
Industri makanan hewan peliharaan di Indonesia menunjukkan prospek pertumbuhan yang kuat, didorong oleh peningkatan signifikan dalam kepemilikan hewan kesayangan dan perubahan perilaku konsumen yang memperlakukan hewan sebagai bagian dari keluarga. Pasar ini tercatat mencapai nilai US$237,06 juta pada tahun 2023, melonjak 24,5% dari US$190,38 juta pada tahun sebelumnya, menurut data dari Mintel yang disajikan dalam laporan Global Agricultural Information Network. Proyeksi ke depan semakin optimistis, dengan Mordor Intelligence memperkirakan nilai pasar akan mencapai US$1,76 miliar pada tahun 2030, tumbuh dengan Tingkat Pertumbuhan Tahunan Majemuk (CAGR) sebesar 7,89% selama periode 2025-2030.
Pergeseran dinamika sosial dan ekonomi menjadi fondasi utama pertumbuhan sektor ini. Populasi kelas menengah yang terus berkembang di Indonesia, yang pada tahun 2024 mencapai 66,35% dari total populasi, memungkinkan peningkatan daya beli dan pengeluaran untuk produk perawatan hewan premium. Fenomena "humanisasi hewan peliharaan", di mana pemilik memandang hewan sebagai anggota keluarga, telah mendorong permintaan akan produk makanan berkualitas tinggi, organik, dan fungsional yang disesuaikan dengan kebutuhan kesehatan spesifik. Sebuah survei Jakpat pada tahun 2023 menunjukkan bahwa kesehatan/kesejahteraan hewan peliharaan lebih diutamakan daripada biaya oleh pemilik saat memilih produk.
Kucing mendominasi lanskap kepemilikan hewan peliharaan di Indonesia. Data Rakuten Insight 2021/2022 menunjukkan 47% rumah tangga memiliki kucing, menjadikan Indonesia negara dengan kepemilikan kucing tertinggi di Asia, sebagian karena faktor budaya dan agama. Populasi kucing diestimasikan mencapai 5,1 juta ekor pada tahun 2022 dan diproyeksikan tumbuh menjadi 5,9 juta ekor pada akhir tahun 2026. Segmen makanan kucing menjadi pendorong utama pertumbuhan pasar, mengalami kenaikan sebesar 32,2% pada tahun 2023 dan menguasai 77,5% pangsa pasar makanan hewan secara keseluruhan. Sementara itu, kepemilikan anjing lebih rendah, sekitar 10% rumah tangga Indonesia, meskipun pasar makanannya juga menunjukkan pertumbuhan.
Meskipun potensi pasar domestik cerah, industri ini menghadapi tantangan signifikan, terutama dominasi produk impor. Pada tahun 2021, sekitar 60-95% kebutuhan pakan hewan di Indonesia dipenuhi melalui impor, dengan Thailand, Cina, Prancis, dan Australia sebagai pemasok utama. Indonesia tercatat sebagai importir pet food terbesar di ASEAN setelah Malaysia dan Filipina. Neraca perdagangan Indonesia di sektor ini masih defisit sebesar US$178 juta pada tahun 2022. Hal ini menciptakan peluang bagi penguatan agroindustri pet food nasional.
Pemain pasar global seperti Charoen Pokphand dan Mars Inc. menguasai sekitar 50% dari total nilai pasar pada tahun 2023, melalui merek-merek seperti Me-O, Cat Choize, Dog Choize, Pedigree, Royal Canin, Whiskas, dan Sheba. Namun, pemain lokal juga aktif berinvestasi. PT Nutricell Pacific menginvestasikan sekitar Rp 60 miliar untuk sarana produksi nutrisi dan kesehatan hewan di Kawasan Industri PIER Pasuruan pada tahun 2022. PT Centralwindu Sejati (CPPETINDO), anak usaha PT Central Proteina Prima Tbk, optimistis terhadap prospek cerah industri ini dan berencana membangun pabrik kedua di Jawa Tengah yang diharapkan beroperasi pada tahun 2027. CEO CPPETINDO, Paulius Juta, menekankan pentingnya inovasi produk untuk mempertahankan pangsa pasar.
Sektor e-commerce juga memainkan peran krusial dalam distribusi. Pembelian produk perawatan hewan melalui platform daring melonjak dari 4% pada 2018 menjadi 27% pada 2023. Saluran online diproyeksikan menjadi yang tercepat pertumbuhannya dengan CAGR 9,40% hingga tahun 2030. Ini menunjukkan perubahan signifikan dalam kebiasaan belanja konsumen yang mencari kemudahan dan efisiensi.
Ke depan, inovasi produk yang menyasar kebutuhan spesifik seperti makanan organik, hipoalergenik, atau formulasi kesehatan, serta makanan halal, akan menjadi kunci bagi pelaku industri. Deny Mulyono, Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Ternak (GPMT), pada konferensi ENISTAN 2024, menggarisbawahi industri pet food sebagai salah satu yang menjanjikan di masa depan untuk Indonesia. Meskipun pasar pet food masih menghadapi sensitivitas harga, terutama di daerah pedesaan, peningkatan pendapatan rumah tangga di perkotaan mendorong pengeluaran rata-rata bulanan untuk nutrisi hewan mencapai sekitar Rp300.000 (US$20) di Jakarta. Konsumen, khususnya generasi milenial, semakin mengintegrasikan hewan peliharaan sebagai bagian dari gaya hidup, mendorong permintaan akan layanan dan produk premium yang lebih personal. Dukungan pemerintah melalui kolaborasi dengan GPMT untuk menjaga stabilitas harga pakan ternak, seperti yang ditekankan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, pada Agustus 2025, juga akan berkontribusi pada iklim bisnis yang kondusif.