
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan sejumlah besar jalur rel kereta api di berbagai wilayah Sumatera rusak parah dan bahkan tersapu banjir serta longsor yang melanda provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sepanjang akhir November hingga Desember 2025, mengganggu mobilitas dan menuntut alokasi anggaran baru untuk pengadaan rel. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Bencana DPR pada Selasa, 30 Desember 2025, menyoroti dampak serius bencana alam terhadap sektor transportasi darat.
Kerusakan pada infrastruktur perkeretaapian ini disebut Dudy sebagai yang terparah dibandingkan moda transportasi lain, dengan banyak rel yang "habis disapu dengan air" sehingga memerlukan survei lebih lanjut untuk menghitung kebutuhan dana dan kemungkinan pengadaan jalur baru. Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan, melalui Direktur Jenderal Allan Tandiono, sebelumnya telah melaporkan bahwa bencana ini menyebabkan kerusakan di berbagai titik dan mengganggu layanan kereta api di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Allan menyatakan fokus utama adalah rehabilitasi jalur yang terdampak dengan memperhatikan kondisi cuaca dan keselamatan petugas.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, melalui Executive Vice President of Marketing and Business Development Krisna Arianto, mengonfirmasi upaya percepatan perbaikan jalur kereta api lintas Medan-Binjai dan Aceh Utara yang terputus. Krisna merinci adanya puluhan titik "gogosan" atau longsor akibat tergerus aliran air pada fondasi rel. Di Aceh, ditemukan 21 titik gogosan pada petak Stasiun Krueng Geukueh–Stasiun Bungkaih, 3 titik di Stasiun Bungkaih–Stasiun Krueng Mane, dan 3 titik lainnya di Stasiun Krueng Mane–Stasiun Geurugok. Kerusakan ini menyebabkan penghentian sementara operasional KA Srilelawangsa rute Medan-Binjai dan KA Cut Meutia yang melayani lintas Aceh. Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin bahkan telah meninjau langsung lokasi terdampak untuk memantau proses normalisasi.
Selain infrastruktur kereta api, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti melaporkan total 1.666 titik kerusakan infrastruktur di tiga provinsi terdampak hingga 6 Desember 2025, dengan Sumatera Barat mencatat 914 titik, Aceh 477 titik, dan Sumatera Utara 275 titik. Menteri PU Dody Hanggodo menambahkan, kerusakan mencakup 76 ruas jalan nasional sepanjang 2.058 km dan 31 jembatan nasional sepanjang 2.537 meter, serta 108 ruas jalan dan 49 jembatan daerah. Meskipun demikian, Menhub Dudy Purwagandhi menyebut fasilitas bandara dan pelabuhan relatif aman dari dampak bencana.
Perbaikan jalur rel di Sumatera Utara dilaporkan sudah rampung, memungkinkan layanan perkeretaapian kembali normal. Namun, untuk wilayah Aceh, perbaikan direncanakan akan dimulai pada Januari 2026 dan diperkirakan memerlukan waktu lama akibat tingkat kerusakan yang parah. Kementerian Perhubungan telah mengalokasikan anggaran untuk perbaikan, dan Menhub Dudy juga membuka ruang koordinasi dengan pemerintah daerah untuk dukungan armada transportasi jika diperlukan. Kondisi ini menggarisbawahi urgensi mitigasi bencana dan peningkatan ketahanan infrastruktur di Sumatera yang rentan terhadap cuaca ekstrem.