:strip_icc()/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)
Harga Bitcoin anjlok hingga menyentuh level Rp 1,52 miliar pada Jumat, 10 Januari 2026, sementara mayoritas aset kripto lainnya turut terperosok ke zona merah, menandai sentimen "ketakutan ekstrem" di pasar aset digital. Penurunan ini terjadi di tengah kekhawatiran makroekonomi global yang kembali mencuat dan ketidakpastian regulasi yang masih membayangi.
Pada pukul 16:00 UTC hari ini, Bitcoin (BTC) diperdagangkan pada Rp 1.524.576.439,11, mencatatkan penurunan signifikan dalam 24 jam terakhir. Mata uang kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar ini menunjukkan pelemahan setelah sempat berada di kisaran $90.523 USD. Ether (ETH), aset kripto terbesar kedua, juga mengalami tekanan, diperdagangkan di sekitar $3.081,44 setelah kehilangan 1,10% nilainya pada 9 Januari. Indeks Fear & Greed kripto terpantau berada di level 25, menunjukkan sentimen "ketakutan ekstrem" di kalangan investor.
Koreksi pasar ini merefleksikan perubahan cepat dari optimisme awal Januari 2026 yang sempat mendorong pasar naik. Awal tahun ditandai dengan harapan akan kondisi makroekonomi yang lebih lunak dan peningkatan minat institusional. Namun, data ekonomi terbaru, termasuk sinyal penguatan dolar AS dan berkurangnya ekspektasi pemotongan suku bunga agresif oleh Federal Reserve, telah memicu kembali kehati-hatian investor terhadap aset berisiko seperti kripto. Pada 9 Januari, Sekretaris Keuangan AS, Scott Bessent, bahkan mendesak Federal Reserve untuk mempercepat pemotongan suku bunga, meskipun pasar diperkirakan mengalami lebih sedikit pengurangan suku bunga pada 2026.
Di samping faktor makroekonomi, lingkungan regulasi yang belum pasti terus menjadi perhatian utama. Senat AS dijadwalkan untuk membahas undang-undang struktur pasar kripto pada 15 Januari, dengan beberapa isu krusial seperti kewajiban DeFi dan yurisdiksi regulasi masih menjadi titik perdebatan. Inggris juga mengambil langkah maju dalam kerangka regulasi aset kripto, dengan Otoritas Perilaku Keuangan (FCA) mengeluarkan panduan baru, yang menunjukkan pengetatan pengawasan di yurisdiksi utama.
Meskipun demikian, beberapa analis melihat pergerakan saat ini sebagai fase konsolidasi daripada penarikan pasar yang lebih dalam. Matt Hougan, kepala investasi Bitwise, sebelumnya menyoroti pentingnya kelulusan undang-undang kripto AS, CLARITY Act, sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan di tahun 2026. Namun, penolakan investor untuk mendorong harga lebih tinggi menunjukkan bahwa sentimen saat ini belum memiliki kedalaman yang cukup untuk mempertahankan reli berkelanjutan.
Di antara altcoin, Solana (SOL) berhasil menunjukkan kenaikan, naik 2,9% menjadi $138 pada 9 Januari, didorong oleh kebangkitan ekosistemnya dan minat institusional. Sektor koin AI dan meme juga menunjukkan kinerja awal yang kuat pada 2026, melanjutkan tren dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, sebagian besar altcoin utama, termasuk Ethereum, mencatatkan penurunan sejalan dengan Bitcoin. XRP, yang sempat melonjak 25% di awal Januari, kini menunjukkan kinerja yang lebih terkendali seiring volatilitas yang meningkat.
Pandangan ke depan pasar kripto sangat bergantung pada perkembangan kebijakan bank sentral dan kejelasan regulasi. Jika kekhawatiran makroekonomi mereda dan kerangka regulasi yang jelas terbentuk, pasar dapat menemukan pijakan untuk pemulihan. Namun, dalam jangka pendek, investor diperkirakan akan tetap berhati-hati, memantau data ekonomi global dan perkembangan regulasi sebelum berkomitmen pada pergerakan pasar yang lebih besar.