:strip_icc()/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)
Perdebatan sengit tengah merebak di kalangan investor dan analis kripto mengenai relevansi siklus empat tahunan Bitcoin, sebuah pola historis yang selama ini menjadi pedoman utama pergerakan harga. Sejumlah pakar meyakini bahwa dominasi modal institusional dan faktor makroekonomi telah mengubah dinamika pasar, membuat siklus yang dipicu oleh peristiwa halving tidak lagi menjadi penentu tunggal. Tahun 2025 menjadi anomali signifikan, menandai pertama kalinya Bitcoin menutup tahun pasca-halving dengan kinerja negatif, yakni penurunan hampir 28% pada kuartal keempat tahun 2025.
Secara historis, siklus empat tahunan Bitcoin ditandai oleh reli harga setelah setiap peristiwa halving, ketika imbalan penambangan Bitcoin dipangkas setengah, yang secara teoritis mengurangi pasokan baru dan memicu kenaikan harga. Halving terjadi kira-kira setiap empat tahun atau setiap 210.000 blok ditambang. Halving pertama pada November 2012 melihat harga Bitcoin melonjak dari sekitar $10,26 menjadi $13,42 sebulan setelahnya, bahkan mencapai lebih dari $1.000 dalam setahun. Halving 2016 diikuti kenaikan dari sekitar $583,11 menjadi sekitar $597,50 sebulan kemudian, dengan harga mencapai $2.550 pada Juli 2017. Pasca-halving 2020, harga Bitcoin yang sekitar $6.909,95 naik menjadi $9.850 sebulan kemudian, sebelum melambung ke sekitar $60.000 pada Maret 2021.
Namun, dinamika ini mulai bergeser setelah halving April 2024. Kenaikan harga Bitcoin setahun setelah halving 2024 hanya sekitar 43,4%, jauh di bawah lonjakan ratusan hingga ribuan persen pada siklus sebelumnya. Menurut Pintu News, puncak harga Bitcoin pada tahun 2025 runtuh dari sekitar $126.000, menimbulkan pertanyaan tentang validitas siklus empat tahunan itu sendiri.
Pergeseran ini utamanya didorong oleh masuknya modal institusional. Persetujuan dan peluncuran Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat pada Januari 2024 secara signifikan menurunkan hambatan teknis dan operasional bagi investasi institusional. Dana institusional kini menjadi kekuatan utama yang mengalir ke aset digital, mengubah pola yang sebelumnya banyak didorong oleh investor ritel. ETF Bitcoin spot telah mencatat arus masuk bersih lebih dari $54,75 miliar sejak diluncurkan, dengan iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock mengelola lebih dari $90 miliar dalam bentuk Bitcoin. Data terbaru hingga 12 Januari 2026, menunjukkan arus masuk bersih ke ETF Bitcoin spot sebesar $116,7 juta, dengan total akumulasi arus masuk mencapai $56,52 miliar. Institusi seperti Fidelity juga terlihat meningkatkan kepemilikan Bitcoin dalam jumlah besar, sementara MicroStrategy terus mengakumulasi Bitcoin sebagai bagian dari strategi manajemen keuangan perusahaan. Kepemilikan Bitcoin oleh 100 perusahaan besar kini mencapai hampir 1 juta BTC, mengurangi dominasi efek halving.
Selain itu, faktor makroekonomi kini memainkan peran yang lebih besar dalam menentukan arah harga Bitcoin. Kebijakan suku bunga, likuiditas global, inflasi, dan kondisi ekonomi dunia secara keseluruhan kini lebih memengaruhi harga Bitcoin daripada sekadar siklus halving. Bitcoin kini menunjukkan korelasi yang lebih kuat dengan aset makro seperti pasar saham dan indeks global. Arthur Hayes, co-founder BitMEX, menyatakan bahwa siklus empat tahunan Bitcoin telah berakhir, dengan likuiditas global sebagai pendorong utama baru. Dia berpendapat bahwa harga Bitcoin tidak akan turun selama Amerika Serikat dan Tiongkok mengejar kebijakan moneter ekspansif. Goldman Sachs juga menyoroti peningkatan regulasi sebagai pendorong utama adopsi kripto institusional berkelanjutan.
Meskipun demikian, beberapa analis berpendapat bahwa siklus tersebut tidak sepenuhnya hilang, tetapi mungkin berubah bentuk atau menjadi lebih panjang, terikat pada gelombang likuiditas global daripada hanya halving. Ada pula pandangan bahwa masuknya modal institusional telah mendistorsi garis waktu siklus dengan menarik permintaan ke depan, menyebabkan puncak harga terjadi sebelum halving, namun efek kelangkaan dari halving pada akhirnya akan tetap terasa. Matthew Hougan, Chief Investment Officer Bitwise Asset Management, menyatakan bahwa siklus empat tahunan sedang digantikan oleh "bull run dekade" yang didorong oleh ETF, kemajuan regulasi, dan stablecoin. Sebastian Bea, CIO ReserveOne, menambahkan bahwa investor institusional menciptakan kekuatan stabilisasi di pasar dengan membeli Bitcoin untuk menjaga keseimbangan portofolio saat harga turun, sehingga penurunan tajam 60-80% di masa lalu digantikan oleh penurunan yang lebih bertahap.
Dalam pandangan David Puell, analis dan manajer portofolio Ark Invest, Bitcoin telah melewati ambang signifikan menuju kematangan institusional dengan gabungan kepemilikan ETF dan perbendaharaan aset digital mencapai sekitar 12% dari total pasokan Bitcoin. Puell memprediksi bahwa, didorong oleh narasi "emas digital" dan adopsi institusional, Bitcoin dapat mencapai antara $300.000 hingga $1,5 juta pada tahun 2030, dengan volatilitas yang berkurang dan penurunan harga yang semakin sempit. Investor kini harus mempertimbangkan Bitcoin sebagai aset makro yang digerakkan oleh likuiditas, bukan lagi sekadar eksperimen spekulatif yang mengikuti pola historis belaka.