Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rosan Umumkan Start 6 Proyek Hilirisasi Krusial di Januari

2025-12-19 | 16:15 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-19T09:15:08Z
Ruang Iklan

Rosan Umumkan Start 6 Proyek Hilirisasi Krusial di Januari

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani, mengumumkan bahwa sekitar lima hingga enam proyek hilirisasi akan mulai dibangun pada awal Januari 2026. Pengumuman ini disampaikan Rosan setelah bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Rabu, 17 Desember 2025.

Rosan menjelaskan bahwa proyek-proyek yang akan di-groundbreaking tersebut merupakan bagian dari 18 proyek hilirisasi prioritas pemerintah yang telah siap untuk dieksekusi. Beberapa proyek yang disebutkan antara lain Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR), pabrik bioavtur di Cilacap, dan pabrik bioetanol di Banyuwangi.

Secara lebih rinci, proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) yang disebutkan adalah pengembangan dari pabrik pengolahan bauksit di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan nilai investasi sekitar Rp60 triliun dan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun, yang ditargetkan rampung pada 2028. Sementara itu, pabrik bioavtur di Cilacap merupakan bagian dari fase 2 Green Refinery PT Kilang Pertamina International (KPI), yang diproyeksikan beroperasi pada 2027 dengan kapasitas 6.000 barel Hydrotreated Vegetable Oil (HVO). Proyek bioetanol akan dibangun di Banyuwangi. Selain itu, Rosan juga menyebutkan proyek hilirisasi berbasis kelapa, termasuk di Kawasan Industri Tenayan, Riau dengan investasi Rp2,3 triliun, serta mempertimbangkan proyek terkait unggas di Malang.

Rosan menekankan bahwa peletakan batu pertama akan dilakukan secara bertahap untuk proyek-proyek yang sudah siap. Proyek-proyek hilirisasi ini, yang total investasinya mencapai lebih dari Rp300 triliun hingga mendekati Rp600 triliun untuk 18 proyek secara keseluruhan, bertujuan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, dan menghasilkan produk substitusi impor. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan bahwa studi kelayakan (feasibility study/FS) untuk 18 proyek tersebut ditargetkan rampung pada akhir tahun 2025. Pendanaan proyek-proyek ini direncanakan akan mengandalkan anggaran negara dan swasta nasional untuk mengurangi ketergantungan pada investor asing.