Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

China Akselerasi IPO Perusahaan Roket

2026-01-07 | 15:13 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-07T08:13:38Z
Ruang Iklan

China Akselerasi IPO Perusahaan Roket

Bursa Efek Shanghai (SSE) pada akhir Desember 2025 secara signifikan melonggarkan persyaratan penawaran umum perdana (IPO) bagi perusahaan pengembang roket yang berfokus pada teknologi roket yang dapat digunakan kembali, menghilangkan ambang batas profitabilitas dan pendapatan demi prioritas pencapaian teknis. Perubahan kebijakan ini, yang diumumkan oleh SSE dan didukung oleh Komisi Regulasi Sekuritas Tiongkok (CSRC), bertujuan untuk mempercepat akses pendanaan bagi startup ruang angkasa komersial di pasar STAR yang berorientasi teknologi. Langkah ini menggarisbawahi upaya strategis Beijing untuk menantang dominasi Amerika Serikat, khususnya SpaceX, dalam industri peluncuran antariksa yang semakin kompetitif dan mahal.

Keputusan regulator Tiongkok untuk memprioritaskan kemajuan teknologi daripada metrik keuangan tradisional menandai pergeseran substansial dalam pendekatan negara terhadap pasar modal dan sektor luar angkasanya. Di bawah panduan baru, perusahaan yang mengajukan IPO di pasar STAR kini hanya perlu menunjukkan setidaknya satu peluncuran orbit yang sukses menggunakan teknologi roket yang dapat digunakan kembali untuk memenuhi syarat. Persyaratan ini berlaku bahkan jika pemulihan pendorong roket belum berhasil disempurnakan. LandSpace, salah satu perusahaan roket swasta terkemuka Tiongkok, menjadi entitas pertama yang pengajuan IPO-nya diterima berdasarkan proses jalur cepat ini pada 1 Januari 2026, setelah menyelesaikan proses bimbingan pencatatan pada 23 Desember 2025. Perusahaan yang berbasis di Beijing ini menargetkan pengumpulan dana sebesar 7,5 miliar yuan (sekitar 1 miliar dolar AS) dari IPO-nya di Shanghai.

Kebijakan baru ini berakar pada strategi yang lebih luas yang dimulai pada tahun 2014 dan 2015 ketika Dewan Negara Tiongkok mengeluarkan "Dokumen 60," secara resmi membuka sektor luar angkasanya untuk investasi swasta. Sebelum reformasi ini, aktivitas luar angkasa Tiongkok hampir sepenuhnya berada di bawah kendali perusahaan milik negara seperti China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC) dan China Aerospace Science & Industry Corporation (CASIC). Sejak itu, industri luar angkasa komersial Tiongkok telah berkembang pesat, dengan lebih dari 600 perusahaan swasta aktif di berbagai segmen, mulai dari layanan peluncuran hingga pembuatan satelit dan aplikasi hilir. Nilai industri ini diproyeksikan mencapai 320 miliar dolar AS pada tahun 2024, dengan tingkat pertumbuhan tahunan yang mencapai 22,3% sejak reformasi dimulai.

Dorongan untuk mempermudah IPO mencerminkan urgensi Tiongkok dalam mengejar kemampuan teknologi roket yang dapat digunakan kembali, di mana SpaceX milik Elon Musk saat ini memegang monopoli virtual dengan Falcon 9-nya. Beijing melihat dominasi SpaceX dalam penempatan satelit orbit rendah Bumi sebagai masalah keamanan nasional, terutama karena Tiongkok berambisi membangun konstelasi satelitnya sendiri, seperti Guowang (SatNet) dan Qianfan, yang diperkirakan akan mencakup puluhan ribu satelit. Akses yang lebih mudah ke pasar modal domestik diharapkan akan memungkinkan perusahaan seperti LandSpace, Galactic Energy, dan i-Space untuk meningkatkan pendanaan yang diperlukan untuk penelitian, pengujian, dan penskalaan sistem peluncuran yang dapat digunakan kembali. LandSpace, misalnya, telah menyatakan bahwa pengembangan roket yang padat modal menuntut akses ke pasar modal Tiongkok jika ingin bersaing secara global. Perusahaan ini meluncurkan roket Zhuque-3 pada 3 Desember 2025, yang berhasil menempatkan satelit ke orbit, meskipun upaya pemulihan pendorong belum berhasil. LandSpace berencana untuk melakukan upaya pemulihan pendorong yang sukses pada pertengahan 2026.

Secara finansial, sektor luar angkasa komersial Tiongkok telah menarik investasi yang signifikan. Sejak 2020, perusahaan luar angkasa komersial Tiongkok telah mengumpulkan lebih dari 5 miliar dolar AS dalam pendanaan, dengan dukungan keuangan yang terbagi antara dana industri yang dipimpin negara dan modal ventura swasta. Pada tahun 2024, total investasi di sektor luar angkasa komersial Tiongkok melebihi 15 miliar yuan, meningkat hampir 40% dibandingkan tahun 2023. Bahkan, Tiongkok untuk pertama kalinya melampaui AS dalam hal pendanaan VC/PE untuk startup teknologi luar angkasa pada tahun 2024, dengan 2,7 miliar dolar AS dibandingkan 2,6 miliar dolar AS di AS. Relaksasi aturan IPO ini diharapkan dapat memicu gelombang pencatatan baru, menarik investor domestik dan internasional yang tertarik pada pasar luar angkasa Asia yang berkembang pesat.

Implikasi jangka panjang dari perubahan kebijakan ini mencakup percepatan komersialisasi teknologi roket yang dapat digunakan kembali di Tiongkok, dengan efek berantai pada biaya peluncuran yang lebih rendah, ketersediaan data yang lebih tinggi, dan efisiensi lingkungan dari operasi luar angkasa. Selain itu, ini memperkuat tujuan Tiongkok untuk mencapai kemandirian teknologi, meningkatkan daya saing global, dan mengamankan kehadiran yang lebih kuat di luar angkasa. Kebijakan ini juga selaras dengan rencana aksi yang lebih luas dari Administrasi Luar Angkasa Nasional Tiongkok (CNSA) untuk mempromosikan pengembangan berkualitas tinggi dan aman dari luar angkasa komersial dari tahun 2025 hingga 2027, termasuk pembentukan Departemen Luar Angkasa Komersial sebagai regulator khusus. Pergeseran regulasi ini mengubah pasar modal sebagai alat kebijakan untuk menutup kesenjangan teknologi dan membangun skala dengan cepat, mencerminkan tren yang dapat meluas ke sektor-sektor strategis lainnya.