:strip_icc()/kly-media-production/medias/3913228/original/031127900_1643028888-24_januari_2022-2.jpg)
Dalam beberapa bulan terakhir tahun 2025, pasar kripto global menyaksikan pergeseran strategi signifikan di kalangan pemain institusional, ditandai dengan kecenderungan untuk menghentikan akumulasi Bitcoin (BTC) dan sebaliknya, meningkatkan kepemilikan kas. Perusahaan perbendaharaan aset digital terkemuka, MicroStrategy Inc., misalnya, menghentikan pembelian Bitcoin mingguan berturut-turut pada awal Februari 2025, setelah 12 minggu akuisisi agresif yang meningkatkan kepemilikan totalnya menjadi sekitar US$44,7 miliar, atau lebih dari 2% dari seluruh token yang beredar saat itu. Keputusan ini muncul di tengah volatilitas pasar yang tinggi, dengan harga Bitcoin yang sempat menyentuh US$101.000 sebelum mengalami koreksi.
Pergeseran ini bukan tanpa alasan fundamental. Analisis dari firma riset blockchain Tiger Research menunjukkan bahwa model bisnis yang sangat bergantung pada akumulasi Bitcoin, seperti MicroStrategy, menghadapi titik kritis pada tahun 2028. Pada tahun tersebut, opsi panggilan pada obligasi konversi perusahaan terkonsentrasi, menciptakan tekanan penebusan sekitar US$6,4 miliar. Tiger Research menyoroti kerentanan mendasar: perusahaan menggunakan hampir seluruh modal yang dihimpun untuk membeli Bitcoin daripada mengalokasikannya ke aset produktif yang menghasilkan arus kas. "Jika dana tersebut dialokasikan ke aset produktif, perusahaan akan memiliki sumber pembayaran alami," catat laporan tersebut, memperingatkan bahwa fokus pada Bitcoin meninggalkan sedikit kas yang tersedia untuk penebusan. Jika opsi pembiayaan ulang terhalang, MicroStrategy harus menjual sekitar 71.000 BTC dengan harga US$90.000, yang setara dengan 20-30% volume perdagangan harian, berpotensi memicu spiral penurunan di seluruh pasar.
Tekanan makroekonomi global juga memainkan peran penting. Laporan pada Desember 2025 menyoroti bahwa pelemahan sektor kecerdasan buatan (AI) mendorong investor untuk meningkatkan posisi kas dan keluar dari aset berisiko, termasuk kripto. Hedge fund raksasa Bridgewater Associates bahkan memperingatkan bahwa ketergantungan perusahaan teknologi pada pembiayaan utang untuk investasi AI telah memasuki fase berbahaya. Kombinasi leverage yang berlebihan di pasar kripto—dengan open interest kontrak berjangka mencapai US$135 miliar dan likuidasi posisi beli (long) leveraged senilai lebih dari US$527 juta dalam 24 jam terakhir pada pertengahan Desember 2025—memperburuk kekhawatiran akan potensi penurunan lebih lanjut.
Sejarah menunjukkan bahwa volatilitas adalah risiko yang tak terhindarkan bagi investor aset kripto. Pada Oktober 2025, Bitcoin sempat melesat di atas US$125.000 sebelum mengalami penurunan tajam lebih dari US$40.000 dari puncaknya. Pada November 2025, harga Bitcoin anjlok di bawah US$90.000, terendah dalam tujuh bulan, menghapus seluruh keuntungan sepanjang tahun 2025 dan memicu gelombang kekhawatiran di pasar kripto, menandai penurunan minat investor terhadap pengambilan risiko. Pada Desember 2025, Bitcoin kembali turun di bawah US$90.000, menandakan peningkatan volatilitas yang berlanjut. Penurunan bulanan terbesar sejak pertengahan 2021 terjadi pada November 2025, dengan Bitcoin kehilangan lebih dari US$18.000.
Meskipun demikian, beberapa ahli melihat situasi ini sebagai reset positif. Zach Pandl, Kepala Riset Grayscale Investments, mengakui bahwa "Kripto adalah kelas aset yang volatil, dan dalam beberapa hal, tidak ada cara untuk menghindari volatilitas tersebut." Namun, strategi diversifikasi aset digital yang baru mulai diterapkan untuk meredam risiko. Nate Geraci, Presiden NovaDius Wealth Management, memandang aset selain Bitcoin, seperti Ether, lebih sebagai 'tech play' daripada 'digital gold', menunjukkan potensi diversifikasi yang terbatas di dalam ekosistem kripto itu sendiri. Grayscale juga memproyeksikan pertumbuhan 1.000 kali lipat untuk aset yang ditokenisasi pada tahun 2030, menandai pergeseran menuju digitalisasi fundamental nilai global di luar sekadar kripto spekulatif.
Ke depan, prospek adopsi institusional Bitcoin dan aset digital lainnya tetap menjadi perhatian. Laporan Crypto.com pada Desember 2024 (dengan pandangan untuk 2025) menyebutkan peluncuran ETF Bitcoin dan Ethereum spot di AS pada 2024 telah membuka jalan bagi adopsi institusional, dengan ETF Bitcoin mencatat aset bersih US$30,7 miliar pada November 2024. Namun, strategi "setop beli Bitcoin dan dongkrak kas" merefleksikan pertimbangan ulang yang lebih luas mengenai likuiditas, manajemen risiko, dan kesiapan operasional di tengah ketidakpastian regulasi dan volatilitas pasar yang terus-menerus. Ini menggarisbawahi evolusi model bisnis perusahaan di ruang kripto, dari akumulasi agresif menuju pengelolaan perbendaharaan yang lebih konservatif dan berfokus pada arus kas, seiring dengan maturingnya pasar aset digital.