
Vietnam memproyeksikan pertumbuhan ekonomi yang mengesankan sebesar 8,02% untuk tahun 2025, sebuah laju yang tercatat sebagai capaian tertinggi kedua dalam periode 2011-2025, meskipun dihadapkan pada kebijakan tarif perdagangan yang signifikan dari Amerika Serikat. Angka proyeksi ini, yang diumumkan oleh Kantor Statistik Umum Kementerian Keuangan Vietnam pada awal Januari 2026, menunjukkan resiliensi yang kuat di tengah tantangan global dan tekanan langsung dari Washington.
Tekanan perdagangan dari Amerika Serikat menjadi sorotan pada tahun 2025 ketika pemerintahan Donald Trump menerapkan tarif sebesar 46% pada produk-produk asal Vietnam, khususnya di sektor alas kaki dan garmen yang menjadi tulang punggung ekspor negara tersebut. Kebijakan ini menyusul kekhawatiran AS mengenai defisit perdagangan yang terus melebar dan praktik transshipment barang dari negara ketiga yang melalui Vietnam. Negosiasi intensif kemudian menghasilkan kesepakatan pada Juli 2025, di mana AS mengenakan tarif 20% pada sebagian besar ekspor Vietnam dan 40% pada barang transshipment, sementara Vietnam setuju menghapus semua tarif untuk produk AS. Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh secara terbuka menyatakan bahwa tarif yang diberlakukan Trump tidak akan mengubah target pertumbuhan 8% Vietnam untuk tahun 2025.
Resiliensi ekonomi Vietnam sebagian besar didorong oleh strategi diversifikasi perdagangan yang agresif dan kemampuannya menarik investasi asing langsung (FDI) yang masif. Vietnam telah lama memposisikan diri sebagai alternatif manufaktur strategis di tengah perang dagang AS-China, sebuah fenomena yang dikenal sebagai strategi "China+1". Perusahaan multinasional besar seperti Apple, Samsung, Foxconn, dan Lego telah memindahkan atau memperluas fasilitas produksi mereka di Vietnam, memanfaatkan stabilitas politik, biaya tenaga kerja yang kompetitif, dan perbaikan infrastruktur industri. Hingga September 2025, FDI mencapai rekor US$26,4 miliar, naik 12% dari tahun sebelumnya.
Direktur Jenderal Kantor Statistik Umum (GSO) Nguyen Thi Huong menyoroti tingginya kepercayaan investor internasional terhadap Vietnam berkat stabilitas politik, biaya tenaga kerja yang kompetitif, dan perbaikan infrastruktur industri. Ekonom Bank Dunia untuk Vietnam, Carolyn Turk, menambahkan bahwa Vietnam berhasil memanfaatkan momentum pergeseran industri global, dengan pemerintahannya menciptakan lingkungan bisnis yang efisien dan memperkuat integrasi perdagangan melalui berbagai perjanjian bebas. Profesor Madya Dr. Nguyen Thuong Lang, seorang ahli ekonomi dan perdagangan internasional, menekankan bahwa ekspor dan impor telah menjadi pendorong penting pertumbuhan ekonomi, didukung oleh kebijakan proaktif pemerintah dan reformasi administrasi.
Sektor industri manufaktur, khususnya elektronik, tekstil, dan otomotif, mencatat lonjakan ekspor signifikan ke pasar-pasar utama seperti AS, Uni Eropa, dan Jepang. Selain itu, sektor jasa dan konsumsi domestik juga berkontribusi besar terhadap pertumbuhan PDB, didukung oleh lonjakan jumlah wisatawan asing yang mencapai 11 juta orang sejak awal tahun 2025, menandai kebangkitan sektor pariwisata pasca-pandemi. Meskipun demikian, beberapa proyeksi, termasuk dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, memberikan perkiraan pertumbuhan yang lebih konservatif, masing-masing 6,5% dan 6,6% untuk 2025, sebagian besar disebabkan oleh potensi dampak lanjutan dari tarif AS dan melambatnya pertumbuhan global.
Meskipun demikian, Michael Kokalari, Kepala Ekonom Dana Investasi VinaCapital, tetap optimis, memperkirakan PDB Vietnam dapat mencapai sekitar 7,5% pada tahun 2025 dan berpotensi menembus angka 8% pada tahun ini (2026), didorong oleh ekspor dan pariwisata yang kuat, serta reformasi dan investasi infrastruktur yang masif. Pemerintah Vietnam juga terus memperkuat reformasi administrasi dan menyempurnakan institusi untuk memperbaiki lingkungan investasi dan bisnis, demi memastikan pertumbuhan berkelanjutan di masa depan.