
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya secara resmi mengusulkan kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero) agar Stasiun Gambir di Jakarta Pusat direnovasi dan ditata ulang secara komprehensif. Usulan yang disampaikan pada Rabu, 24 Desember 2025, ini bertujuan agar Stasiun Gambir lebih selaras dengan dinamika mobilitas perkotaan Jakarta yang semakin kompleks serta mendukung visi Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat perkeretaapian nasional yang aman, nyaman, dan terjangkau.
Stasiun Gambir, yang telah beroperasi sejak era kolonial dengan nama Halte Koningsplein pada tahun 1846, kini dipandang membutuhkan pembaruan signifikan setelah kondisinya dianggap "gitu-gitu aja" oleh Seskab Teddy sejak masa kecilnya. Sejalan dengan arahan tersebut, Direktur Utama PT KAI (Persero) Bobby Rasyidin menyatakan bahwa KAI tengah menyiapkan pengembangan Stasiun Gambir secara bertahap menjadi kawasan Transit Oriented Development (TOD) dan simpul intermoda utama di pusat Jakarta. Konsep TOD ini akan mengintegrasikan stasiun dengan berbagai moda transportasi lain seperti MRT Jakarta, Transjakarta, dan Commuter Line (KRL), serta memperkuat akses ke kawasan Monumen Nasional (Monas) dan taman kota di sekitarnya. Penataan tata ruang eksterior stasiun juga akan menghadirkan elemen vegetasi hingga area rooftop untuk menciptakan lingkungan yang lebih teduh, humanis, dan nyaman.
Usulan revitalisasi ini muncul di tengah tingginya mobilitas penumpang, terutama selama periode Angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Berdasarkan data KAI, pada Hari Natal 2025, Stasiun Gambir menjadi stasiun dengan volume keberangkatan tertinggi di Daop 1 Jakarta, dengan 16.363 penumpang berangkat pada 25 Desember 2025, dan secara kumulatif, lebih dari 300.000 penumpang keluar-masuk Stasiun Gambir selama libur Nataru 2025/2026. Hal ini menyoroti urgensi pembaruan fasilitas untuk menunjang kualitas pelayanan.
Secara historis, Stasiun Gambir dikenal sebagai stasiun utama yang melayani perjalanan kereta api jarak jauh (KAJJ) ke berbagai kota di Pulau Jawa, seperti Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Malang, Solo, hingga Cirebon. Namun, sejak beberapa tahun lalu, wacana pemindahan layanan KAJJ dari Gambir ke Stasiun Manggarai sebagai stasiun sentral telah bergulir. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sempat mengisyaratkan penghentian layanan KAJJ di Stasiun Gambir mulai 2025, dengan menjadikan Manggarai sebagai stasiun sentral yang melayani KAJJ, KRL, dan kereta bandara setelah pembangunan Manggarai rampung. Meskipun demikian, hingga Juni 2022, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub menegaskan bahwa Stasiun Gambir masih beroperasi untuk melayani KAJJ hingga ada pengumuman lebih lanjut. Direktur Jenderal Perkeretaapian Allan Tandiono pada Agustus 2025 juga menyatakan pihaknya masih menyambut baik masukan dan mengecek studi kelayakan Stasiun Manggarai sebagai pengganti.
Implikasi dari pengembangan ini sangat luas. Jika Stasiun Gambir kelak tidak lagi melayani KAJJ dan difokuskan pada KRL serta integrasi moda, ini akan mengubah pola mobilitas dan tata ruang di pusat kota Jakarta. Pengembangan sebagai kawasan TOD diharapkan tidak hanya meningkatkan konektivitas antarmoda, tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatan lahan melalui zonasi komersial dan ruang publik multifungsi yang terhubung langsung dengan kawasan Medan Merdeka. Tantangannya terletak pada koordinasi antara berbagai pemangku kepentingan, seperti KAI, Kemenhub, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, untuk memastikan transisi fungsi stasiun berjalan lancar dan kebutuhan masyarakat akan transportasi publik yang efisien tetap terpenuhi. Selain itu, proyek infrastruktur perkeretaapian nasional juga sedang digenjot, dengan target penambahan 600 kilometer rel kereta pada tahun 2026, yang merupakan bagian dari Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNas) 2030 untuk mencapai 12.100 kilometer rel kereta di seluruh Indonesia. Transformasi Stasiun Gambir menjadi simpul mobilitas terintegrasi ini menjadi krusial dalam mendukung agenda besar reformasi infrastruktur dan pelayanan dasar pemerintah di ibu kota.