triliun yang disetujui dalam RUPSLB pada September 2024, dengan periode pelaksanaan hingga September 2025. Aksi buyback Rp335 miliar ini mencerminkan fleksibilitas HRUM dalam memanfaatkan arus kas internalnya untuk mengoptimalkan struktur permodalan dan meningkatkan kepercayaan investor di tengah dinamika pasar komoditas.