Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Membongkar Pola Siklus Bitcoin: Mengapa Koreksi 30% Justru Wajar

2025-12-05 | 10:18 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-05T03:18:34Z
Ruang Iklan

Membongkar Pola Siklus Bitcoin: Mengapa Koreksi 30% Justru Wajar

Penurunan hampir 30 persen pada harga Bitcoin, yang mungkin menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor baru, sejatinya merupakan bagian dari pola historis yang berulang dalam siklus pasar aset kripto terbesar ini. Pergerakan harga ekstrem seperti ini, menurut para analis, seringkali mendahului reli baru dan dianggap sebagai koreksi yang normal.

Pada tanggal 5 Desember 2025, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$92.345 per koin setelah sempat merosot ke kisaran US$80.000 pada akhir bulan sebelumnya. Penurunan tersebut mencapai sekitar 36 persen dari rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) di US$126.000 yang dicapai pada awal Oktober. Namun, pada Kamis (4/12/2025), harga Bitcoin masih berada di atas US$93.000, sekitar 26 persen di bawah puncaknya.

Volatilitas adalah karakteristik yang melekat pada Bitcoin. Aset kripto ini dikenal bergerak dalam "siklus" empat tahunan yang berpusat pada peristiwa halving, yaitu pemotongan imbalan penambangan yang berdampak pada suplai koin baru. Siklus pasar Bitcoin ini ditandai oleh periode apresiasi dan depresiasi nilai yang berulang, sangat dipengaruhi oleh sentimen investor, kondisi ekonomi global, regulasi, dan inovasi teknologi.

Secara historis, koreksi harga yang signifikan bukanlah hal yang baru bagi Bitcoin. Dalam siklus saat ini saja, Bitcoin telah mengalami koreksi sebesar 32,7 persen antara Maret dan Agustus 2024, serta penurunan 31,7 persen dari Januari hingga April 2025. Jacob Joseph, seorang Analis Riset Senior di CoinDesk, menyatakan bahwa volatilitas sebesar ini konsisten dengan tren jangka panjang Bitcoin. Siklus harga sebelumnya menunjukkan pola serupa, misalnya pada tahun 2017, terjadi dua kali penurunan sekitar 40 persen, diikuti koreksi 29 persen sebelum Bitcoin melanjutkan kenaikannya.

Analis pasar kripto TechDev juga merilis riset yang menunjukkan bahwa dua indikator jangka panjang mampu memetakan seluruh siklus harga Bitcoin selama 16 tahun, secara konsisten menandai momen penting seperti awal bull run, puncak siklus, dan dasar bear market. Pola ini berulang pada siklus besar Bitcoin di tahun 2013, 2017, dan 2021.

Meskipun demikian, ada pandangan yang mulai menantang tesis siklus empat tahunan ini. Grayscale Research memperkirakan bahwa Bitcoin berpotensi menembus rekor harga tertingginya pada tahun 2026, sekaligus menepis kekhawatiran bahwa pasar sedang memasuki fase penurunan jangka panjang. Grayscale berargumen bahwa pola harga dan struktur pasar Bitcoin saat ini berbeda dari siklus sebelumnya, dengan modal baru yang sebagian besar masuk melalui Exchange-Traded Product (ETP) dan cadangan aset digital, bukan aktivitas ritel. Analis lain seperti Poppe juga menilai bahwa mengharapkan Bitcoin mengikuti pola waktu tetap setiap empat tahun adalah pendekatan yang semakin tidak realistis di era adopsi masif.

Faktor lain yang mempengaruhi penurunan saat ini termasuk tekanan jual dari pemegang jangka pendek dan arus keluar besar dari dana investasi Bitcoin (ETF). Menurut Bitfinex, dalam satu minggu, dana yang keluar mencapai US$920 juta, menunjukkan bahwa investor institusional belum kembali sepenuhnya untuk menahan tekanan jual.

Namun, terlepas dari perdebatan mengenai relevansi siklus empat tahunan, koreksi 25 persen atau lebih dikatakan lazim terjadi dalam fase pasar bullish dan tidak secara otomatis menandakan awal tren turun berkepanjangan. Vice President Indodax Antony Kusuma juga berpendapat bahwa penurunan ini adalah proses normal dan sehat di tengah uptrend yang sedang terjadi, di mana pasar membersihkan posisi overleveraged.

Dengan demikian, meskipun penurunan hampir 30 persen terasa drastis, volatilitas ini dianggap sebagai bagian intrinsik dari pasar Bitcoin. Investor disarankan untuk memahami pola siklus ini dan menjaga visi jangka panjang, karena momen-momen koreksi seringkali menjadi peluang akumulasi sebelum potensi kenaikan harga berikutnya.