
Jalan Tol Sedyatmo, arteri vital menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), kembali terendam banjir setinggi 15 hingga 20 sentimeter pada Senin, 12 Januari 2026, setelah wilayah Jabodetabek diguyur hujan deras sejak Minggu malam. Genangan air di Kilometer 33 arah Bandara Soetta, khususnya di lajur kiri, mengakibatkan kemacetan panjang hingga 1,5 kilometer dan memaksa operator jalan tol serta kepolisian mengimbau pengguna jalan untuk mencari rute alternatif guna menghindari keterlambatan penerbangan.
Kasatlantas Polresta Bandara Soetta AKP Soelarno mengonfirmasi genangan air di KM 33 Tol Sedyatmo arah bandara, dengan ketinggian sekitar 20 cm di lajur kiri, meskipun lajur dua dan tiga masih dapat dilintasi dengan kecepatan terbatas. Ketinggian air dilaporkan berkisar antara 15-50 sentimeter di beberapa titik, termasuk di depan Hotel Ibis arah masuk Bandara Soetta, jalur Soewarna arah Kargo, dan jalur Perimeter Utara Bandara Soekarno-Hatta yang tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Kondisi ini menyebabkan Jasa Marga, sebagai pengelola, menyampaikan permohonan maaf dan mendesak para pelancong dengan jadwal penerbangan mendesak untuk mempertimbangkan jalur lain seperti Jalan Tol JORR 2 atau moda transportasi publik seperti kereta bandara.
Insiden genangan ini bukan kali pertama terjadi, menunjukkan kerentanan infrastruktur penghubung utama ibu kota dengan gerbang udara internasionalnya. Pada 29-30 Januari 2025, Tol Sedyatmo juga mengalami banjir di Km 31+200, dengan ketinggian air mencapai sekitar 30 cm. Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumastuti kala itu menjelaskan bahwa penyebab banjir adalah curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama, ditambah kondisi air laut pasang yang menghambat aliran air dari drainase jalan tol ke saluran penghubung kawasan. Limpasan air yang deras dari kawasan sekitar ke saluran air jalan tol juga menjadi tantangan signifikan yang menyulitkan upaya penyedotan.
Jasamarga Metropolitan Tollroad Regional Division mengerahkan sembilan unit pompa, terdiri dari tujuh pompa permanen di Off Ramp Gerbang Tol Pluit 3 dan Off Ramp Cengkareng Business Center (CBC), serta dua pompa bergerak tambahan, untuk mempercepat penanganan genangan. Namun, kapasitas pompa seringkali tidak mampu mengatasi debit air yang tinggi dan limpasan dari area sekitar secara cepat. Sebanyak 20 personel Satlantas Polresta Bandara Soekarno-Hatta juga diterjunkan untuk mengatur arus lalu lintas dan berkoordinasi dengan Angkasa Pura Injourney.
Permasalahan banjir berulang di Tol Sedyatmo menyoroti kebutuhan akan solusi jangka panjang yang terintegrasi. Meskipun upaya penanganan darurat dengan pompa air terus dilakukan, sumber masalah yang kompleks, melibatkan curah hujan ekstrem, elevasi tanah rendah, air pasang, dan sistem drainase yang terbebani oleh limpasan dari area urbanisasi sekitarnya, memerlukan pendekatan holistik. Anggaran Kementerian Pekerjaan Umum tahun 2026 senilai Rp70,86 triliun yang disetujui DPR, salah satunya difokuskan pada normalisasi sungai untuk mitigasi bencana banjir, menunjukkan kesadaran pemerintah akan urgensi penanganan banjir secara struktural di Jabodetabek. Namun, implementasi proyek-proyek ini memerlukan waktu dan koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pengelola jalan tol.
Ketergantungan pada rute alternatif seperti Tol JORR 2 dan kereta bandara sebagai opsi mitigasi jangka pendek, kendati efektif mengurangi tekanan pada Tol Sedyatmo yang tergenang, tidak meniadakan urgensi perbaikan permanen pada infrastruktur utama. Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan bahkan pernah menyatakan rasa malu atas berulangnya insiden banjir di jalur vital menuju Bandara Soekarno-Hatta ini, mengindikasikan bahwa masalah ini telah menjadi perhatian publik dan pejabat selama bertahun-tahun. Perbaikan sistem drainase, normalisasi kali di sekitar area tol, dan pengelolaan tata guna lahan yang lebih ketat di wilayah hulu dan sekitarnya menjadi krusial untuk memastikan akses ke bandara internasional dapat diandalkan dalam segala kondisi cuaca.