Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Bitcoin Tertekan 2%, Indeks Fear & Greed Ungkap Kekhawatiran Investor di Pasar Kripto

2026-01-09 | 00:16 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-08T17:16:23Z
Ruang Iklan

Bitcoin Tertekan 2%, Indeks Fear & Greed Ungkap Kekhawatiran Investor di Pasar Kripto

Bitcoin mengalami penurunan harga 2,07% dalam 24 jam terakhir pada Kamis, 8 Januari 2026, diperdagangkan di level sekitar 90.903 dolar AS, setelah sebelumnya sempat menyentuh level 89.000 dolar AS. Koreksi ini menempatkan kapitalisasi pasar Bitcoin di sekitar 31,409 triliun rupiah, dengan volume perdagangan 24 jam yang menurun 28% menjadi 817,82 triliun rupiah. Bersamaan dengan itu, Indeks Fear and Greed Kripto, sebuah indikator sentimen pasar, kembali ke zona "Fear" dengan nilai 44 pada 6 Januari 2026, setelah sempat menunjukkan nilai 26 sehari sebelumnya, menandakan meredanya ketakutan signifikan di pasar. Namun, beberapa laporan mengindikasikan bahwa indeks ini sempat berada di zona "Extreme Fear" pada awal Januari, sebelum bergerak naik ke netral pada 6 Januari.

Penurunan harga ini terjadi di tengah periode konsolidasi setelah reli yang mengesankan di awal tahun 2026, di mana Bitcoin sempat tertolak di kisaran 94.000 dolar AS dan gagal bertahan di atas 100.000 dolar AS pada akhir tahun sebelumnya. Koreksi ini bukan hanya terjadi pada Bitcoin, tetapi juga memengaruhi pasar kripto global secara luas, dengan kapitalisasi pasar kripto global menyusut lebih dari 3% menjadi 3,12 triliun dolar AS. Altcoin utama seperti Ethereum, BNB, XRP, Solana, dan Dogecoin juga mengalami pelemahan serentak, mengonfirmasi bahwa pasar sedang dalam mode pengurangan risiko.

Sejumlah faktor makroekonomi turut membebani sentimen pasar. Data ekonomi Amerika Serikat, khususnya laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) periode November yang mencatat 7,1 juta lowongan pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi 7,6 juta, memperkuat sinyal perlambatan ekonomi AS. Meskipun data tenaga kerja yang melemah secara fundamental seharusnya mendukung aset berisiko seperti Bitcoin karena meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed), pasar dalam jangka pendek masih dibayangi oleh aksi ambil untung, tekanan ETF, dan penyesuaian leverage. Arus keluar dana dari Spot Bitcoin ETF juga menjadi pemicu tekanan, tercatat net outflow sebesar 243,24 juta dolar AS pada 6 Januari, berbanding terbalik dengan arus masuk yang besar di awal tahun. Aktivitas penjualan dari penambang (miner) serta likuidasi posisi derivatif juga mempercepat koreksi ini, dengan lebih dari 64 juta dolar AS posisi Bitcoin terlikuidasi dalam 24 jam terakhir.

Fyqieh Fachrur, seorang analis dari Tokocrypto, menuturkan bahwa pergerakan saat ini lebih mencerminkan konsolidasi sehat setelah reli yang kuat. Dia menambahkan bahwa selama Bitcoin mampu bertahan di atas area support kunci, ada potensi pembalikan. Secara historis, fase "Fear" dalam Indeks Fear and Greed seringkali dipandang sebagai peluang akumulasi bagi investor jangka panjang, meskipun membutuhkan manajemen risiko yang cermat. Namun, dinamika pasar telah berubah, dengan korelasi Bitcoin terhadap aset makro seperti pasar saham teknologi semakin meningkat, membuat siklus empat tahunan Bitcoin menjadi kurang relevan. Transformasi ini menunjukkan bahwa industri kripto bergerak menuju pasar yang lebih terstruktur dengan integrasi institusional dan fungsi sistemik, bukan lagi sekadar spekulasi liar. Pelaku pasar kini memantau reaksi harga di level support utama dan indikator seperti volume perdagangan, funding rate, serta open interest untuk membaca arah pasar berikutnya.