
Pemerintah Indonesia secara agresif mempercepat program hilirisasi komoditas kelapa, menandai perluasan fokus dari sektor pertambangan ke perkebunan dan kelautan. Inisiatif strategis ini bertujuan untuk melipatgandakan nilai tambah kelapa di dalam negeri, mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa hilirisasi kelapa memiliki potensi luar biasa untuk meningkatkan nilai produk hingga 100 kali lipat.
Program ini dimulai dengan fokus kuat di Maluku Utara dan Morowali, Sulawesi Tengah, sebagai sentra produksi kelapa utama. Di Maluku Utara, satu pabrik pengolahan kelapa dilaporkan telah beroperasi dan memproduksi, dengan dua unit lainnya dijadwalkan akan mulai berproduksi pada tahun 2026. Produk olahan dari Maluku Utara, seperti santan kelapa (coconut milk) dan minyak kelapa murni (VCO), kini telah diekspor ke Tiongkok. Langkah hilirisasi ini terbukti meningkatkan nilai ekonomi kelapa secara signifikan, di mana harga kelapa mentah yang sebelumnya Rp3.000 per butir dapat melonjak menjadi Rp40.000 hingga Rp50.000 per butir setelah diolah. Pemerintah juga berencana mengembangkan 10.000 hektare kebun kelapa baru di Maluku Utara pada tahun 2026, yang akan diberikan secara gratis kepada petani, guna meningkatkan kapasitas produksi nasional. Sekitar 76 persen dari produksi kelapa Maluku Utara, yang mencapai sekitar satu miliar butir per tahun, telah terserap oleh industri hilir lokal.
Sementara itu, di Morowali, Sulawesi Tengah, sebuah pabrik hilirisasi kelapa skala besar sedang dalam tahap pembangunan dan ditargetkan rampung pada pertengahan tahun 2026. Proyek ini melibatkan investasi sekitar US$100 juta atau setara dengan Rp1,6 triliun. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menjelaskan bahwa investasi ini berasal dari kerja sama antara perusahaan Tiongkok, Zhejiang FreeNow Food Co. Ltd, dengan konsorsium perusahaan Indonesia dan BUMN terkait. Pabrik di Morowali diproyeksikan memiliki kapasitas mengolah hingga 500 juta butir kelapa setiap tahun dan akan menciptakan hingga 10.000 lapangan kerja. Pendirian pabrik ini di Indonesia merupakan hasil upaya pemerintah meyakinkan investor Tiongkok untuk memangkas biaya logistik dan sekaligus meningkatkan harga jual kelapa di tingkat petani. Bahan baku kelapa untuk pabrik ini akan diserap dari kawasan Teluk Tolo, sebagian Tomini, dan Maluku.
Secara nasional, hilirisasi kelapa merupakan bagian integral dari visi pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sebesar 8 persen dan mewujudkan "Indonesia Emas 2045". Amran Sulaiman memperkirakan bahwa jika hilirisasi kelapa diterapkan secara maksimal, nilai devisa yang dihasilkan bisa mencapai Rp2.400 triliun per tahun. Menteri Investasi Rosan Roeslani menambahkan bahwa hilirisasi telah berkontribusi lebih dari 30 persen dari total realisasi investasi nasional, atau sebesar Rp431 triliun, selama Januari hingga September 2025. Selain kelapa, pemerintah juga merencanakan pembangunan pabrik pakan ternak dan fasilitas produksi anak ayam (Day Old Chick/DOC) untuk mendukung stabilitas industri peternakan nasional. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas telah menyusun Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025-2045 untuk memandu langkah-langkah strategis ini. Program hilirisasi ini diharapkan dapat menekan angka pengangguran dan kemiskinan dengan menciptakan lapangan kerja baru di berbagai sektor, mulai dari produksi hingga distribusi.