:strip_icc()/kly-media-production/medias/4883223/original/030233500_1720093649-20240704-IHSG-ANG_5.jpg)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan posisinya di atas level 8.700 pada perdagangan Kamis, 11 Desember 2025. Sepanjang hari ini, IHSG ditutup melemah signifikan, anjlok 80,443 poin atau setara 0,92 persen ke level 8.620. Indeks bahkan sempat menyentuh level terendah 8.560. Kondisi ini berbalik arah drastis dari pembukaan pagi yang sempat menguat ke 8.764, setelah pada penutupan Rabu (10/12) IHSG menguat 0,51% di level 8.700,92.
Sejumlah analis menyoroti beberapa faktor yang menjadi pemicu koreksi IHSG hari ini. Salah satu sentimen terbesar datang dari keputusan The Federal Reserve (The Fed) yang memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) ke level 3,50–3,75%. Meskipun pemangkasan ini merupakan yang ketiga kalinya sepanjang tahun 2025 dan dapat menjadi sinyal positif jangka panjang bagi aliran dana asing, reaksi pasar jangka pendek cenderung menekan indeks.
Tekanan jual investor juga sangat terasa pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps). Saham empat bank besar, yakni BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, kompak melemah antara 1% hingga 2%. Penurunan ini turut diikuti oleh saham TLKM, ASII, dan MORA yang memberikan kontribusi negatif signifikan terhadap indeks. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih sebesar Rp126 miliar pada perdagangan kemarin (10/12), dan sebelumnya Rp278,61 miliar.
Sentimen global yang kurang kondusif, seperti hasil mengecewakan dari Oracle serta suasana "risk-off" di pasar Asia, juga turut menyeret sentimen domestik. Ketegangan geopolitik atau penurunan kinerja ekonomi di negara-negara besar seringkali membuat investor khawatir dan menarik dananya dari pasar saham.
Secara teknikal, Analis Equity Research Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyebutkan bahwa meskipun histogram MACD masih di area positif, terjadi Death Cross pada Stochastic RSI yang didukung oleh peningkatan volume jual. Ini mengindikasikan tekanan jual yang lebih dominan.
Menanggapi pergerakan IHSG, analis memberikan pandangan beragam. Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG akan "menggalau" di kisaran 8.625-8.750 pada perdagangan Kamis (11/12/2025), dengan level resistance di 8.750, pivot di 8.700, dan support di 8.600. Sementara itu, Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, sebelumnya memproyeksikan IHSG rawan terkoreksi dan dapat menguji area 8.447–8.562.
Di sisi lain, Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Tasrul Tanar, menyoroti resiliensi IHSG di tengah konsolidasi. Ia menyatakan bias positif masih terjaga selama area kritikal 8.573 tidak ditembus. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, sempat memperkirakan IHSG berpotensi rebound pada hari ini dengan support di 8.650-8.670 dan resistance di 8.720-8.750. Namun, skenario tersebut tidak terwujud sepenuhnya.
Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp15.855 triliun dengan frekuensi sebanyak 3.601.238 kali pada penutupan perdagangan. Sebanyak 500 saham melemah, 201 saham menguat, dan 98 saham stagnan. Ke depan, investor perlu mencermati perkembangan sentimen global, terutama data makroekonomi, serta posisi saham-saham big caps yang masih menjadi penentu arah pergerakan IHSG. Area support 8.500 disebut sebagai level penting yang perlu dicermati.