:strip_icc()/kly-media-production/medias/5028254/original/041675300_1732871304-fotor-ai-2024112916726.jpg)
Di tengah gejolak pasar komoditas yang menyaksikan lonjakan harga perak yang luar biasa, investor kawakan Robert Kiyosaki tetap teguh pada keyakinannya terhadap Bitcoin. Sementara perak mencatatkan kinerja fenomenal di sepanjang tahun 2025 dengan kenaikan mendekati 170%, penulis buku "Rich Dad Poor Dad" ini terus mendorong akumulasi aset kripto terkemuka tersebut, memprediksi masa depan yang cerah meskipun Bitcoin sendiri menunjukkan volatilitas tinggi.
Harga perak, komoditas yang kerap dijuluki "emasnya masyarakat miskin", telah melonjak dramatis sepanjang tahun 2025. Pada akhir Desember, harga perak spot melampaui US$77 per ons dan bahkan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa mendekati US$79,70 per ons. Secara year-to-date (YtD), perak telah membukukan kenaikan signifikan sekitar 167%, atau bahkan 169,63% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sejak akhir Desember 2020, nilai perak telah melonjak sekitar 200%, bergerak dari sekitar US$26 per ons ke level tertinggi saat ini. Lonjakan ini didorong oleh kombinasi "badai sempurna" antara defisit pasokan global yang berkelanjutan selama lima tahun berturut-turut, lonjakan permintaan industri dari sektor energi terbarukan seperti panel surya dan kendaraan listrik, serta kebutuhan teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI) dan pusat data. Status perak sebagai mineral kritis di Amerika Serikat juga turut menopang harganya. Lebih lanjut, ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) di akhir tahun 2025 dan berlanjut di tahun 2026, pelemahan dolar AS, serta meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran inflasi telah memperkuat daya tarik perak sebagai aset lindung nilai tradisional. Peter Grant, Wakil Presiden dan Senior Metals Strategist di Zaner Metals, menyatakan bahwa ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed dan ketegangan geopolitik mendorong volatilitas di pasar logam mulia.
Di sisi lain, Robert Kiyosaki tetap menjadi pendukung vokal Bitcoin, bahkan di tengah reli perak yang perkasa. Kiyosaki, yang dikenal dengan kritik tajamnya terhadap sistem mata uang fiat dan bank sentral, secara konsisten menyerukan untuk membeli lebih banyak Bitcoin dan tidak menjualnya. Ia memprediksi bahwa Bitcoin dapat mencapai US$250.000 pada akhir tahun 2025 atau tahun 2026, atau bahkan US$200.000 di tahun 2025. Kiyosaki berargumen bahwa sistem Bank Sentral Marxis sedang runtuh, mendorong investor untuk beralih ke aset "nyata" seperti emas, perak, dan Bitcoin untuk melindungi diri dari apa yang ia sebut "uang palsu" dan inflasi yang merajalela. Menariknya, pada Oktober 2025, Kiyosaki mengungkapkan bahwa ia menukarkan peraknya untuk membeli lebih banyak Bitcoin, meskipun ia juga tercatat membeli perak setelah pemotongan suku bunga terbaru dari The Fed. Ia juga memperingatkan investor untuk menghindari ETF Bitcoin dan memilih kepemilikan langsung. Selain Bitcoin, Kiyosaki juga telah mulai mengakumulasi Ethereum (ETH), mematok target US$60.000 untuk aset tersebut dan melihat potensi kenaikan yang lebih besar dibandingkan Bitcoin dalam jangka panjang.
Kontras dengan lonjakan perak, Bitcoin mengalami koreksi signifikan menjelang akhir tahun 2025. Setelah mencapai rekor di atas US$126.000 pada Oktober 2025, harga Bitcoin kemudian terkoreksi tajam, jatuh di bawah US$100.000 dan sempat menyentuh US$80.000, sebelum diperdagangkan di kisaran US$87.436 pada akhir Desember 2025. Kapitalisasi pasar kripto global yang sempat mencetak rekor US$4,28 triliun pada Oktober 2025, kini telah terkoreksi menjadi sekitar US$3,0 triliun. Analis dari Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai koreksi ini menandai perubahan sentimen pasar yang drastis, namun sekaligus membentuk fondasi baru bagi siklus berikutnya, meski fase pemulihan kemungkinan akan lebih panjang. Beberapa lembaga keuangan global telah merilis proyeksi harga Bitcoin untuk tahun 2026, dengan J.P. Morgan memperkirakan potensi kenaikan hingga US$170.000, sementara Fundstrat memproyeksikan US$200.000 hingga US$250.000. Standard Chartered, di sisi lain, menurunkan estimasinya ke level US$150.000. Perlu dicatat, perak telah mengungguli Bitcoin sebagai aset berkinerja terbaik di tahun 2025, dengan rasio Bitcoin-to-silver anjlok 58% sejak awal tahun.
Kinerja kontras antara perak dan Bitcoin pada tahun 2025 menyoroti dinamika pasar yang kompleks di tengah ketidakpastian ekonomi global. Perak, dengan peran gandanya sebagai logam industri strategis dan aset lindung nilai, mendapatkan keuntungan dari defisit pasokan dan permintaan industri yang melonjak, serta kebijakan moneter yang berpotensi melonggar. Sementara itu, Bitcoin terus menarik investor yang mencari alternatif di luar sistem keuangan tradisional, meskipun menghadapi tantangan volatilitas dan koreksi pasar. Dengan Federal Reserve yang memulai siklus pemangkasan suku bunga dan ketegangan geopolitik yang berlanjut, peran aset lindung nilai tradisional dan digital akan terus menjadi perhatian utama investor di tahun-tahun mendatang.