Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Arus Modal Global Pacu IHSG di Awal Tahun

2026-01-18 | 23:35 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T16:35:31Z
Ruang Iklan

Arus Modal Global Pacu IHSG di Awal Tahun

Investor asing secara signifikan meningkatkan akumulasi kepemilikan saham di pasar modal Indonesia pada awal tahun 2026, mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.075,40 pada penutupan perdagangan 15 Januari. Arus modal masuk ini mencerminkan optimisme terhadap prospek ekonomi domestik di tengah tantangan makroekonomi global yang masih membayangi.

Sejak awal tahun 2026 hingga 15 Januari, investor global membukukan beli bersih (net buy) mencapai Rp 7,3 triliun di pasar saham Indonesia. Data lebih lanjut menunjukkan bahwa pada pekan pertama Januari (5-8 Januari), nonresiden mencatat beli neto sebesar Rp 1,44 triliun di pasar keuangan domestik, dengan Rp 1,78 triliun mengalir ke pasar saham dan Rp 1,04 triliun ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Bahkan pada periode 12-14 Januari, meskipun Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing keluar (capital outflow) dari pasar domestik sebesar Rp 7,71 triliun yang mayoritas dari Surat Berharga Negara (SBN) dan SRBI, pasar saham masih menerima beli neto sebesar Rp 3,08 triliun. Pencapaian rekor IHSG ini juga disertai dengan kenaikan kapitalisasi pasar bursa menjadi Rp 16.512 triliun, meningkat 1,29 persen dari pekan sebelumnya.

Sentimen positif terhadap kinerja IHSG didukung oleh beberapa faktor fundamental dan teknikal. Salah satunya adalah posisi unik Indonesia di antara negara-negara ASEAN yang kaya komoditas, dengan saham-saham berbasis komoditas menjadi pendorong utama kenaikan IHSG. Sepanjang Januari ini, investor asing menunjukkan minat tinggi pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan akumulasi beli bersih mencapai Rp 426,64 miliar pada 15 Januari, PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Selain itu, saham-saham komoditas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga menjadi target akumulasi.

Secara makroekonomi, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tangguh menjadi daya tarik utama. Bank Dunia merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5% pada tahun 2026, didukung oleh stimulus fiskal dan peningkatan investasi yang didorong pemerintah. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4%, sementara Bank Indonesia memproyeksikan 5,3% untuk 2026. Konsumsi domestik yang solid serta valuasi pasar yang masih atraktif turut memperkuat sentimen positif ini. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, mengatakan bahwa perdagangan saham ditutup dengan mayoritas indikator di zona positif, mencerminkan sentimen pasar yang tetap kuat. Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, juga mengekspektasikan penanaman modal asing akan terus bertumbuh karena adanya kerja sama dengan Danantara, sebuah badan pengelola investasi.

Meski demikian, pasar keuangan domestik tidak luput dari tantangan. Rupiah sempat melemah, ditutup di atas level Rp 16.800 per dolar AS sejak April 2025, yang membatasi ruang Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter. Selain itu, premi risiko investasi atau Credit Default Swaps (CDS) Indonesia 5 tahun juga naik ke level 71,43 basis poin per 14 Januari 2026 dari 69,31 basis poin per 9 Januari 2026, menunjukkan sedikit peningkatan risiko di mata investor. Aliran modal asing keluar dari pasar SBN, tercatat sebesar Rp 9,91 triliun sepanjang tahun hingga 14 Januari, juga menjadi perhatian. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan bahwa pasar global pekan lalu bergerak dalam koridor positif, dipengaruhi keseimbangan antara stabilnya data ekonomi Amerika Serikat dan naiknya ketidakpastian geopolitik.

Ke depan, momentum positif ini diperkirakan akan berlanjut, meskipun dengan kewaspadaan terhadap dinamika global. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan IHSG dapat menembus level 10.500 pada 2026, didukung ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan potensi kebijakan yang lebih akomodatif. Namun, tekanan eksternal termasuk ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif baru Amerika Serikat yang menyasar negara-negara NATO dapat menjaga ketidakpastian di pasar global. Konsistensi pemerintah dalam menjaga stabilitas makro dan perbaikan iklim investasi, termasuk penyederhanaan regulasi dan perizinan, akan menjadi kunci untuk mempertahankan minat investor asing dan memastikan penguatan pasar modal yang berkelanjutan.