:strip_icc()/kly-media-production/medias/3626297/original/087718800_1636365636-8_november_2021-3.jpeg)
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) secara resmi mengakhiri operasional salah satu entitas anak usahanya di Hong Kong, BCA Finance Limited, efektif per 3 Januari 2026, sebagai langkah strategis perseroan dalam mengoptimalisasi pengelolaan sumber daya dan menyesuaikan diri dengan pergeseran perilaku nasabah ke layanan digital. Informasi ini diterima oleh perseroan dari Hong Kong Company Registry pada tanggal yang sama dan kemudian diumumkan kepada publik melalui Bursa Efek Indonesia pada 5 Januari 2026.
BCA Finance Limited, yang 100% sahamnya dikendalikan oleh BBCA, selama ini beroperasi di sektor pengiriman uang (remittance) dan pinjaman uang (money lending) di Hong Kong, telah menjalankan kegiatan komersialnya sejak 1975. Namun, manajemen BCA menilai bahwa kebutuhan layanan perbankan nasabah di Hong Kong, khususnya untuk transaksi remitansi yang sebelumnya dilayani secara tatap muka, kini telah dapat sepenuhnya dipenuhi melalui berbagai kanal digital milik perseroan, seperti aplikasi myBCA, eBranch, dan situs KlikBCA.
I Ketut Alam Wangsawijaya, Corporate Secretary BCA, menjelaskan bahwa keputusan likuidasi ini merupakan inisiatif bisnis yang adaptif dan sejalan dengan tren adopsi teknologi digital yang semakin tinggi oleh nasabah. "Layanan perbankan untuk nasabah perseroan yang berlokasi di Hong Kong yang semula dilayani secara tatap muka oleh BCA Finance Limited saat ini dapat dilayani melalui layanan digital yang dimiliki oleh Perseroan," ujar I Ketut Alam Wangsawijaya. Proses likuidasi ini dilaksanakan oleh tim likuidator yang ditunjuk di Hong Kong, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di wilayah tersebut.
Langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam strategi operasional internasional BCA, yang cenderung mengurangi kehadiran fisik dan lebih mengandalkan infrastruktur digital. Sebelumnya, BCA juga telah menutup kantor perwakilannya di Hong Kong pada Agustus 2025. Transformasi ini konsisten dengan fokus perbankan modern yang semakin menekankan efisiensi melalui digitalisasi untuk melayani kebutuhan transaksi global, termasuk remitansi yang memiliki volume besar.
Meskipun likuidasi ini melibatkan anak usaha yang telah beroperasi selama puluhan tahun, manajemen BBCA menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak memiliki dampak material terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi dan kinerja keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan secara keseluruhan. Pernyataan ini bertujuan meredakan kekhawatiran investor terkait potensi guncangan pada kinerja saham BBCA.
Pada perdagangan 5 Januari 2026, harga saham BBCA menunjukkan pergerakan yang relatif stabil, dengan kenaikan tipis, mengindikasikan bahwa pasar sebagian besar telah mempersepsikan informasi likuidasi ini sebagai isu non-material terhadap kinerja inti BCA. Namun, perlu dicatat bahwa saham BBCA telah mengalami koreksi lebih dari 18 persen dalam 12 bulan terakhir, yang menunjukkan dinamika pasar yang lebih luas di luar keputusan likuidasi ini. Analis pasar umumnya melihat bahwa likuiditas BBCA tetap kuat, yang mendukung kapasitasnya untuk ekspansi di masa mendatang dan menjaga kualitas kredit.
Implikasi jangka panjang dari keputusan ini mencerminkan komitmen BBCA terhadap model bisnis yang lebih ramping dan berbasis teknologi, yang berpotensi meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi biaya overhead yang terkait dengan kantor fisik di luar negeri. Ini juga menggarisbawahi adaptasi BCA terhadap perubahan pola konsumsi layanan keuangan global, di mana kemudahan akses digital menjadi prioritas utama. Dengan demikian, likuidasi BCA Finance Limited bukan hanya sekadar penutupan entitas, melainkan indikator strategis akan arah digitalisasi perbankan di tengah lanskap ekonomi global yang terus berkembang.