:strip_icc()/kly-media-production/medias/3566691/original/052633000_1631185687-20210909-PPKM-IHSG-6.jpg)
Tahun 2025 ditutup dengan total 26 perusahaan yang berhasil melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham (IPO), menghimpun dana segar senilai Rp 18,11 triliun hingga 24 Desember. Angka ini menandai periode penting bagi pasar modal domestik, meskipun jumlah emiten yang melantai lebih rendah dari target awal Bursa.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menegaskan bahwa hingga 24 Desember 2025, 26 perusahaan telah mencatatkan saham di BEI dengan dana yang terkumpul mencapai Rp 18,11 triliun. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dari angka 24 emiten dengan total penghimpunan dana sebesar Rp 15,35 triliun yang dilaporkan Deloitte Southeast Asia hingga 15 November 2025. Sepanjang tahun ini, minat perusahaan untuk mencari pendanaan melalui pasar modal tetap tinggi, didorong oleh fundamental ekonomi nasional yang solid dan ekspektasi pemulihan pasar keuangan global.
Sektor energi dan sumber daya menjadi kontributor terbesar dalam penggalangan dana IPO tahun ini, meliputi perusahaan minyak dan gas, energi terbarukan, serta jasa penunjang pertambangan. Beberapa IPO signifikan termasuk PT Merdeka Gold Resource Tbk (EMAS) yang menghimpun Rp 4,65 triliun (US$279 juta), PT Chandra DaYa Investasi Tbk (CDIA) sebesar Rp 2,4 triliun (US$144 juta), dan PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) yang berhasil meraup sekitar Rp 2,79 triliun dengan kelebihan permintaan hingga 318 kali. Sektor real estate dan konsumer juga menunjukkan kinerja kuat, dengan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) dan PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) masing-masing menghimpun Rp 2,30 triliun dan Rp 2,04 triliun. Sementara itu, teknologi dan jasa keuangan digital mulai memperluas pangsa mereka di pasar.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut merespons dinamika pasar dengan mengeluarkan SEOJK No. 25/SEOJK.04/2025 yang berlaku efektif Desember 2025. Regulasi baru ini meningkatkan alokasi porsi investor ritel dalam penjatahan terpusat (pooling allotment) menjadi 50% dari sebelumnya sepertiga, serta menyesuaikan alokasi minimal efek saat IPO mengalami kelebihan pemesanan. Kebijakan ini bertujuan untuk memperluas akses investor ritel dan meningkatkan pemerataan penjatahan, yang menurut CEO dan founder Venturewise, Andrian Wijaya, mengatasi keresahan investor ritel selama ini. Namun, Andrian juga memperingatkan bahwa perubahan ini berpotensi meningkatkan volatilitas harga saham IPO pascapencatatan, karena saham yang tersebar ke lebih banyak pihak dapat mengurangi konsentrasi kepemilikan.
Meskipun secara angka jumlah IPO (26 perusahaan) meleset dari target awal BEI sebanyak 66 emiten dan revisi menjadi 45 emiten, Direktur Utama BEI Iman Rachman menekankan bahwa bursa tidak mengejar kuantitas melainkan fokus pada kualitas perusahaan yang melantai. Hal ini sejalan dengan tren pasar modal Indonesia di tahun 2025 yang bergeser ke arah selektivitas yang lebih tinggi, mengutamakan emiten dengan fundamental kuat, model bisnis berkelanjutan, dan prospek pertumbuhan yang jelas. Sentimen positif di pasar IPO didukung oleh stabilitas makroekonomi dan ekspektasi penurunan suku bunga.
Dari sisi investor, jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai lebih dari 20 juta pada akhir 2025, tumbuh 35% dalam satu tahun terakhir. Ini menunjukkan peningkatan minat dan kepercayaan yang signifikan dari investor domestik. Menyongsong tahun 2026, Bursa Efek Indonesia menargetkan 50 IPO baru dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menargetkan penambahan 2 juta investor baru. CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya memproyeksikan tahun 2026 akan menjadi menarik bagi saham-saham berbasis pertumbuhan, terutama di sektor teknologi, seiring dengan kecenderungan penurunan suku bunga acuan. Perusahaan-perusahaan dengan fokus pada keberlanjutan dan efisiensi teknologi diperkirakan akan menjadi daya tarik utama bagi investor.