
Pemerintah China pada akhir tahun 2023 memberlakukan pembatasan ekspor terhadap grafit, mineral penting yang krusial untuk produksi baterai kendaraan listrik dan berbagai industri berteknologi tinggi, memicu kecaman keras dari Jepang dan kekhawatiran global akan gangguan rantai pasokan. Langkah Beijing ini, yang mulai berlaku pada 1 Desember 2023, mengharuskan eksportir grafit mengajukan izin untuk mengirimkan produknya ke luar negeri, sebuah mekanisme yang secara efektif dapat mengontrol aliran pasokan mineral tersebut secara signifikan.
Pembatasan ini menyusul kontrol serupa yang diterapkan China pada Agustus 2023 terhadap gallium dan germanium, dua logam tanah jarang lainnya yang vital dalam semikonduktor dan telekomunikasi. Langkah-langkah ini secara luas diinterpretasikan sebagai balasan terhadap upaya Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Jepang, untuk membatasi akses China terhadap teknologi semikonduktor canggih. China mengklaim pembatasan ekspornya didasarkan pada alasan keamanan nasional, namun para kritikus melihatnya sebagai tindakan pemaksaan ekonomi.
Tokyo dengan tegas menyuarakan keberatannya atas pembatasan ekspor grafit. Menteri Perdagangan Jepang, Yasutoshi Nishimura, menyatakan kekhawatiran serius bahwa langkah China dapat berdampak pada rantai pasokan global dan menyerukan Beijing untuk menjelaskan niatnya sesuai dengan aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Jepang sangat bergantung pada China untuk pasokan grafitnya. Pada tahun 2022, Jepang mengimpor sekitar 90% dari total kebutuhan grafit alamnya dari China, sebuah ketergantungan yang menyoroti kerentanan Jepang terhadap kebijakan ekspor Beijing.
Analis industri menunjukkan bahwa pembatasan ekspor grafit ini berpotensi memukul produsen baterai dan otomotif Jepang, yang berinvestasi besar-besaran dalam transisi ke kendaraan listrik. Grafit adalah komponen kunci dalam anoda baterai ion-litium, dan sulit untuk digantikan dalam skala besar dalam jangka pendek. Perusahaan-perusahaan seperti Panasonic Holdings Corp., pemasok baterai utama untuk Tesla, telah mulai menjajaki sumber grafit non-China, namun diversifikasi memerlukan waktu dan investasi substansial.
Secara historis, China telah menggunakan dominasinya dalam pasokan mineral strategis sebagai alat kebijakan luar negeri. Contoh paling menonjol adalah ketika China secara tidak resmi membatasi ekspor mineral tanah jarang ke Jepang pada tahun 2010 menyusul sengketa maritim. Insiden tersebut mendorong Jepang untuk secara agresif mencari sumber pasokan alternatif dan berinvestasi dalam teknologi daur ulang, meskipun upaya tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan ketergantungan pada China.
Dampak jangka panjang dari pembatasan ekspor ini diperkirakan akan mempercepat upaya global untuk mendiversifikasi rantai pasokan mineral kritis dari China, mendorong investasi dalam penambangan dan pemrosesan di negara lain, serta memacu inovasi dalam material alternatif. Namun, dalam jangka pendek, perusahaan-perusahaan di Jepang dan negara lain mungkin menghadapi peningkatan biaya dan ketidakpastian pasokan, yang dapat memperlambat adopsi teknologi ramah lingkungan yang sangat bergantung pada mineral ini. Ketegangan perdagangan yang meningkat ini juga menggarisbawahi fragmentasi ekonomi global yang lebih luas dan dorongan negara-negara untuk mengamankan sumber daya penting demi kepentingan keamanan nasional mereka.