:strip_icc()/kly-media-production/medias/3913280/original/009736000_1643034734-24_januari_2022-4.jpg)
Raksasa manajer investasi global, Vanguard Group, kembali mengguncang Wall Street dengan pandangan skeptisnya terhadap Bitcoin (BTC), menyamakannya dengan "Labubu digital". Pernyataan ini disampaikan oleh John Ameriks, Kepala Global Ekuitas Kuantitatif Vanguard Group, dalam konferensi "ETFs in Depth" Bloomberg di New York pekan ini.
Ameriks menjelaskan bahwa Vanguard kesulitan untuk melihat Bitcoin sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar mainan mewah viral yang dapat dikoleksi. Menurutnya, aset kripto terbesar ini tidak memiliki karakteristik pendapatan, penggabungan, dan arus kas yang dicari perusahaan dalam investasi jangka panjang. Ia menambahkan bahwa belum ada bukti jelas bahwa teknologi blockchain yang mendasarinya memberikan nilai ekonomi yang berkelanjutan. Analogi dengan "Labubu digital" merujuk pada mainan koleksi populer yang nilainya sebagian besar didorong oleh 'hype' daripada utilitas intrinsik, sebuah cerminan kritik awal terhadap Bitcoin.
Pandangan ini muncul di tengah ironi bahwa Vanguard, yang mengelola aset sekitar USD 12 triliun, baru-baru ini telah membuka platform perdagangannya untuk dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) Bitcoin. Langkah ini memungkinkan klien untuk membeli dan menjual produk terkait kripto tertentu, termasuk ETF yang memegang Bitcoin, Ethereum, XRP, dan Solana. Ameriks menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah terbentuknya rekam jejak perdagangan setelah peluncuran ETF Bitcoin spot AS pada Januari 2024.
Meskipun demikian, Vanguard menegaskan tidak berencana meluncurkan ETF yang berfokus pada kripto sendiri dan tidak akan memberikan panduan mengenai pembelian atau penjualan aset digital. Klien yang ingin berinvestasi dalam ETF Bitcoin melakukannya atas kebijakan dan risiko mereka sendiri. Ameriks mengakui ada skenario terbatas di mana Bitcoin dapat menunjukkan nilai non-spekulatif, seperti selama periode inflasi tinggi atau ketidakstabilan politik. Namun, ia menekankan bahwa tesis investasi yang lebih jelas akan membutuhkan perilaku harga yang konsisten dalam kondisi tersebut, sesuatu yang belum ditunjukkan oleh sejarah singkat Bitcoin.
Di sisi lain, pasar kripto terus menunjukkan dinamika yang kuat. Harga Bitcoin sempat menyentuh rekor tertinggi di atas USD 118.000 pada Juli 2025 dan baru-baru ini diperdagangkan di sekitar USD 90.000. Kapitalisasi pasarnya yang terus meningkat telah mendorongnya menjadi salah satu aset paling berharga di dunia, bahkan melampaui raksasa teknologi. Perusahaan manajemen aset lainnya seperti BlackRock dan Fidelity telah lebih aktif merangkul Bitcoin, dengan BlackRock bahkan menyebutnya sebagai "emas digital" dan aset alternatif yang sah, serta mengembangkan teknologi tokenisasi untuk berbagai aset. ETF Bitcoin BlackRock telah menjadi salah satu dana kripto terbesar di dunia. Demikian pula, Fidelity Digital Assets telah berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan blockchain sejak 2014, menawarkan layanan kustodian dan perdagangan institusional, serta memungkinkan investor ritel untuk berinvestasi dalam kripto melalui platform mereka.
Perdebatan mengenai nilai intrinsik dan masa depan Bitcoin di kalangan institusi keuangan tradisional masih terus berlanjut, meskipun akses ke produk investasi kripto semakin meluas.