
Harga emas dunia mencapai rekor tertinggi, menembus US$4.549,71 per ons pada 26 Desember 2025, dan diproyeksikan terus menguat secara signifikan hingga tahun 2026. Kenaikan historis ini didorong oleh konvergensi ketegangan geopolitik global yang memanas, kekhawatiran inflasi persisten, pelemahan dolar Amerika Serikat, serta agresivitas bank sentral di seluruh dunia dalam mendiversifikasi cadangan mereka. Para analis dari JPMorgan Chase memperkirakan harga emas dapat mendekati US$3.675 per troy ons pada akhir 2025 dan menyentuh US$4.000 pada tahun berikutnya, sementara OCBC Bank bahkan memprediksi mencapai US$3.900 pada akhir 2025.
Laju kenaikan emas yang mencapai sekitar 70 persen sepanjang tahun ini menempatkannya sebagai aset primadona di tengah ketidakpastian ekonomi global. Emas secara tradisional berfungsi sebagai aset "safe haven," yang semakin dicari investor saat terjadi gejolak. Ketegangan geopolitik, seperti pemblokiran kapal tanker minyak Venezuela oleh Amerika Serikat, konflik di Afrika termasuk serangan militer AS di Nigeria, dan konflik yang berlanjut antara Rusia dan Ukraina, telah memperkuat sentimen ini. Stephen Innes, analis dari SPI Asset Management, menyatakan bahwa emas menjadi jangkar ketika dunia kehilangan pegangan, menjadikannya satu-satunya aset yang tidak pernah goyah di tengah kekacauan politik, pelemahan mata uang, dan inflasi.
Kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) juga memainkan peran krusial. The Fed telah memangkas suku bunga acuan sebanyak tiga kali pada tahun 2025, menurunkan ke level 3,50-3,75 persen, dan diperkirakan akan melakukan dua pemotongan lagi pada tahun 2025. Suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya peluang memegang emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga meningkatkan daya tariknya dibandingkan aset berbasis bunga seperti obligasi. Pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,8 persen sepanjang pekan terakhir juga menjadikan emas lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain, semakin mendorong permintaan.
Selain investor ritel, bank sentral di seluruh dunia secara masif mengakumulasi emas. World Gold Council melaporkan pembelian emas oleh otoritas moneter mencapai 53 ton pada Oktober 2025, menjadi permintaan tertinggi sepanjang tahun, dengan total pembelian bersih dari awal tahun mencapai 254 ton. Rusia dan Tiongkok memimpin tren ini, masing-masing menambahkan lebih dari 1.800 ton emas sejak tahun 2000. Pembelian ini mencerminkan strategi diversifikasi cadangan devisa untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS, terutama setelah sanksi finansial yang diterapkan pada aset valuta asing Rusia menyoroti kerentanan tersebut. Bank Indonesia juga tercatat membeli 4 ton emas pada Oktober 2025 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan cadangan devisa.
Meskipun sebagian analis seperti Capital Economics memproyeksikan potensi koreksi harga emas hingga US$3.500 per ons pada akhir 2026, pandangan mayoritas menunjukkan tren kenaikan berkelanjutan didukung oleh kekhawatiran inflasi inti yang masih tinggi dan ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Fed. Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet mencatat bahwa kenaikan harga emas mendorong inflasi inti, yang memberikan kontribusi 0,68 persen terhadap inflasi tahunan Oktober 2025 yang mencapai 2,86 persen. Dengan kondisi fiskal yang mengkhawatirkan akibat defisit dan utang pemerintah AS yang terus membengkak, serta berlanjutnya ketegangan perdagangan global, emas mempertahankan posisinya sebagai pilihan utama sebagai aset perlindungan. Pasar memandang emas sebagai penyimpan nilai yang andal dan lindung nilai terhadap perubahan nilai mata uang, memastikan posisinya sebagai komponen esensial dalam portofolio investasi global.