Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Reksa Dana Terbaik: Mana yang Raih Keuntungan Dobel Digit (10%+)

2025-12-22 | 14:04 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-22T07:04:55Z
Ruang Iklan

Reksa Dana Terbaik: Mana yang Raih Keuntungan Dobel Digit (10%+)

Dalam lanskap investasi Indonesia yang terus beradaptasi, sejumlah reksa dana berhasil melampaui ekspektasi dengan mencatatkan imbal hasil lebih dari 10% sepanjang tahun 2024 dan memasuki kuartal terakhir 2025, menyoroti kemampuan manajer investasi untuk menavigasi volatilitas pasar. Kinerja unggul ini terlihat jelas pada beberapa reksa dana saham dan campuran, bahkan ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan dinamika yang berfluktuasi.

Sepanjang tahun 2024, meskipun IHSG mengalami penurunan sebesar 2,62% secara year-to-date (ytd) per 20 Desember 2024, beberapa reksa dana saham berhasil memberikan keuntungan signifikan. Syailendra Alpha Focus Equity Fund Kelas A memimpin dengan return 17,02%, diikuti oleh HPAM Ekuitas Syariah Berkah dengan 15,52%, dan Bahana Icon Syariah Kelas G yang mencatatkan 14,80% pada periode yang sama. Tidak hanya itu, pada Agustus 2024, HPAM Ekuitas Syariah Berkah bahkan mencatat return melonjak 50,14%, diikuti Simas Danamas Saham sebesar 45,77%, dan Sucorinvest Sharia Equity Fund sebesar 43,68%, menunjukkan potensi outperformance yang luar biasa dalam periode singkat. Sementara itu, pada awal 2024, beberapa reksa dana campuran juga menunjukkan kinerja apik di atas 10% secara year-on-year (YoY) per 17 Januari 2024, dengan STAR Balanced III mencatat 10,83%, Batavia Providentia Balanced Fund 10,44%, dan Shinhan Balance Fund 10,07%.

Memasuki tahun 2025, tren positif ini berlanjut dengan IHSG yang naik 13,9% year-to-date hingga September 2025, mencapai level 8.061. Kondisi ini turut mendorong kinerja reksa dana saham, dengan beberapa di antaranya seperti Bahana Icon Syariah Kelas G, Sucorinvest Maxi Fund, TRIM Syariah Saham, Sucorinvest Sustainability Equity Fund, dan Syailendra Equity Opportunity Fund Kelas A, tercatat sebagai reksa dana saham dengan return tertinggi hingga September 2025. Industri reksa dana syariah secara keseluruhan menunjukkan pertumbuhan pesat, dengan Asset Under Management (AUM) melonjak 61,30% secara year-to-date per November 2025, mencapai Rp 81,54 triliun. Salah satu produk, HPAM Tactical Equity, mencetak return 26,2% secara year-to-date hingga Agustus 2025.

Kinerja impresif ini didorong oleh beberapa faktor kunci. Pemilihan saham yang cermat, diversifikasi portofolio yang efektif, dan kemampuan manajer investasi dalam membaca kondisi pasar menjadi penentu utama. Di tingkat makro, pertumbuhan kredit Indonesia yang stabil di angka 10,92% YoY dan keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan pada 6% (November 2024) memberikan sentimen positif. Prospek penurunan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) di Amerika Serikat dan bank sentral global lainnya, yang diikuti oleh potensi penurunan suku bunga domestik, juga diharapkan menarik kembali aliran dana asing ke negara-negara berkembang seperti Indonesia. Selain itu, stimulus seperti bantuan sosial dan belanja pemerintah menjelang pemilihan umum juga dianggap sebagai katalis pendorong.

Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua jenis reksa dana menunjukkan kinerja serupa. Pada tahun 2024, reksa dana pasar uang menjadi unggulan dengan imbal hasil 4,63% secara year-to-date per 30 Desember 2024, diikuti reksa dana pendapatan tetap dengan 3,3% ytd. Sebaliknya, reksa dana campuran mengalami penurunan 1,05% ytd, dan reksa dana saham terkoreksi 8,87% ytd secara keseluruhan pada periode yang sama. Kontradiksi ini menyoroti bahwa meskipun indeks sektoral mungkin lesu, manajer investasi tertentu dengan strategi aktif dan seleksi aset yang tepat tetap mampu mencetak profit.

Melihat ke depan, reksa dana pendapatan tetap diproyeksikan makin prospektif hingga akhir 2025 dengan estimasi yield stabil di kisaran 6,10–6,65%, didorong oleh perbaikan pasar obligasi negara. Direktur PT Insight Investments Management (IIM), Camar Remoa, menjelaskan bahwa penurunan yield obligasi didorong oleh likuiditas pasar yang besar dan ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral global dan domestik. Rudiyanto, Direktur Panin Asset Management (Panin AM), optimistis bahwa penurunan suku bunga AS yang berlanjut pada 2025 akan menjadi sentimen positif bagi pasar modal Indonesia, terutama karena valuasi saham di Indonesia relatif murah, menarik investor lokal dan asing. Meskipun demikian, para ahli mengingatkan bahwa kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan dan investor harus senantiasa memahami profil risiko serta tujuan investasi mereka. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri telah menerbitkan peraturan baru Nomor 33 Tahun 2024 pada 19 Desember 2024, yang efektif mulai 31 Januari 2025, untuk pengembangan dan penguatan pengelolaan investasi di pasar modal, termasuk pengaturan reksa dana dalam hal penerimaan pinjaman dan pembelian saham reksa dana lain.