:strip_icc()/kly-media-production/medias/3020527/original/046868200_1578913888-20200113-Rupiah-Perkasa_-IHSG-Ditutup-Cerah--ANGGA-2.jpg)
Danantara Investment Management secara tegas menyatakan valuasi saham-saham Indonesia masih menarik pada awal Januari 2026, didorong oleh pergeseran kebijakan fiskal dan moneter yang pro-pertumbuhan serta fundamental ekonomi domestik yang kuat. Proyeksi ini datang bersamaan dengan ekspektasi beberapa institusi lain yang melihat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mencapai level 9.700 hingga 10.000 pada akhir tahun ini, mengindikasikan prospek pasar modal yang positif setelah periode konsolidasi.
Penilaian Danantara, yang tertuang dalam "Danantara Economic Outlook 2026", menyoroti perubahan signifikan dalam arah kebijakan pemerintah dari penyesuaian menuju strategi yang lebih agresif mendukung pertumbuhan. Percepatan belanja negara dan penguatan permintaan domestik, khususnya melalui program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), dipandang sebagai katalis utama. Selain itu, pelonggaran kebijakan moneter yang Bank Indonesia lakukan sepanjang tahun 2025 diperkirakan akan sepenuhnya menyalurkan dampaknya pada pertumbuhan kredit dan aktivitas usaha di tahun 2026. Bank Indonesia memiliki ruang untuk memangkas suku bunga acuan ketika nilai dolar Amerika Serikat melemah.
Pasar saham Indonesia menutup tahun 2025 dengan kinerja impresif, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai rekor sekitar 8.710 poin dan mencatat reli sekitar 20 persen, menjadi performa tahunan terkuat dalam dua belas tahun terakhir. Pada 9 Januari 2026, IHSG naik ke 8.937 poin, meningkat 0,13% dari sesi sebelumnya dan telah naik 26,07% dibandingkan waktu yang sama tahun lalu. Valuasi IHSG, yang tercermin dari rasio Price-to-Earnings (P/E) di level 15,320 pada Desember 2025, dianggap relatif lebih murah dibandingkan pasar negara maju. Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research, Herald van der Linde, menyoroti rendahnya eksposur investor global terhadap saham Indonesia serta valuasi yang masih terjangkau, khususnya pada saham perbankan dan konsumsi. Proyeksi HSBC menargetkan IHSG di level 9.700. Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan IHSG mencapai 9.440 pada akhir 2026, dengan pertumbuhan laba per saham (EPS) sekitar 8% secara tahunan dan rasio P/E di kisaran 14 kali, sejalan dengan rata-rata historis.
Danantara sendiri akan menjadi pemain kunci di pasar modal mulai Januari 2026. Dengan dana kelolaan sekitar Rp 165 triliun yang berasal dari dividen BUMN dan penjualan Patriot Bond, kehadiran BPI Danantara diharapkan dapat menyuplai likuiditas baru dan mengangkat kembali aktivitas transaksi harian investor domestik yang sempat menurun menjadi Rp 2,24 triliun per September 2025. JPMorgan, dalam risetnya pada 2 Desember 2025, menyebut Danantara sebagai "value-up story" bagi Indonesia, berkat peran strategisnya dalam reformasi BUMN, penyaluran investasi, dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi. Aksi Danantara juga telah terlihat berdampak positif pada saham BUMN. Pada tahun 2025, saham Krakatau Steel melonjak 243 persen, PT Timah 221 persen, dan Garuda Indonesia 187 persen, didorong oleh perbaikan fundamental dan dukungan kebijakan strategis.
Di sisi makroekonomi, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 tetap solid. HSBC Global Research memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen, sedikit di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 4,9% hingga 5,7%. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan target pertumbuhan 5,0 hingga 5,4 persen didorong oleh penguatan konsumsi rumah tangga, investasi sektor riil, serta keberlanjutan reformasi struktural ekonomi nasional. Konsumsi domestik dipandang sebagai penggerak utama.
Meskipun optimisme ini, risiko eksternal tetap menjadi perhatian. Pemulihan ekonomi global yang relatif lambat, dengan estimasi pertumbuhan sekitar 3,0% pada 2025 menurut Bank Indonesia, menandakan potensi pelemahan permintaan dari negara mitra dagang. Ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global, dinamika geopolitik, pergerakan nilai tukar rupiah, hingga potensi spekulasi berlebihan pada saham-saham tertentu juga perlu dicermati. Namun, para analis umumnya berpendapat bahwa risiko-risiko ini lebih bersifat "noise" dibandingkan penghalang tren kenaikan. Investor disarankan untuk menerapkan strategi selektif dan bertahap, berfokus pada saham-saham berkapitalisasi besar dan likuiditas kuat, dipadukan dengan sektor defensif.