Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Ancol Suntik Modal Rp 100 Miliar dari Bank Danamon

2026-01-01 | 18:20 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-01T11:20:53Z
Ruang Iklan

Ancol Suntik Modal Rp 100 Miliar dari Bank Danamon

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk pada 31 Desember 2025 secara resmi mencairkan fasilitas kredit angsuran berjangka senilai Rp 100 miliar dari PT Bank Danamon Indonesia Tbk, menggenapkan total penarikan pinjaman dari bank tersebut menjadi Rp 200 miliar untuk kebutuhan modal kerja perseroan. Pencairan ini merupakan bagian dari perjanjian fasilitas kredit senilai total Rp 220 miliar yang ditandatangani Ancol dengan Bank Danamon pada 18 September 2025, yang terdiri dari Kredit Aksep Bergaransi (KAB) sebesar Rp 200 miliar dan fasilitas Sight/Usance L/C sebesar Rp 20 miliar.

Langkah penarikan fasilitas kredit ini dilakukan di tengah periode pemulihan kinerja Ancol yang masih menghadapi tekanan, meskipun perseroan telah menunjukkan upaya untuk mempertahankan momentum. Pada semester pertama 2025, laba bersih Pembangunan Jaya Ancol tercatat merosot 63,74% secara tahunan menjadi Rp 21,69 miliar, dari Rp 59,82 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan laba tersebut sejalan dengan pendapatan usaha yang juga mengalami koreksi 12,76% secara tahunan, menjadi Rp 495,46 miliar dari Rp 567,95 miliar di semester I-2024. Penjualan tiket masih menjadi kontributor utama pendapatan, menyumbang Rp 332,58 miliar, namun angka ini juga menunjukkan penurunan 17,23% dari tahun sebelumnya. Selain itu, pendapatan dari segmen hotel dan restoran turut melemah 14,12% secara tahunan menjadi Rp 32,11 miliar.

Corporate Communication PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Daniel Windriatmoko, sebelumnya menjelaskan bahwa pinjaman senilai Rp 200 miliar dari fasilitas Bank Danamon akan dimanfaatkan untuk memperkuat modal kerja perseroan. Kebutuhan modal kerja ini esensial bagi operasional harian Ancol, termasuk untuk pembelian bahan baku dan pengelolaan stok, sejalan dengan karakteristik umum fasilitas kredit korporasi Bank Danamon yang ditujukan untuk pembiayaan operasional.

Secara historis, Ancol sangat terpukul oleh pandemi COVID-19, mencatatkan kerugian bersih Rp 392,83 miliar pada tahun 2020, berbanding terbalik dengan laba Rp 230,42 miliar pada tahun 2019. Pendapatan perusahaan anjlok signifikan sebesar 69,51% pada tahun 2020 menjadi Rp 414,17 miliar dari Rp 1,35 triliun pada tahun sebelumnya. Jumlah pengunjung juga merosot tajam hingga 76% pada tahun 2020, dari 18 juta menjadi 4,5 juta orang. Untuk bertahan, Ancol kala itu menerapkan strategi efisiensi biaya dasar, menunda proyek-proyek investasi besar, dan bahkan melakukan pemotongan gaji karyawan.

Meskipun menunjukkan pemulihan dengan pendapatan usaha sebesar Rp 1,26 triliun dan laba bersih Rp 177,79 miliar sepanjang tahun 2024, Ancol masih menghadapi tantangan seperti penurunan daya beli masyarakat, pembatasan studi wisata, dan tren perjalanan luar kota saat libur panjang, yang mengakibatkan jumlah pengunjung turun 10,42% menjadi 9,98 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya. Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Winarto menyebutkan bahwa ketidakpastian stabilitas ekonomi menjadi salah satu penyebab penurunan pengunjung, namun menegaskan bahwa kondisi keuangan perusahaan tetap sehat dan menguntungkan.

Penarikan fasilitas kredit ini dipandang sebagai langkah strategis Ancol untuk terus berinovasi dan meningkatkan daya saing. Perseroan saat ini berfokus pada penguatan sinergi kawasan wisata, digitalisasi layanan, serta pengembangan produk berbasis pengalaman yang lebih inklusif dan relevan guna menarik kembali wisatawan. Berbagai program dan konten spesial, termasuk promosi tiket dan acara tematik, telah disiapkan untuk menggaet minat pengunjung, terutama menjelang momen liburan akhir tahun.

Dari sisi Bank Danamon, penyaluran kredit ini menunjukkan aktivitas agresif dalam segmen korporasi. Bank Danamon mencatat pertumbuhan positif pada kredit nasabah korporasi sebesar 13% pada Juni 2025. Ini menandakan strategi bank dalam memperluas portofolio pinjaman di sektor bisnis. Ancol sendiri mempertahankan peringkat kredit idA+ dengan prospek stabil dari PEFINDO.

Analis Investasi Infovesta, Ekky, mencermati kinerja PJAA sepanjang 2025 masih dalam fase pemulihan. Ia menyoroti tekanan biaya operasional dan pelemahan margin sebagai faktor yang membatasi akselerasi pertumbuhan, menyebabkan realisasi 2025 lebih moderat dari target manajemen. Di sisi lain, analisis teknikal saham PJAA menunjukkan sinyal netral untuk jual/beli harian, dengan rata-rata bergerak yang bervariasi antara sinyal beli dan jual.